Setahun setelah perang itu - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, April 10, 2015

Setahun setelah perang itu

Setahun setelah perang itu
Tersisa luka di sekujur tubuh
Kekalahan yang terasa begitu pahit
Bahkan tersenyum pun terasa sakit

Pertempuran terbesar katanya bukan melawan pasukan
Tapi keinginan yang selalu mendesak untuk menang
Menguasai segala medan kehidupan
Menggenggam seluruh yang bahkan milik Tuhan

Terkadang rasanya begitu menyenangkan
Untuk cukup menjadi si awam
Bekerja seperti orang biasa
Sekedar menghidupi hari dengan air dan nasi

Setahun setelah perang itu
Kekalahan terasa seperti batu
Yang dilemparkan pada sekumpulan ikan
Menyisakan sepi, meninggalkan sang pejuang sendirian

Langkah kaki seakan ragu berjalan
Mana tangan-tangan yang kemarin saling menggenggam
Siapa lagi yang ingin berteman dengannya
Yang terluka dan berdarah tak henti melangkah

Rahim zaman nyatanya semakin melahirkan para pecundang
Berlari mewujudkan mimpi pribadi
Persetan dengan kaum yang terlemahkan
Siapa sudi menjadi pelindung tanpa untung

Banyak orang memiliki gelar
Tapi tak cukup berani memiliki kemauan
Banyak orang merasa pintar
Tapi hanya berani bicara pada kekosongan

Setahun setelah perang itu
Lihatlah, ia masih tegap dengan tangan terkepal
Tak peduli berapa kali dunia menjatuhkannya
Kan tetap berdiri menyongsong esok pagi

Dengan atau tanpa teman
Perjalanan harus terus dilanjutkan
Kesunyian kan terasa lebih bermakna
Dari seribu manusia yang hanya mampu bicara

Seorang pejuang kan memutuskan kebergantungan
Pada apapun yang menjadikannya lemah
Memutuskan asa pada manusia
Dan hanya mengandalkan kemampuan dirinya

Tunjukan, kepala itu masih sekeras batu
Tak akan lelah selangkah pun kau menuju
Satu impian di ujung jalan
Di akhir perjuangan yang kau tak tahu itu kapan

Maju, maju, ke arah depan
Meski langkah tertatih dengan luka perih
Dan hanya kesepian yang setia menemani
Jangan biarkan itu menjadi alasan berhenti

Setahun setelah perang itu
Rasa takut menyesakkan sungguh
Menghambat hembus semangat
Menantang untuk ditaklukan

Tak ada pejuang yang pernah menang
Melawan seratus atau seribu pasukan
Tanpa sebelumnya ia mengalahkan
Menundukan keinginan yang menyesatkan pelan-pelan

Berjuanglah, berjuanglah, hei pejuang
Tantangan berat hanya untuk mereka yang kuat
Lawan, lawan, tundukan keinginan
Buktikan kau tak terlahir sebagai pecundang


Kamis, 9 April 2015

No comments:

Post a Comment