What i have to do? - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, January 30, 2015

What i have to do?


Jika aku terus hidup dengan karakter yang seperti ini, dalam pemahamanku saat ini ada tiga kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, aku akan mati muda. Kedua, aku akan sakit jiwa / hilang kewarasan. Ketiga, jika Tuhan memberiku umur panjang, suatu saat akan datang waktu ketika aku benar-benar dimusuhi banyak orang. Bukan karena jabatan atau kekayaan, tapi karena aku melawan dogma – keyakinan kolot – masyarakat, dan melawan pemikiran mapan yang masyarakat pahami selama ini.

Tadi pagi orangtua siswa datang, mereka suami istri, ke kantor ruanganku. Anaknya, yang pindahan dari sekolah tetangga, semakin tak terkendali. Melawan pada mereka, berani berbicara jorok dan tak sopan. Semua orang sudah angkat tangan untuk mengurusi anak tersebut. Jangankan belajar ilmu umum / mengaji, mendekati anak tetangga saja dia tak boleh. Di pemahaman para tetangganya, dia anak yang membawa sial, emm... atau semacam kutukan.

Saat umur lima tahun, dia kecelakaan. Kata dokter, ada gangguan di kepalanya. Selain karena fatwa dokter tersebut, si anak dianggap sebagai cobaan untuk orangtua tersebut karena dulu bapaknya bermain klenik.
Paling tidak, ada tiga siswa pindahan yang memiliki kasus hampir sama. Dua anak di kelas 4, satu anak di kelas tiga. Mereka dianggap kemasukan jin, diguna-guna, bahkan ingin dirukyah – dua anak di antaranya sudah dirukyah. Tapi, pengobatan apapun, termasuk rukyah, sama saja tak bisa menyembuhkan watak ketiga anak tersebut. Mungkin orang akan berkata, hebat benar jin yang berada dalam diri anak itu?

Tapi, aku tak sepakat dengan mereka. Perkembangan otak manusia akan tumbuh pesat paling tidak sampai usia 25 tahun. Tiga anak tersebut, dua anak setelah pindah sekolah ke kami, mereka berangsur pulih. Dengan metode pendidikan yang kami, aku, buat di sekolah itu. Tentu, ini semua berkah Tuhan. Bisa apa aku tanpa kehendak-Nya. Dua anak yang berangsur sembuh itu, orangtuanya aku sarankan untuk melakukan metode penyembuhan jiwa yang aku buat. Bukan doa atau dzikir, melainkan kepedulian dalam sehari-hari. Setiap Sabtu sore, sekolah kami mengadakan pengajian orangtua siswa dan guru. Di sana, aku pahamkan bagaimana mendidik anak yang seharusnya, tentu, secara perlahan. Aku sadar, itu tindakan yang munafik. Aku sendiri belum memiliki anak, tapi sudah menceramahi ibu-ibu bagaimana mendidik anak yang baik. Konyol sekali.

Salah satu guru kami, tetangga orangtua yang datang itu. Beliau banyak cerita, tentang watak keras orangtua tersebut. Kata para guru,  itu mungkin menurun pada anaknya. Sangat mungkin, bukan karena menurun secara genetis atau pengaruh  jin, melainkan, anak kecil itu ibarat mesin foto kopi. Apa yang dilihat, didengar, dirasakan, akan cepat terrekam. Berbeda dengan orangtua yang lebih banyak mengeluarkan gelombang otak Beta – teori gelombang otak, anak kecil mengeluarkan gelombang Alfa, gelombang otak yang menjadikan mereka cepat menyerap pengetahuan apapun di sekitarnya.

Anak orangtua itu tak bisa menulis, membaca, menghitung, sekalipun usianya sudah 12 tahun. Tak mau membantu pekerjaan orangtua, suka memaksa kalau meminta uang, jika tak dituruti akan mengamuk dan berbicara kotor / kasar ke orangtuanya. Mudah mengeluh, hidup seenaknya sendiri, mudah dendam, tak mau mengerjakan PR, dan sifat negatif semacamnya. Orangtua itu sebenarnya merasakan perubahan yang sangat drastis dari saat dia di sekolah tetangga, dengan saat di sekolah kami. Tapi, lama kelamaan dia memberontak di kelas. Tak mau mengerjakan PR, tak mau dihukum, menolak diberikan tanggung jawab, sampai teman-teman sekelasnya jenuh dan mengasingkan dia. Bagaimana dia bisa mengimbangi belajar teman-temannya yang kelas 4 itu, sedang mengenal huruf saja dia tak bisa? Menghitung, menulis, bahkan membedakan satu jari dengan empat jari saja dia tak bisa, bagimana dia tak memberontak?

