The Sign - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, May 13, 2015

The Sign

Keinginan (nafsu) itu rumit, sedang kebutuhan itu sederhana. Manusia menjadikan kerumitan sebagai bagian penting dari dirinya, ketika seseorang hidup hanya dengan memenuhi kebutuhannya yang sederhana, ia akan teranggap sebagai orang rumit. Orang-orang akan berkata kepadanya, “Nenek moyang kami melakukan ini (kerumitan) dari dulu. Kami melihatmu sebagai orang aneh, orang gila,” kata-kata yang diucapkan pada para nabi dan rasul._Jon Q_

Selepas melakukan tugasnya mendoakan para wisudawan dan wisudawati tempatnya mengajar, Jon bergegas pulang. Di tengah perjalanan, ia mengirim sms padaku.

“Ada waktu luang?”
“Ada, sampai jam 12,” balasku, saat itu waktu menunjukan pukul 11  kurang.
“Main ke ruangan kerjaku, ya, kita ngopi,” smsnya lagi.
“Oke, siap,” firasatku berkata, ada hal penting yang akan ia ceritakan padaku. Tanpa pikir panjang, akupun meluncur ke sekolahnya.

“Kok cepat benar? Bukannya ada acara santai?” tanyaku sesampainya di ruangan Jon.
“Iya,” jawabnya pendek. Ia diam sejenak, seakan mengatur kata-kata agar aku mampu memahami ucapannya setelah itu. “Aku mendapat tanda lagi,”
Aku memandanginya. Lama. Terbersit pikiran, apakah, entah kejeniusan atau kegilaannya kambuh lagi? Dua hal itu terkadang sulit dibedakan.
“Tanda? Tanda apa?” sudah ku duga sebelumnya.
“Aku mendapatkan pemahaman baru lagi, tentang apa yang bisa aku hitung tentang masa depan,”
Aku mendengarkan, mencoba memahami kalimatnya yang berat.
“Bahwa kita akan tertolak di tempat-tempat dan waktu-waktu yang kita inginkan, ketika kita diharuskan fokus pada apa yang ditugaskan pada kita,” lanjut Jon. Secangkir kopi hitam terhidang di depanku.
“Ditugaskan pada kita? Tempat-tempat dan waktu-waktu?” aku berpikir keras. Aku tahu, jika jiwa Jon diibaratkan kain, dan hal-hal tak menyenangkan diibaratkan pisau, mungkin jiwa Jon sudah seperti kain yang penuh dengan bekas rusak di sana sini. Mungkin itu yang menjadikannya seringkali terlihat unik, berbeda, atau lebih tepatnya, aneh.
“Kita semua memiliki tugas hidup masing-masing. Kita hidup karena Tuhan, sedang peruntukannya tergantung kebesaran jiwa kita,”
Seperti biasa, aku semakin tak mengerti. Aku minum kopi di depanku, agar tak terlihat tak mengerti. Meski panas, tetap saja aku minum. Kampret, panas benar kopi ini!!!
“Semakin besar jiwanya, semakin besar pula ruang lingkup peruntukan hidupnya. Ia yang berjiwa kerdil, tak akan sanggup memberi kehidupannya untuk umat manusia. Tapi kita tak bisa menyalahkan mereka, karena kesadaran kita berbeda,” lanjut Jon.
“Sebentar, Jon, sebentar,” aku menyela, daripada semakin tak paham dengan ucapannya. “Pertama, apa tugas masing-masing dari kita? Kedua, apa yang kau maksud dengan tempat-tempat dan waktu-waktu yang menolak itu? Dan ketiga, kau mendapat pemahaman ini saat berada di sana (acara pelepasan siswanya) atau saat kau keluar dari sana?” aku menyerangnya balik dengan beberapa pertanyaan.
“Tentang tugas kehidupan yang diberikan Tuhan, ini tentang apa yang tak kau inginkan, tapi kau mendapat tanggung jawab itu. Semakin kau mampu menanggung tugas itu, semakin meningkat pemahamanmu, semakin menyusut ambisi kepemilikan terhadap dunia dari dalam dirimu,” ia membalikan pertanyaanku. Kini, aku semakin dibuatnya berpikir keras. “Sedang tempat dan waktu yang menolak kita, adalah saat-saat ketika kita tak bisa beranjak dari tempat kita di sini, meski kita ingin berada di sana atau dalam waktu itu,” pertanyaan kedua, semakin membuatku mabuk. “Aku mendapatkannya di sana,”
“Itu mengapa kau cepat-cepat pulang?” tanyaku, tak mau menanggapi celotehannya yang membingungkan.
“Iya,”
“Karena kau ingin menceritakan ini padaku?” tanyaku lagi.
“Bukan,” ia meminum kopinya. “Al Inshiroh ayat tujuh – fa idza faroghta fanshob, aku hidup untuk melakukan tugas yang diberikan padaku. Sebelum itu selesai, aku tak bisa beranjak kemana pun aku ingin.”
Ah! Aku agak paham dengan jawabannya kali ini.
“Tapi, bukankah justru akan terlihat aneh, mungkin terlihat kolot, saat kau meninggalkan perayaan itu?” tanyaku lagi.
“Manusia terbiasa dibuat rumit oleh keinginannya. Ketika seseorang hanya hidup dengan kebutuhannya yang sederhana, ia harus mengambil konsekuensi teranggap aneh, kolot, atau apapun itu.”
“Kau tak ingin bernyanyi dan bersenang-senang di sana?”
“Itu sudah aku puaskan saat SMA dulu. Aku sudah sangat puas. Kini saatnya aku melemparkan diri pada kepentingan banyak orang yang membutuhkan,” ia menatap ke jendela. Pandangannya kosong, seakan sedang menerawang sekolahnya. “Ujian manusia pertama adalah penglihatannya. Apakah ia melihat ayat-ayat Tuhan yang harus ia baca. Kedua, pendengarannya, karena pikiran kita diatur untuk mengingat lebih lama apa yang kita dengar daripada apa yang kita lihat. Terakhir, hati, perasaan kita. Tingkatan terakhir ini hanya untuk orang-orang yang tak terpenjara hasil penglihatan dan pendengarannya. Orang-orang yang hidup hanya dengan memenuhi kebutuhannya, dan sedikit keinginan yang tak berlebihan. Bagaimana mungkin mereka – orang-orang yang telah sampai pada maqamat hati, tak terlihat aneh atau gila? Kita melihat permukaan dan buta akan kedalaman, sedang mereka melihat kedua-duanya. Dulu, Muhammad Ibn Abdullah ingin memperlihatkan betapa cantiknya Zainab binti Jahsy, saat mereka menikah. Keinginannya, meski terlihat tak berlebihan, menjadikan sebuah ayat tentang hijab turun. Bahwa kebutuhan itu sederhana, sedang keinginan itu menuntut banyak hal. Tapi, manusia memang selalu tak berdaya pada keinginan yang menjerat jiwanya,”

Aku selalu gagal membayangkan bagaimana kondisi jiwa temanku yang satu ini. Bagaimana bisa ia menjalani kehidupan yang dipenuhi oleh manusia-manusia yeng tenggelam dalam keinginan. Aku selalu gagal menerka, dibebani tugas seperti yang ditugaskan masyarakat padanya saja bagiku itu sudah cukup berat, ini ditambah dengan pemahaman yang di luar jangkauan orang normal. Apa sebenarnya yang ada dalam pikirannya? 

No comments:

Post a Comment