Tak pernah cukup - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, April 3, 2015

Tak pernah cukup

Ajari aku agar mampu menangis lagi. Meski ku tahu itu tak menyelesaikan masalah, mungkin sedikit akan membantuku melegakan hati.

Kau pernah duduk termenung di atas tempat tidur, dan enggan bangkit karena suatu persoalan yang besar? Rasanya begitu menekan. Tak jarang, aku bercermin dan tersenyum sendiri, bagaimana rasanya orang lain menilaiku yang nampak ‘sakit jiwa’. Ah, tapi mungkin itu prasangkaku saja. Tapi, baiklah, akan ku dongengkan kisah sahabatku lagi, Jon Quixote, dengan kisahnya yang menyedihkan.

Ini berawal di bulan itu. Ketika Jon telah berdamai dengan kakaknya yang terus menerus tak mempercayainya melakukan banyak hal. Di satu sisi, ia tak ingin kakaknya melepaskan diri dari perjuangan keluarganya itu. Karena dari kritik-kritiknya yang tajam, Jon banyak mendapatkan solusi setelah merenungkannya dalam-dalam. Alhasil, ia lebih diprasangkai kakaknya sebagai orang yang belagu. Dari dalam kritik yang menyakitkan, ada kebijaksanaan yang tersembunyi di sana. Tapi di sisi lain, sepertinya tak pernah satu kali pun ia diskusi dengan kakaknya tentang perjuangan pendidikan yang sedang dikawalnya, tanpa berujung pada perdebatan yang buntu.

Setelah perbedaan pendapat di keluarganya telah didamaikan, ia mulai bergerak keluar. Ia mendatangi ustadz yang memimpin permusuhan dengan ayahnya. Ia berdialog, bagaimana solusi terbaiknya. Akhirnya, didapatkan kesepakatan untuk mengadakan musyawarah antara masyarakat dan guru sekolah Jon. Dari sana, terlihat betul kebencian mereka pada keluarga Jon, menghina, mencurigai, mencaci, menjadi hal biasa yang keluar dari mulut mereka. Tapi, bukan Jon jika ia mudah emosi dan tersinggung. Ia dengarkan dengan seksama, meski dalam hatinya ‘terbakar’.

Dua hari setelah itu, ia melaporkan tuntutan masyarakat pembenci itu pada atasan sekolah Jon, lembaga pendidikan pemerintah. Beliau meminta Jon – sebagai kepala sekolah, agar segera melaporkannya pada pimpinan kantor. Jon bertanya pada rekan kepala sekolah lain, ia juga cukup lama merenungkan hal itu, konsekuensi apa saja yang mungkin terjadi, untung-rugi apa saja yang mungkin akan dialami keluarganya. Pergerakannya menghabiskan banyak tenaga, waktu, terlebih pikiran yang sempat membuatnya depresi, terbangun tiba-tiba di tengah malam. Mereka, para pembenci, menuntut dua hal, sekolah itu pindah jangan di desa itu lagi atau semua aset yang sedang diamanahkan pada keluarga Jon diserahkan pada mereka, semuanya.

Satu minggu setelah Jon melaporkan pada atasannya, kepala kantor mengumpulkan pihak-pihak bersangkutan. Menjelaskan hak dan wewenang mereka dalam hal sekolah dan aset-aset itu. bahwa sekolah secara hukum legal formal, itu bertempat di sana, tak ada yang bisa mengusirnya kecuali ingin mendapat hukuman dari pemerintah kota. Kedua, tentang aset, memang sudah seharusnya itu dipegang dan dikelola – bukan dimiliki/dikuasai, oleh yang teramanahi. Dalam kalimat sederhana, mereka merasa kalah total. Tuntutan mereka tertolak semuanya. Tapi, apakah mereka berhenti di sana? Tidak, sama sekali tidak.

Setelah dua tuntutan itu tertolak, mereka menuntut agar dimasukan dalam struktur orang-orang yang mengelola aset itu. Dan kali ini, pimpinan kantor membela mereka. Seekarang orang yang membenci itu kini masuk dalam wadah perjuangan keluarga Jon.

Lalu, apa masalahnya?

Di luar semua itu, Jon mengatur banyak hal bahkan sebelum diadakannya musyawarah antara masyarakat dan guru sekolahnya awal bulan itu. Sebelumnya ia bertanya pada guru-guru sekolahnya saat pembinaan mingguan, “Jika ada orang yang, sudah dia tak mau dipahamkan, mengklaim sesuatu yang sebenarnya bukan hak-nya pula, apa yang akan bapak/ibu lakukan?” tak ada jawaban. Memang persoalan yang Jon hadapi sangat membingungkan. Bukan karena tak ada solusi, jalan keluar begitu banyak, tapi orang yang dilawannya tak mau dipahamkan siapapun, dengan satu kata : mereka memaksa. Mengapa tak dilawan saja? Jon ‘menghitung’, pasca gagalnya kakak Jon mencalonkan diri itu kondisi keluarga sedang sangat lemah. Selain itu, resikonya terlalu besar melibatkan guru dan masyarakat yang mendukungnya. Maka, ia melakukan taktik difraction : mengecoh.

