Confession - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, September 27, 2015

Confession


Jadilah seseorang yang mudah jatuh cinta, dan mudah juga melepaskannya. Mungkin benar, dunia ini adalah sesuatu yang remeh. Tapi tak satupun manusia mampu meninggalkannya jauh selama ia hidup. Dan seperti apapun rendahnya, dunia ini tetap layak untuk manusia nikmati._Jon Q_

Sampai jam dua pagi, Jon dan Bet berdialog tentang cinta malam minggu lalu. Bet tinggal hitungan hari menikah. Undangan sudah disebar, sedangkan Jon masih dengan ‘ketakutannya’ untuk jatuh cinta lagi.

“Aku salah menilaimu, Jon,” kata Bet mengawali. “Aku kira kau tetap setangguh dulu, jatuh cinta berkali-kali, dan tak mencari aman sebagai alasan agar kau tak tersakiti,”

Jon termangu.

“Bukankah kau sering menasehati orang lain, kau harus menerima kenyataan, dirimu, secara utuh, sisi terang dan gelap kenangan yang pernah terjadi?” Bet melanjutkan.

“Sebenarnya, apa yang ingin kau sampaikan sih?” Jon membalas.

“Meski jalan hidupmu tak sesederhana yang aku pikirkan, apakah kau telah menyerah untuk jatuh cinta lagi?” ucap Bet lagi. pembicaraan kali ini nampaknya agak serius.

“Maksudmu, agar aku memiliki seseorang yang ku cintai lagi? Semacam pacar, begitu?” kata Jon.

“Ya-, sudah jelas, kan? Kau menunggu apa lagi?”

“Hehe-, kau ingin bukti apa kalau aku masih se-berani dulu untuk mengungkapkan cinta?” tantang Jon.

“Lah, buktinya, kau masih sendiri, kan?”

“Masih sendiri bukan berarti takut untuk jatuh cinta, kan?”

Bet terdiam.

“Hanya pecundang yang tak berani mengungkapkan cintanya – dan kau tahu aku bukan itu,” kata Jon. “Aku hanya sedang mengubah prioritas,”

“Prioritas?”

“Iya. Aku rasa, aku sudah membuktikan kata hatiku, bahwa wanitaku tak akan datang dengan cara aku yang mendatanginya. Tapi ia yang akan ‘mendatangiku’,”

“Maksudmu, itu mengapa kau selalu gagal?”

“Iya,”

“Kalau kau sudah tahu akan gagal, mengapa kau terus mencari dan jatuh cinta?”

“Aku sudah bilang tadi, aku bukan seorang pecundang. Meski, katakanlah, Tuhan telah menjamin wanitaku, tak mungkin aku hanya menunggu,” kata Jon berlagak lagi. “Aku seorang pejalan, petualang. Apa hebatnya jika tetap berjalan tanpa pernah terjatuh berkali-kali? Dan aku tak memilih aman, takut jatuh cinta lagi agar tak tersakiti – ya ampun, cemen benar,”

“Kau sudah mencobanya lagi?” kata Bet

“Mengungkapkan cinta?” tanya Jon balik.

“Iya,”

“Pada siapa?”

“Terakhir, pada siswaku sendiri,”

“UhuK!” Bet menyemburkan kopinya. “Si-, siswamu sendiri? Lalu kau tertolak?”

“Sesuai perkiraan, iya,”

Bet tersenyum aneh.

“Kadang aku tak bisa membayangkan, kalau aku di posisimu, menyimpan kenangan orang-orang yang pernah dicintai sedang berbahagia dengan keluarganya masing-masing,” kata Bet.

“Kau terlalu melankolis,”

“Lah?”

“Ya-, biarkanlah tiap orang berbahagia dengan dirinya masing-masing. Aku bahagia tahu mereka dengan keluarganya masing-masing, dan mereka pun  bahagia tahu aku yang ‘seperti ini’,” kata Jon.

“ ’Seperti ini’,”

“Iya-, aku yakin, mereka juga bahagia melihatku yang tak terkubur bersama kesedihan yang terbawa dari masa itu,” kata Jon.

“Maksudnya?”

“Ya-, kalau pun misalnya mereka tahu kondisiku yang sekarang, dengan perjuangan yang aku lakukan, ‘pengobatan hati’ banyak orang, mereka akan merasa bahagia. Bahwa seseorang yang mencintainya di masa lalu, memang bukan orang yang lemah. Dan tak bisa dilemahkan hanya dengan cinta yang menyisakan rasa sakit,”

“Apa benar, hatimu sudah terbebas dari rasa sakit?” tanya Bet.

“Ah, siapa yang bilang?” kata Jon. “Manusia tak bisa lari dari rasa sakitnya, karena rasa sakit memaksa seseorang untuk merasakannya. Tapi berbeda dengan kesedihan. Apa beda rasa sakit dengan sedih? Rasa sakit di dada, rasa sedih di kepala. Ketika kepala, pikiran, mencengkeram kuat sesuatu yang sudah seharusnya dilepaskannya. Itu yang menjadikan seseorang sulit menghilangkan rasa sedihnya,”

“Jadi, kau tetap mudah jatuh cinta dan melepaskannya, meski oleh siswamu sendiri telah tertolak?”

“Hehe-, meski dunia ini berisi hal-hal remeh, bukan berarti kita tak layak menikmatinya, kan?”

“Ya-, ya, kau hanya sejenak mengubah prioritas – kau sudah mengatakannya tadi,”


“Ha-ha-ha,”

No comments:

Post a Comment