Anak-anak manusia yg meremehkan Tuhannya - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, January 11, 2018

Anak-anak manusia yg meremehkan Tuhannya

Tentang keinginan, lepaskanlah tapi jangan tinggalkan. Tentang masa kelam, tinggalkanlah namun jangan kau lupakan. Mulailah dari hal 'tersulit', berdamailah dengan dirimu sendiri. Di dalam kepalamu itu, jangan bertengkar lagi._Jon Q_


Tuhan meminta Ibrahim untuk 'membunuh' (menyembelih) anaknya bukan karena Dia marah, bukan karena Dia benci pada Ibrahim. Tuhan membiarkan Yunus termakan ikan, menangis menyesal merenung di dalam lambung ikan, bukan karena Tuhan membenci atau sedang marah kepadanya. Jika kehidupan ini berjalan mudah, maka menjadi tidak adil untuk orang-orang yang lemah. Karena mereka akan menikmati kemudahan itu tanpa berpikir, tanpa belajar bagaimana ia menjadi lebih kuat atau lebih baik lagi. Jika kehidupan ini berjalan mudah, kita tak akan pernah benar-benar belajar darinya. Tentu, baik-buruk menurut manusia di hadapan Tuhan tak berharga. Wa asaa antakrohu syai'aw wa huwa qurhulakum. Apa yang menurut manusia buruk, belum tentu begitu juga menurut Tuhan. Jadi bagaimana manusia bisa mengerti ini baik itu buruk menurut Tuhan? Ada anak-anak manusia yang hidupnya meremehkan Tuhannya. Tak berharap pada Tuhan lagi, menertawakan surga dan tak takut pada neraka. Anak-anak manusia ini telah melampaui baik-buruk menurut dirinya sendiri. Mereka tahu, ini baik itu buruk menurut mereka sendiri. Tapi itu tak menjadi dasar gerak hidupnya. Mereka menantang kehidupan, melepaskan cengkeraman kuat tangan masa lalu, tapi juga tak melupakannya. Bergerak tak selalu atas kemauannya sendiri, juga tak bertengkar lagi suara-suara dari dalam dirinya sendiri. Mereka saling mencintai, tapi tidak pada personal. Cinta mereka lebih tinggi, yaitu menatap bahwa segalanya adalah Tuhan. Tak tertarik omongan kosong kaum awam, tapi juga tak meninggalkan mereka ketika membutuhkan. Terus belajar, menguatkan jiwa, memantapkan logika, mendalamkan jiwa semakin dalam, tanpa banyak biara. Mereka mengulurkan tangan pada banyak orang, tergenggam atau teracuhkan ia tak berharap apapun bahkan pada Tuhan. Mereka mengulurkan tangan, bukan untuk kehidupan personal, tapi dunia yang lebih membahagiakan. Mengapa membutuhkan waktu lama untukmu sadar Berapa tangisan lagi akan kau ungkapkan Berapa kali lagi kekecewaan harus kau telan Masa itu tak akan datang lagi seperti dulu Kau harus melanjutkan perahumu Untuk datang pada dermaga yang siap melabuh Kau harus meninggalkan perahu yang kau tolak Karena kau sendiri yang telah memutuskan tali ikatnya Lepaskan harapanmu pada Tuhan Karena Ia yang gaib tak akan pernah kita paham Apa yang Ia inginkan baik ataukah keburukan Berikanlah dirimu seutuhnya pada-Nya agar kita terselamatkan

No comments:

Post a Comment