Si Bibir Sumbing - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, February 20, 2015

Si Bibir Sumbing

Akan Ayah buktikan, meskipun bibir kamu tak sempurna, kamu bisa menikah dengan wanita yang lebih cantik dari ibu. Dan mendapat pekerjaan yang lebih keren dari pekerjaan ayah.

M. Jon, ayahnya memberi nama. Ia dilahirkan dalam keadaan bibir yang tak sempurna. Saat Ibu Bidan mengeluarkannya dari rahim ibunya, ia menyarankan untuk mengikuti program operasi bibir sumbing. Orangtua Jon hanya perlu menandatangani berkas-berkas, yang nantinya akan dicairkan uang warga miskin dari pemerintah kota.

“Kalau umur 6 tahun, masih telat ndak, Bi, buat anak saya?” tanya ayah Jon. Ia bekerja sebagai supir truk sampah dinas kebersihan kota. Meski tak terpelajar, ayah Jon cukup terdidik, terutama dari kehidupan masa mudanya.

“Kok nunggu umur 6 tahun? Sekarang-sekarang saja, biar sekalian. Nanti saya bantu administrasinya,” kata bu bidan.

“Saya pengin nanya dulu, bi, sama anaknya. Dia mau dioperasi atau ndak,”

Bu bidan menghela nafas panjang.

Koe iki dasar bandel. Yo wes, terserah.” Ucap bu bidan lagi. Ia adalah bibi dari ayah Jon. “Pokoknya nanti tinggal bilang saja ya, kalau sudah siap di usia 6 tahun?” bu bidan menggelengkan kepalanya. Tangannya mencatat apa saja resep yang mesti dibeli untuk istrinya.

Jon tumbuh normal, hanya bibirnya saja yang memang tak normal dari bayi. Tapi, itu tak menghentikan dia untuk jadi anak yang gesit, bandel seperti ayahnya, dan, meski sering pulang murung, dia cepat riang kembali. Terkadang ia pulang dengan wajah sedih. Satu saat tak dibolehkan main ke rumah teman perempuan seperti teman laki-laki lainnya. Katanya, anak yang bibirnya sumbing itu tukang mengintip orang mandi. Ibunya tertawa saat diceritakan kisahnya ini. terkadang juga, karena mendapat ejekan dari kakak kelas, atau anak-anak dari sekolah lain yang kebetulan bertemu saat pulang.

“Tuh, Yah, kasih wejangan. Habis sudah nasehat ibu buat Jon. Ada saja yang bikin dia sedih,” kata ibunya di suatu sore.

“Sini, sini, kenapa lagi sih?” ayah Jon bersantai di teras rumah, sedang ibunya menyapu halaman.

“Tadi siang, si Roni bilang anak sumbing itu waktu lahir diludahin setan,” ucap Jon pelan. Tangannya bermain pelapah pisang.

“Hahaha,” ayah Jon tergelak. Jon sudah terbiasa dengan tawa ayahnya. Ia tak tersinggung, karena biasanya setelah itu ada kata-kata keren yang keluar. “Gimana buktiinnya ditubuh kamu ada ludah setan? Wong waktu lahir tubuh kamu berlumuran darah kok,”

“Darah itu bukan ludahnya setan, Yah?”

“Hahaha,” ayah Jon tertawa lagi. Bukan apa-apa, karena sambil melirik ibunya yang sedang menyapu, ibu Jon melempar kulit pisang ke arah ayah Jon. “Kalau darah itu ludahnya setan, tuh, yang lagi nyapu setannya, setan yang sangat cantik,”

Jon tersenyum. Sedang ibunya tersipu malu.

“Kamu kan sudah yakin, ndak mau operasi waktu mau sekolah SD,” sambung ayah Jon.

“Iya. Tapi kan ayah belum buktiin ucapan ayah,”  Jon menanggapi.

“Lha ya nanti toh, kamu kan baru kelas lima SD,” kata Ayah. “Ke depannya, seperti kata ayah dulu, kamu akan mengalami kejadian lebih sedih daripada ini. Cara satu-satunya kamu menjalani itu, ikuti panduan ayah,”

Jon mengangguk.

Dulu, saat menjelang bersekolah, terjadi dialog yang cukup hangat antara orangtua Jon dan dirinya. Mereka berdebat tentang masa depan anaknya yang mungkin saja suram gara-gara bibirnya. Orangtua mana yang tak takut anaknya hidup menderita?

“Kalau kamu operasi, bekas lukanya ndak bakal hilang. Kamu bakal jadi orang yang senang dengan kepalsuan,” kata ayah Jon saat itu setelah diceritakan kisahnya saat pertama kali dilahirkan dulu. “Akan Ayah buktikan, meskipun bibir kamu tak sempurna, kamu bisa menikah dengan wanita yang lebih cantik dari ibu. Dan mendapat pekerjaan yang lebih keren dari pekerjaan ayah.”

“Ayah ini gimana toh, Jon belum bisa mikir sudah dikasih pilihan begitu?” Ibu Jon menyergah. “Sudah, besok Senin sama ibu di antar ke bu bidan,”

“Dia mengerti, Cuma ndak punya bahasa seperti kita bagaimana mengungkapkannya,” sanggah ayah Jon, seakan ia jago mendeteksi kejiwaan anak.

