Seorang pria cengeng - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, April 5, 2015

Seorang pria cengeng

Kau kira aku tak pernah menangis lagi? Manusia mampu menutupi kebenaran meskipun itu pahit, tapi tangisan tak selalu mampu kita tahan. Ada perasaan yang, kita tahu itu berlebihan, tapi kita tak tahu mengapa itu membuat air mata kita mengalir. Dalam tiap kata tulisanku, adalah air mata yang menetes tanpa teriakan tangis yang mampu terdengar. Tak akan mampu terdengar, bahkan oleh mereka yang sangat menikmati kata-kata itu.

Saat kuliah dulu, Jon bersama teman seperjuangannya – seperti anak muda pada umumnya, memiliki banyak mimpi. Mereka tahu itu mimpi konyol – mengubah tatanan dunia, tapi jika tak pernah mencobanya mereka tak akan pernah tahu. Saat itu Jon telah menyadari, pada akhirnya ia akan terbawa oleh waktu menuju masa yang jauh dari saat itu. Ia akan terbawa oleh waktu, menuju kondisi yang sangat mungkin menjadikan mereka tak mampu saling bantu. Bukan tak bisa, tapi memang keadaan sudah sangat berbeda, berubah.

Pada perjalanannya, sekelompok manusia tak selalu mampu untuk terus bertahan dalam perjuangan yang seakan tak memiliki ujung jalan. Ia mengerti, itu konsekuensi. Bahwa seseorang yang konsisten dalam perjuangan untuk kaum yang lemah, akan tertinggal oleh satu persatu sahabatnya.  Dan ia juga memahami, sekalipun itu pahit, bahwa ia tak bisa selalu menghubungi sahabat-sahabatnya hanya untuk – lagi-lagi – meminta bantuan yang sulit mereka kabulkan. Itu konsekuensi sebagai seorang petarung, tak ada seorang petarung yang menjadi kuat jika ia selalu dilindungi orang lain. Ia harus mengambil takdirnya sendiri, pahit atau manis, ia harus menghadapi rasa takutnya sendiri. Dan mungkin itu yang paling menyedihkan dari hidupnya.

Kesadarannya semakin meningkat, ketika ia mengerti, seseorang yang terlalu lama berperang – dan ia tak menerima kenyataan dengan lapang dada, tiap hari akan ia anggap sebagai medan pertempuran. Dunianya menjadi sangat emosional, dan terkadang kehidupan menjadi sangat menjengkelkan, yang menjadikannya selalu marah dan ingin bertempur dengan siapa atau apa saja yang tak menyenangkan dalam hidupnya. Pada akhirnya, manusia harus mengerti, seperti apapun luka yang dunia berikan, ia tak bisa menyalahkannya. Seseorang tidak bisa menyembuhkan luka yang ia derita, dengan cara melukai orang lain. Ia harus menerima, sesakit apapun itu, bahwa dirinya memang tak selalu kuat.

Akan selalu ada rahasia yang Jon simpan dari banyak orang. Ia tak mudah dipahami, tak mudah disayang, dan mungkin itu yang menjadikan orang-orang menjaga jarak. Pada akhirnya, ia hanya meminta pada orang-orang yang menganggap mampu untuk memahami dan menyayanginya, agar mereka memahami dan menyayangi diri mereka sendiri. Tak ada tangan yang mampu menggapai langit, karena langit hanyalah udara khayal. Seperti tak ada yang bisa memeluk bumi, manusia selalu terlalu kecil untuk itu. Tapi jiwa, cinta yang tulus, nampaknya selalu lebih besar dari semua itu. seseorang yang ingin memahami Jon, ia harus memahami apa yang sedang ia hadapi. Seseorang yang ingin menyayanginya, harus menyayangi siapa atau apa yang disayangi olehnya. Dan itu poin yang banyak orang tak sanggup melakukannya.


Dari luar, Jon hanya seorang anak muda pemurung yang terlihat kesepian, dan cengeng. Tapi dari dalam, sampai saat itu nyatanya belum ada seseorang yang mampu meraihnya, menggenggam tangannya, lalu berbisik di telinganya : akan aku temani engkau apapun yang terjadi. Pada akhirnya, nyaris selalu Jon yang harus melakukan itu. meraih, menggenggam cinta, dan memberikannya pada semua yang membutuhkannya. Ada ruang kosong yang begitu besar dalam hati Jon, yang ia abaikan, bahwa ia memiliki kebutuhan yang sangat mendasar – cinta personal, yang ia anggap remeh. Seperti nasehat siang lalu : Manusia mampu menutupi kebenaran meskipun itu pahit, tapi tangisan tak selalu mampu kita tahan. Ada perasaan yang, kita tahu itu berlebihan, tapi kita tak tahu mengapa itu membuat air mata kita mengalir.

No comments:

Post a Comment