Intelektual jalanan - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, April 12, 2015

Intelektual jalanan

Foto kecapean pas mimpin aksi anak jalanan 2010
Setelah isya tadi, disuruh bapak cari penutup padi. Biar nggak kehujanan, katanya.
Di jalan, ketemu sepupu. Dia cerita tentang seorang guru SMA-ku yang sekarang jadi anggota dewan. Dia, guruku itu juga tanya tentang aku, apa aktif di partai juga atau nggak.
"Wooh... Kalo dia sih 'orang merdeka', pak," cerita sepupuku. "Cerita apa aja sama dia nyambung, intelektual jalanan dia tuh."
Haha, intelektual jalanan.
Banyak hal yang sebenarnya malam ini ingin aku ceritakan. Tapi, sepertinya sudah cukup ini badan. Tadi pagi ikut aksi lagi, setelah tiga tahun berhenti turun jalan. Lalu menulis naskah teater, juga menulis esai buat dimuat di koran lokal tentang aksi tadi pagi. Nggak tahu akan dimuat atau nggak.
Tapi, sebelum tidur, ini nasehat yangku dapatkan selama perjalanan tadi siang

Rasanya aku sudah puas hidup. Jika pun bayangan kematian datang, aku kini tersenyum dan mempersilakan, paling tidak hari itu aku telah bersyukur dan sangat menikmati hari. Tak ada yang ku inginkan lagi. Jika pun ada, mungkin tentang mimpi kesejahteraan bangsa ini. Iya, tentang mengubah masa depan, menjadikan seluruh bangsa ini hidup sejahtera, bahagia.

No comments:

Post a Comment