Letters for myself - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, April 26, 2015

Letters for myself

Ada yang bilang, penilaianmu pada dirimu sendiri mengukur seberapa tinggi orang akan menilaimu. Kau tahu, aku tak peduli pada penilaian. Tapi baiklah, aku awali surat ini dengan ketulusan  menyebutmu : Kepada yang terhormat diriku sendiri.

Aku rasa, sampai saat ini pun masih saja belum mampu melupakan kesakitan saat kita tahu sisi tergelap kita. Sore itu aku melamun, dan khayalanku sampai pada masa itu, ketika Tuhan dengan begitu tega membuka hijab kita, seberapa buruk sisi lain dari diri kita. Kau harus menerima sisi paling gelap dari dirimu sendiri, seperti apapun kau jijik, dan menolak bahwa kau tak ingin memiliki sisi itu. Ketika di masa itu, namamu dicorethitamkan oleh seseorang yang kau sukai. Entah kau baru saja paham, atau kau terlupa, bahwa sisi gelap kehidupan adalah bayangan gelap keindahan di baliknya. Kau tersentak, saat mengerti di balik keindahan yang kau puja, di sana ada kejujuran yang membuatmu terluka. Seratus orang memuliakanmu, tak akan mengubah itu. Bahwa di hatinya, engkau seorang bajingan penipu. Kau tak perlu bertanya mengapa, cukup menerima saja. Terkadang orang hanya ingin melihat kejatuhan kita yang paling menyakitkan. Bukan tentang kegagalan, tapi tentang persetujuan anggapan orang bahwa kita seburuk yang mereka kira. Kau harus menerima itu. toh aku tahu, kau tak pernah membencinya, meski sebenarnya kau sangat layak untuk marah dan dendam. Tapi, setelah kemarahan terakhir itu, kau tahu, bahwa kebencian dan dendam hanya akan membuat sisi gelapmu semakin besar.

Ketika ia melupakan janji-janji yang ia buat sendiri, dan memilih lari dari rasa takutnya untuk mengenalmu lebih dekat. Kau tak boleh menyalahkannya, toh itu terjadi di masa lalu. Dan kau memang terlalu misterius, aneh, freak, mungkin itu yang menjadi kewajaran dia memilih mengabaikanmu tanpa arti.

Ada pesan yang harus kau sampaikan pada banyak orang. Tentang dua ruang kehidupan, rasa sedih dan kesenangan. Jangan biarkan para manusia muda dipecundangi dunia, seperti kau dulu. Tak semua orang berhati kuat, bukan? Hari ini seseorang memasuki ruang kesenangan, tapi esok bisa saja ia dikeluarkan dari sana dan melangkah berat menuju ke ruang sebelahnya : kesedihan. Dan akan begitu terus selama ia tak paham, terbawa sampai rasa lelah membunuhnya. Kau harus sampaikan pada orang-orang bahwa mereka mampu mengendalikan dua ruang itu. mencengkeram leher dua ruang itu, dan berteriak, “Hei! Kalian dalam kuasaku!”. Lalu jadilah damai. Damaikan hatimu untuk terus mengendalikannya. Dan jangan sampai mereka kembali mempermainkanmu.

Bahasa hujan

Angin berkata pada bumi
Tapi tak ada yang mendengar
Selain air di samudera yang bebas
Mengangkatnya tinggi ke langit luas

Hujan pun ingin bercerita
Pada batu meski terdiam
Atau pada pasir meski mengalir
Dalam arus bersuara tanpa kata

Tak ada yang diciptakan Tuhan
Dalam kebisuan
Segala sesuatu berbicara
Bahkan hujan pun berbahasa

Aku datang dari ketinggian untuk manusia
Tapi telinga mereka tak menyimak
Apa yang ku bawa dari sana
Pesan dan kabar untuk semua makhluk

Aku datang pada bebatuan
Tapi mereka diam penuh penolakan
Aku datang pada tanah
Tapi untuk apa aku datang pada ia yang enggan

Lalu aku datang pada sebutir benih
Ia tersenyum merasa gembira
Penantiannya bertemu dengan rasa
Bahagia mengerti saatnya tumbuh telah tiba

Suaranya yang membentur benda-benda
Seperti percakapan yang tanpa balasan
Tak ada yang lebih menyedihkan
Dari ia yang bercerita dalam diam

No comments:

Post a Comment