Diawali dari kedatangan dia di rumah ustadz yang mengepalai pihak mereka. Ia menggunakan ‘teori bidak catur’ yang dibuatnya sendiri. merangkai kata-kata sedemikian rupa, dengan satu tujuan, seseorang tersebut masuk dalam ‘umpannya’. Lalu, setelah musyawarah terlaksana, ia melaporkan pada atasannya, betapa zalim mereka pada sekolah Jon. Tentu, selalu ada resiko, yaitu tentang bukti-bukti aset yang kini dititipkan sementara di kantor pendidikan itu. Hal itu dilakukan demi menekan tuntutan pihak pembenci yang ingin memiliki itu. lalu, apa untungnya buat sekolah Jon? Pertama, tak akan lagi ada isu sekolah itu akan pindah. Atau isu bahwa masyarakat akan mengusir sekolah itu. Isu ini menjadi senjata pihak pembenci agar calon orangtua siswa tak memasukan anaknya ke sekolah Jon. Mereka menebar teror dan bayangan ketakutan, mengingat sekolah Jon itu sebagian besar didominasi oleh keluarga kurang mampu. Kedua, mereka tak bisa menuntut apa-apa lagi tentang aset itu. tapi, bagaimana dengan masuknya mereka dalam struktur? Apakah sudah diperhitungkan oleh Jon? Tentu. Meskipun tentu saja, ia serahkan selebihnya pada Tuhan.

Tiap anggota yang masuk struktur harus mendapatkan surat keputusan dari ketua dan sekretaris, dengan izin rapat pembina. Pertama, mereka tak bisa mendapatkan surat keputusan, karena pembinanya ada di Jakarta – menetap disana. Mereka mungkin akan menuntut lagi, agar pembina diganti. Tapi sebaliknya, selain mereka tak punya hak karena belum diangkat menjadi anggota, juga pembina-lah yang justru memiliki kekuatan dan wewenang untuk menentukan segala sesuatunya dalam wadah itu. Kedua, beberapa bulan ini mungkin akan terjadi suasana damai. Tapi, ketika mereka tahu bahwa mereka sudah tak bisa menuntut apa-apa lagi – tak bisa mengusir, tak bisa mengambil aset, juga tak bisa masuk struktur, sangat mungkin akan terjadi lagi konflik yang seperti dulu. Bedanya, dulu Jon masih tertakuti bayangan isu pengusiran, sedang kini mereka sudah mendapat penjelasan. Dalam arti sederhana : Check Mate! Teror masih bisa mereka lakukan, tapi sudah tak bisa menuntut apa-apa lagi. Apakah cukup?


Tidak, sama sekali tidak. Perjuangan Jon masih jauh dan besar – berat. Sambil menunggu mereka mengetahui tak-tik difraction Jon, ia harus mencari dana yang sangat besar untuk membangun gedung sekolah di tempat lain. Tanah sudah ia dapatkan, persoalannya adalah dana, dan bagaimana agar mereka, orang-orang yang membenci perjuangannya tak dilibatkan. Solusinya? Hijrah. Pindah dari tempat yang sekarang ke tempat lain yang bukan wilayah mereka lagi. apakah masalah akan selesai? Jon paham, semua yang dilakukannya tak akan pernah cukup. Ia bukan tipe pemuda yang menyukai Curhat. Ia misterius. Apa yang sedang direncanakannya, tak selalu mudah untuk disampaikan pada banyak orang. Ia kini menanggung sangat banyak beban, dan mungkin akan menjadi kebiasaannya terbangun tiba-tiba di tengah malam : depresi. Ia memikirkan hutang keluarganya – pasca pemilu, memikirkan orangtuanya agar tak terlalu memikirkan perjuangan mereka, membina guru, masyarakat, menciptakan sistem pendidikan untuk generasi yang lebih baik, dan...bagaimana dengan kehidupan pribadi Jon? Bagaimana dengan calon istrinya, karir, kekayaan? Tak akan pernah cukup apa yang dilakukannya. Entah, Tuhan menghendaki apa padanya. Aku selalu berdoa, mudah-mudahan ia selalu dalam pertolongan-Nya. Amiin.

No comments:

Post a Comment