Mungkin memang sudah takdirnya, aku akan menerima bagian cuci piring, mendapatkan tugas yang susah-susah, anak itu belajar privat di ruanganku. Aku sediakan minuman, makanan ringan, istirahat tiap 15 menit belajar. Para guru tak ada yang memiliki basic psikologis yang cukup, untuk mengenali berbagai kasus perkembangan jiwa anak. Dan tak mungkin aku sebagai kepala, sekali bicara untuk memahamkan seperti apa ilmu psikologi itu. Seringkali aku bingung, mengapa Tuhan menempatkan aku yang masih muda ini untuk memahamkan orang-orang yang lebih dewasa? Mengapa aku harus merasa pantas menuntun mereka?
Ke depan, tugasku bertambah. Menyelesaikan tugas administratif sebagai kepala, menghadiri rapat-rapat, mengajar di SMK, mencari dana bantuan, membina guru, memahamkan masyarakat, juga mendidik privat anak itu.

Sebelum pulang, ibu anak itu bercerita tentang kakakku yang menyarankannya membaca dzikir tertentu dengan jumlah tertentu agar anaknya membaik. Tentu, aku agak kaget. Aku termasuk orang yang tak percaya dzikir mampu menyelesaikan segala masalah, terlebih lagi dengan dzikir tertentu dengan jumlah tertentu yang tak ada sunnahnya. Aku orang yang percaya dengan spiritualitas, tapi aku juga senang dengan ilmu pengetahuan. Dzikir dan doa hanya untuk orang-orang beriman lemah. Ada satu hadits yang mengatakan : Ubahlah keburukan dengan tindakan, jika tak mampu ubahlah dengan ucapan, jika tak mampu ubahlah dengan doa dan itulah selemah-lemahnya iman. Bagiku, di sana tersembunyi apa yang sebenarnya ingin disampaikan sang rasul, bahwa dzikir dan doa itu upaya awal dan akhir, sedang di tengah-tengahnya adalah segala upaya yang kita lakukan berdasarkan ilmu/pemahaman akal sehat.

Dzikir atau doa tertentu dengan jumlah tertentu, dalam dunia keagamaan disebut ilmu hikmah. Paling tidak, ada dua tokoh yang tercatat memiliki hikmah. Lukman Al Hakim, yang namanya diabadikan dalam qur’an, dan Ibn Abbas, anak paman rasulullah. Tapi, mereka, khususnya Ibn Abbas, mendapatkan hikmah dengan cara menuntut ilmu secara konsisten. Ia mendatangi semua ulama di jamannya, selain karena doa rasul, untuk menyerap semua ilmu mereka. Bahkan, ada sahabat yang kewalahan dengan lapar dan hausnya beliau pada ilmu dan pemahaman. Dia pernah tidur di depan rumah seorang ulama, karena saat ia kesana ia melihat ulama itu sedang tertidur, dan tak mau mengganggu tidurnya. Ulama itu sampai malu sendiri, Ibn Abbas keponakan rasul, kok sampai begitu. Toh, Ibn Abbas tak memberi doa atau dzikir tertentu dengan jumlah tertentu untuk menyelesaikan semua masalahnya. Beliau mengajarkan Fiqh, tafsir, Qiyas, tanya jawab ilmu-ilmu yang mencerahkan dan mencerdaskan setiap orang yang menemuinya. Wawasan ilmu dan pemahamannya sangat luas dan beragam. Yang pada intinya, Hikmah adalah kehendak Tuhan. Seseorang tak bisa mendapatkannya sekalipun berusaha sekuat tenaga. Hikmah layaknya hidayah untuk mereka yang tersesat. Itu tak dicari, tapi diberi, ketika memang telah siap. Tapi, tentu saja, aku tak bisa memastikan, barangkali memang Tuhan berkehendak memberikan Hikmah-Nya pada seseorang, sekalipun tak setangguh Ibn Abbas.

Ada anak-anak yang harus aku buatkan sistem, agar mereka tak menjadi sebodoh para pendahulunya. Ada guru-guru yang harus aku sampaikan pemahaman yang ada di kepalaku, meski sebenarnya aku lebih senang diam – seringkali aku dipaksa menyampaikan apa yang sebenarnya tak ingin ku katakan. Ada masyarakat yang harus aku bersihkan pemahamannya, dengan resiko pertempuran keyakinan dan pemikiran. Anak muda dengan isi kepala sepertiku ini, ada tiga kemungkinan di masa depan. Pertama, mati muda. Karena tak tahan dengan apa yang terjadi, lalu memilih menyerah dan tak mau bertempur mengubah itu. Kedua, gila. Putus asa melihat kenyataan yang tak seperti apa yang dipahami, lalu memilih lari dari pertempuran, tapi juga tak mau mati dulu. Ketiga, jika aku berumur panjang, aku akan menjadi orang yang paling banyak memanen hinaan, ejekan, fitnah, dari masyarakat yang menganggap aku belagu, sok tahu, gila atau sesat.


Tapi, sekuat apapun seseorang berlari, ia tak akan lolos dari takdirnya, bukan? What i have to do? Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment