Mbak mau dengar cerita-ku? - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, July 2, 2016

Mbak mau dengar cerita-ku?

Apa yang kita harapkan dari dunia ini? kita belajar untuk selalu siap menderita. Selalu siap seakan ‘diadili’ oleh dunia, terfitnah, terhina, sekalipun kita tak melanggar hukum apapun. Ini dunia yang diatur bukan oleh kita. Dan mungkin pemahaman ini yang terkadang terasa berat kita menerimanya._Jon Q_

Untuk kakakku di Merauke sana.

Hampir di tiap bangun pagi, aku duduk termenung di atas kasurku. Aku takut bangkit. Aku takut hari ini akan terjadi lagi hal-hal yang menyakitkan. Hal-hal yang aku anggap sebagai ‘azab’. Pada siapa aku protes, Mbak? Tanggung jawab sekolah itu begitu besar. Aku harus memikirkan bagaimana membina guru agar pemahamannya terus terbuka, agar berpikir maju, agar terus memperbaiki diri, karena aku pun begitu, tanpa menyakiti mereka. Tanpa mereka merasa aku menggurui, merasa lebih dewasa daripada mereka. Siapa yang mau mendengar anak muda bicara? Aku harus memikirkan anak-anak itu, fasilitas sekolah, kesejahteraan guru, komplain orangtua siswa, membendung fitnah, kebencian, dendam sebagian masyarakat yang entah kapan itu akan padam. Aku takut.

Apakah pada Tuhan aku harus protes? Mengutuk dan menghina-Nya? Apakah Ia lantas akan turun dan peduli? Siapa yang menginginkan tanggungjawab ini, Mbak? Aku sudah berhenti menginginkan apapun pada dunia ini. aku tak lagi tertarik pada cantiknya dunia ini. orang-orang berlomba menjadi PNS, bisnis ini makelar itu, proposal ini proposal itu, gaji yang harus terus meningkat, punya mobil, rumah, dan hal-hal yang tak akan membuat kita merasa cukup. Aku tidak, mbak. Aku sudah merasa cukup hidup begini. Aku tak menginginkan apa-apa lagi.

Tuhan yang memberikan tanggungjawab ini, tapi Ia juga yang menumpahkan segala ujian dalam perjalanannya. Bagaimana ini? aku tinggal saja? Agar aku menjadi seperti Yunus yang berdoa dengan sedih hati di dalam perut ikan? Ini amanah yang harus aku pikul, Mbak. Dan ini, sungguh-sungguh berat.

Juli ini (Insya Allah) aku menikah. Mbak tahu berapa uang pernikahanku? Tidak lebih dari lima juta. Mbak bisa bayangkan uang ‘sebesar’ itu bisa merayakan pernikahan seperti apa? Lima belas perempuan tak mau denganku, karena aku miskin. Kenapa? Aku bisa menyalahkan sekolah itu yang menghambat karirku. Tapi apakah penting? Seratus perempuan menolakku pun aku akan terus berusaha. Aku takut dengan ucapan nabi kita, “Siapa yang tak mengikuti sunahku, ia tak termasuk golonganku,” dan seorang wanita salihah (amiin), datang tanpa aku kira sebelumnya. Ia memudahkanku meminangnya, menikahinya.

Kita tak tahu yang terjadi pada kita itu baik atau buruk, Mbak. Kita hanya yakin, segala apa yang ditakdirkan Tuhan pada hamba-Nya hanyalah kebaikan, Insya Allah. Tidak ada yang sanggup menghalangi pertolongan Tuhan ketika itu datang. Tapi jikapun Ia membiarkan kita dalam penderitaan, kita harus yakin memang itulah kebaikan untuk kita, Mbak. Bertahannya kita dalam penderitaan itu juga adalah pertolongan-Nya. Jangan berhenti berjuang, Mbak. Wa jahidhum jihadan kabiiro, berjuanglah dengan semangat juang yang besar. Di sini, akupun begitu.

Selamat hari raya idul fitri. Mohon maaf lahir dan batin.


Dari keluargamu di Jawa, dari adikmu yang takan pernah menyerah apapun yang terjadi.

No comments:

Post a Comment