Buruh - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, April 30, 2015

Buruh

Seperti air telaga yang menggenang. Sebutir batu yang jatuh ke dalamnya, mengusik ketenangan. Aku jadi berubah pikiran, surga yang konon tempat kedamaian, semakin terasa tak cocok untukku yang ingin terus berjalan, mengalir. Dalam air yang mengalir, di sana ada kegunaan. Dalam air yang mengalir, sebongkah batu pun tak akan mengganggu perjalanan. Ia akan hancur, terbawa arus yang terus bergerak menggerus.

Banyak orang yang mengira tanggung jawab yang Tuhan berikan pada Jon itu sebuah prestasi. Banyak orang merasa bangga, dengan jabatan yang ia punya. Sedang bagi Jon, itu tak lebih daripada seragam. Kapan saja ia bisa menanggalkannya, dan menjadi diri yang sama sekali  berbeda dari ini.

Banyak orang tak menyangka Jon yang idiot dan berandalan itu menjadi seorang kepala sekolah. Misalnya seorang kepala TK saat Jon bermain ke sana, untuk mempromosikan sekolahnya.
“Kamu Jon Quixote yang dulu TK di sini? Masya Allah... sekarang mengajar di mana?” tanyanya.
“Saya diamanahi jadi kepala sekolah ‘anu’, bu,” jawab Jon pelan.
“Ya ampun... nggak nyangka ya...” beliau tak akan menyangka anak kecil autis yang dulu sekolah di sana kini telah dewasa dan ‘mengasuh’ banyak anak.

Begitupun reaksi beberapa guru sekolah negeri, saat mereka melihat Jon ikut dalam rapat kepala sekolah.
“Ya ampun, dulu murid, sekarang ibu mesti panggil pak kepala, ya? Hehe,” canda mereka.
“Panggil Jon saja, bu,” si Jon merendah.
“Hus, ya nggak sopan lah,” canda beliau lagi. Mungkin tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang guru atau orangtua, daripada melihat murid atau anaknya sukses. Tapi bagi Jon, dia tak mengerti, atau bahkan tak peduli apa makna sukses yang banyak dikejar-kejar orang itu.

Siang itu, ada saudara Jon yang bertanya, mengapa jika diperhatikan, mata sebelah kiri Jon sering belekan. Apa si Jon jarang mandi pagi?
“Lagi sakit, ya?” tanya saudara Jon.
“Sakit sih enggak, Cuma rada capek aja,”
“Banyak kerjaan, ya? Bukannya jadi kepala sekolah itu enak? Hehe,” tanya ia lagi.
“Iya, banyak kerjaan. Tapi kayaknya gara-gara banyak baca buku akhir-akhir ini,” kata Jon lagi. “Minggu-minggu ini aku banyak baca buku lagi. nggak tahu kenapa, tapi kalau nggak baca buku atau menulis, pikiran rasanya nggak tenang.
Hidup enak kan gimana kita mensyukurinya, ya. Lagipula, aku ini buruhnya Allah, mas. Allah pengin aku mulung atau ngamen, ya itu yang aku lakukan. Allah pengin aku jadi penggembala sapi, ya itu yang aku kerjakan. Kali ini Dia pengin aku pimpin sekolah, maka itulah yang aku jalani sebaik-baiknya. Dan kalau besok Allah pengin menempatkanku di tempat lain, maka itulah yang akan aku tepati,” kata Jon.


Dunia ini tak pernah menyerah untuk menjatuhkan manusia ke derajat terrendah. Pada akhirnya, manusia harus memilih, menjadi manusia yang hanya mencukupi dirinya sendiri, atau menjadi buruh Tuhan yang lebih sering terjauhi oleh isi dunia : harta, tahta, wanita. Manusia boleh menyusun rencana, tapi pada akhirnya Tuhan-lah yang akan memutuskan. Layaknya sebuah perahu, sang nahkoda tak akan mampu mengendalikan angin. Ia hanya mampu mengendalikan perahunya, agar tak salah jalan seperti yang angin arahkan. Maka berhentilah berharap jika itu melemahkanmu, teruslah bekerja keras, dan tetaplah miliki mimpi-mimpimu. Jika kerja keras itu tak berbuah, maka paling tidak kita pernah memimpikannya. Kita pernah bahagia oleh mimpi-mimpi kita.

No comments:

Post a Comment