Pendakian - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, August 29, 2015

Pendakian

So you see, this world doesn’t matter to me._Secondhand Serenade_

Manusia menjadi manusia justru ketika ia telah selesai tugasnya di dunia ini. barangkali itu makna di balik ucapan Muhammad ibn Abdullah, bahwa setelah mati nanti manusia akan dibangkitkan dengan rupa yang aneh-aneh. Ada manusia berkepala kambing, ular, kerbau, tapi ada juga yang bak bidadari, yang cahayanya mengalahkan matahari. Manusia menjadi manusia ketika ia meninggalkan cerita yang bisa diteladani oleh orang-orang setelahnya.

Maka menjadi manusia adalah proses ‘menjadi’. Bukan nilai final, ketika seorang bayi lahir, itulah manusia. Tapi juga kualitas diri, yang akan menjadikan ia bisa mendapatkan maqam ‘insan kamil’, manusia terbaik. Karena setelah ‘derajat’ manusia, ada derajat ‘muslim’, lalu mukmin, shobirin, syakirin, syakuron, muttaqin, mukhlisin, kemudian setelah mukhlisin ia mendaki ke tingkat yang lebih tinggi. Yaitu abdullah, hamba, pelayan, kaki dan tangan Tuhan. Yang ketika ia berhasil melaksanakan tugasnya menjadi abdullah, ia akan mendaki lagi ke tingkat yang tertinggi, yaitu khalifatullah atau Wakil Tuhan di bumi. Seperti maqom yang diberikan pada ‘Adam’, seorang manusia pertama yang mencapai peringkat khalifatullah, wakil Tuhan di bumi. Yang ketika maqom itu ‘jatuh’ pada Adam (inisial seorang manusia itu), para malaikat tak sepakat. Para malaikat tak mengerti, bagaimana pendakian yang menyakitkan, yang telah diselesaikan Adam. Tapi, memang Adam yang terpilih, ia manusia, merendah di hadapan malaikat, untuk ‘meninggi’ di hadapan Tuhan : ketika malaikat diminta bersujud padanya.  Banarlah kata Yesus pada Matius, si pemungut pajak, “Siapa yang merendah, akan ditinggikan. Dan siapa yang merasa tinggi, akan direndahkan,”
Tapi derajat ‘muslim’ saja sudah begitu berat. Seperti puisi di bawah ini, tentang kepashrahan, atau ketundukan (muslim) :

Jika Engkau ingin menjadikanku matahari,

Maka aku pun akan bersinar

Tanpa takut kelak kan padam

Jika Engkau memintaku menjadi bumi,

Maka aku pun akan berputar

Tanpa rasa pusing berpikir

Jika Engkau menghendaki aku menjadi burung,

Maka aku pun akan terbang,

Tanpa rasa takut tertembak jatuh

Jika Engkau ingin aku menjadi domba,

Maka aku pun akan mengembik

Tanpa merasa rendah dan takut leher tertebas

Jika Engkau memintaku menjadi tikus

Maka aku akan bermain di selokan, dapur, bangkai binatang

Tanpa rasa jijik atau takut tergilas kendaraan

Jika Engkau menghendaki aku,

Untuk tidak menjadi apa-apa,

Maka aku pun akan menurut

Jiwaku berlutut, terikat mutlak pada-Mu

Tak mampu bergerak

Tak bisa mengelak

Tak akan berteriak

Meski menjadi manusia yang kalah telak

Lihatlah, aku akan tetap tegak

Tapi sebagian orang menganggap maqom muslim adalah suatu kebodohan, fatalisme, jabariyah. Ada beda antara ketundukan pada Tuhan dan menyerah bertahan. Ketundukan pada Tuhan, seperti alam, tak selalu melawan, tapi ‘mengalir’. Apapun takdir yang datang, ia (alam) selalu senang (menerima), tanpa berhenti bergerak (berjuang). Sedangkan menyerah bertahan, adalah kondisi tak mau melangkah lebih jauh lagi. Takut oleh pikiran sendiri. tak mampu membedakan mana rasa sedih, dan yang mana rasa sakit. Rasa sedih akan menghancurkan, sedangkan rasa sakit justru menguatkan, mendewasakan. Seseorang sedih, ketika ia menjadi lebih lemah, lebih buruk dari sebelumnya. Meski tentu, manusia tak selalu menang, tak selalu senang. Memang demikianlah kehidupan. Rasa sakit memabukan, hampir seperti kesedihan, jiwa merasa kacau, tapi tak butuh waktu lama untuk kembali bangkit berjuang.

Rasanya seperti kalah
Sungguh, iya, aku merasakannya
Rasanya seperti ketika kekasih pertamaku pergi
Memilih untuk tak bersamaku lagi

Ada sebagian diri yang merasa hilang
Tersesat tak menemukan jalan
Lalu kau harus memilih antara bertahan
Atau terus melanjutkan langkahmu pelan-pelan

Apa yang membuatmu sedih, hei, orang
Bukankah memang demikianlah kehidupan
Segala sesuatu berubah
Datang bertemu dan akhirnya berpisah

Adakah kebahagiaan dalam pisahnya kemesraan
Katanya orang-orang bijak mampu menikmati derita
Seperti ketika mereka sedang bergembira
Kebahagiaan seperti apa yang ada dalam perpisahan

Tapi memang demikianlah jalan perjuangan
Sunyi sepi hanya satu dua orang
Yang mampu bertahan sampai pada tujuan
Dan seperti waktu, kau pun harus terus melaju

Jika pun orang lain tahu luka kakimu
Apa yang kau harapkan dari mereka
Membantumu melangkah atau mengangkatmu di atas tandu?
Itu hanya akan menguatkan kelemahanmu, kau harus tahu

Hidup ini tentang seberapa kuat kau bertahan
Tak harus di jalan ini atau di sana
Karena semua telah Tuhan persiapkan

Tempat-tempat yang memang terbaik untuk setiap orang

No comments:

Post a Comment