“Ndak mau ah,” ucap Jon polos. “Aku ikut ayah saja,” mungkin itu kata hatinya.

Apa yang dikatakan ayahnya terbukti. Jon mendapat perlakuan keras ketika memasuki jenjang SMP dan SMA. Para guru banyak yang bangga padanya, karena cerdas dan suka membantu teman yang kesulitan belajar. Di rumahnya, banyak buku-buku bekas yang ayahnya dapat dari tempat-tempat sampah. Ia suka membacai itu dan jika ada yang tak dimengertinya, ia akan bertanya pada ayahnya sepulang kerja. Tapi, memang sudah takdirnya, meski ia suka menolong, teman-temannya tak sesenang dia ketika menolongnya.
Suatu saat ia dipalak kakak tingkat, saat SMP. Jon sok berani dengan menggantikan teman kelasnya yang sedang di kelilingi seniornya.

“Saya saja kak, biarkan dia,” kata Jon sok berani. “Dia sih orang ndak mampu, uang sakunya juga sedikit,” pintar juga ini anak bersilat lidah.

Saat para senior mengerubunginya, Jon ganti jurus lagi.

“Bibir sumbing itu menular. Bukan saat ini, tapi nanti ke anak-anak kakak,” kata Jon tanpa ekspresi. Alhasil, duit tak dapat – mereka lari, ketakutan membayangi mereka.

Dari kecil Jon sudah suka mengorbankan dirinya. Kata ayahnya, “Apa yang tersisa dari diri kita jika bukan kebaikan? Jadilah orang baik,”

Saat SMA, Jon masih sama, menjadi salah satu siswa cerdas di sekolahnya. Bahkan juara pertama, seorang siswi anak pejabat pemerintah, merasa sangat terpukul karena siswa yang mengejar nilainya siswa macam Jon – bibir sumbing. Tentu, Jon tak kegeeran. Dia orang yang suka menyendiri. Lebih banyak di perpustakaan, atau bercanda dengan teman kelas di luar sekolah.

Masuk kuliah, ia masih tetap sama, menjadi orang yang memanen hinaan. Sebagian menjadi teman akrab, karena Jon orangnya tak pemarah. Sebagian membencinya tanpa ampun. Mengapa ada orang cemerlang macam dia?

Dia lulus setelah kuliah empat tahun dengan gelar Sarjana Tata Kota. Satu tahun membantu ayahnya bongkar muat sampah. Ia tak peduli dengan titelnya. Toh ayahnya sendiri tak menuntut apa-apa. Sedang ibunya, gaji ayah sudah cukup untuk makan mereka di rumah, bersama adik Jon yang berusia 10 tahun.

Tapi, ayah Jon tak lupa dengan janjinya. Bahwa dia akan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dari ayahnya, bahkan menikah dengan gadis yang lebih cantik dari ibunya.

“Ini, ada informasi pendaftaran CPNS,” kata ayah Jon suatu sore. “Coba sana, mudah-mudahan rezeki kamu,”

Dua hari Jon merapikan berkas-berkas yang harus disiapkan. Dia bersama tiga temannya ikut serta dalam tes CPNS tahun itu. Sudah pembawaannya, Jon sudah menjadi orang yang tahan malu. Ia dihina karena bibir sumbing dan ayahnya bekerja sebagai supir truk sampah, itu sudah biasa. Hinaan dan pujian bernilai sama di telinganya. Begitupun ketika tes CPNS, bisik-bisik ejekan terdengar lirih.

Tiga bulan Jon menunggu sambil bekerja lagi membantu ayahnya. Ketika suatu pagi ia diajak tiga temannya untuk melihat pengumuman CPNS di balai kota. Tiga temannya itu mendaftar sebagai PNS guru, sedang Jon mendaftar di dinas kebersihan kota. Tiga temannya keluar pendopo dengan wajah murung. Jon menghampiri mereka, berniat menghibur.

“Mungkin lain kali ya, Jon,” ucap temannya, mengira Jon juga tak lulus.

“Sabar saja lah, kita masih muda kan?” kata satu temannya lagi, berusaha menyemangati diri sendiri.

“Weh,” Jon menegur. “Aku berwajah begini bukan karena sedih,”

“Lah, terus?”

“Yak emang dari lahir aku begini – kampret,”

Mereka tertawa.

“Jadi, kamu lulus?”

“Iya.”

Tuiiinggg.....

Mereka serentak memandangi Jon.

“Di dinas kebersihan kota. Aku mau angkat derajat ayahku,” Jon tersenyum bangga. “Doa orang sumbing itu cepat didengar Tuhan. Soalnya suaranya beda, Tuhan tahu itu doa dariku,”

Mereka tertawa lagi.


3 comments:

  1. Assalamu'alaikum...mas afa, boleh saya copas cerpen bibir sumbing ini utk kom saya di g+?

    ReplyDelete
  2. Boleh banget. Monggo mba.. Ituh jg ada buku2 kumpulan esaiku, bisa didonlod geratis.. 😁terima kasih udah mampir ☕ ya.. 🙏🙏

    ReplyDelete