This is life! - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, December 18, 2014

This is life!

Ada saatnya kita justru tak boleh apa-apa. Seperti terkurung dalam ruang kedap udara, bahkan bicara saja akan menghabiskan jatah udara lebih cepat habis. Bukankah terkadang bicara hanya menambah kerumitan, ketika berada di tengah-tengah kemarahan?

"Gimana ya, suami mba lagi susah diajak kerja sama. Kalo ada sedikit kesalahan, semua ucapan keluar – kasar, marah. Tapi kalo dirinya sendiri salah, tak mau disalahkan, bahkan tak mau mendengar komentar apalagi saran. Kalo minta kebutuhan, harus dilayani. Mba takut dosa kalo menolak itu, "

Aku mendengarkan dengan setengah sabar.

"Di rumah suami nggak ada kerjaan, jadi mba agak susah cari kesibukan. Mau baca buku, semua buku kamu kan di rumah ibu. Tiap jalan-jalan, kadang aku mau beli buku atau majalah, tapi suami menolak. Belinya malah baju, atau barang lain semacamnya. Kalo minta maunya dituruti, tapi kalo mba minta, jarang sekali dikabulkan, "

Ia mengerti tak mungkin marah atau protes. Dengan sangat menyesal, ya, ya, laki-laki itu 2-3 kali membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dewasa daripada seorang perempuan. Tentu saja, selalu ada pengecualian. Dalam kasus ini, dia tak bisa protes, emm, tak enaknya hidup di tengah-tengah orang kampung, kita di kelilingi manusia-manusia berpikiran/berjiwa kerdil. Dia tak bisa protes, karena alasan sepele, dia menikah dengan suami yang berumur 4 tahun lebih muda. Dia berumur 29 tahun. Jika sedikit saja emosi, jiwa kerdil seorang lelaki muda pun sangat mungkin akan keluar, "Kalo nggak terima, cari laki-laki lain saja, " dan itu akan sangat menyakitkan.

Aku memang seorang pria, mungkin juga jiwaku kerdil. Tapi tak akan ku lakukan seperti itu pada istriku kelak. Aku selalu punya cara.

Rasanya susah memahamkan pada para istri, bahwa mereka boleh melawan suaminya. Umar bin Khottob pernah dimarahi istrinya habis-habisan, sampai seorang sahabat nyaris tak jadi main ke rumahnya. Bahkan rasulullah, dengan beberapa istrinya sering berdebat, beberapa ada yang sampai malam emosi mereka berdua belum mereda. Bukan berarti kisah-kisah yang disembunyikan para ulama pria ini merendahkan rasulullah. Justru sebaliknya, ini membuktikan bahwa ada saat-saat tertentu ketika rasulullah menjadi manusia biasa. Di sanalah ketepatan musyawarah, dialog dewasa, logis, tanpa membawa-bawa amarah/emosi.

Kemarin aku berkumpul dengan dua teman SMA. Kumpul di Angkringan Jahe Susu, bicara banyak hal. Hanya satu orang yang sudah menikah di antara kami bertiga. Dan dia banyak cerita tentang berkeluarga, khususnya komunikasi dengan istri.

"Sering benar, aku pengin keluar dari rumah itu. nggak enaknya menumpang di mertua tuh begitu. Nggak boleh salah sedikit, mesti perfect. Ada adik istri yang manjanya minta ampun. Sudah mahasiswa tapi cuci baju saja nggak mau, padahal ada mesin cuci. Mau jadi istri macam apa dia nanti. Minta henpon, minta laptop, minta duit jutaan buat foya-foya sama teman-temannya. Kalo dinasehati, eh, malah aku sama istri yang dimarahin. Aku sih penginnya istri kerja di rumah, bikin karya tangan apa gitu. Biar aku saja yang kerja, kasian anak, masih kecil. buktinya kan, anak ngambek sedikit saja dia marah. Bukan karena tak bisa diatur, tapi karena memang chemistry antara ibu dan anak terasa kering, lemah. Kadang istri belanja apa, aku minta buat hemat, dia malah jawab duit sendiri, mau dipake buat apa juga terserah dia. Kalo diminta berhenti kerja, pasti di rumah ribut terus, karena penghasilanku nggak tetap, "

Kami berdua mendengarkan.

Malam ini hujan. Rumah ini kebanjiran. Bukan, bukan kebanjiran dari luar, tapi dari dalam. Rumah ini sudah cukup tua, bukan bocor atapnya, tapi memang kehujanan, di ruang tengah. Sejenak aku merenung, rumah ini mungkin seperti jiwa kekeluargaan kami. Di luar nampak kokoh, besar, tapi di dalamnya rapuh. Masih ada beberapa sudut yang mudah bocor, lemah, seperti beberapa anggota keluarga yang... ya, mungkin rapuh. Kita memang tak selalu kuat, bukan? Ada saat-saat tertentu yang memang bisa membuat kita lemah, rapuh. Tapi, apapun yang terjadi. Tak mungkin kita membiarkan itu mengalahkan kita. Tapi, demikianlah hidup – mengapa mengeluh?

"Kalo renovasi nyampe berapa, Ma? " tanyaku.

"Hehe, rumah tua begini, paling nggak hitungan 50 – juta, "

Fyuuuhh.... renovasi atap saja sampai 50? 


*Ditulis di kamar, salah satu ruang yang tak bocor di rumah ini.

No comments:

Post a Comment