Kehendak di tingkatan kedua - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, January 13, 2018

Kehendak di tingkatan kedua

Semua manusia dalam ketersesatan. Tak ada yg meyakinkanmu, engkau telah benar. Dan ketersesatan terdalam ketika kau merasa benar, membungkus kebenaran menurutmu dengan qur'an. Innaka laminal mursalin, alaa shirothol mustaqim (yasin : 3-4). Sungguh, engkau (Muhammad) adalah seorang rasul. Yg berjalan di atas jalan yg benar. Innaka alaa hudam mustaqim (al hajj : 67), sungguh engkau (Muhammad) benar-benar berjalan di atas jalan yg lurus._Jon Q_



Sekitar dua jam di dalam ruang tamu itu hening. Jon dan gurunya tak lagi berdialog di alam materi. Jasad mereka duduk berhadapan, tapi hati mereka berdebat dalam wilayah 'subtil' - kesadaran. Apa hal?

"Doa kita hanya menggema dalam kekosongan," kata Jon. "Jika Tuhan berubah, dari tidak memberi menjadi memberi, maka itu bukan Tuhan. Jika Tuhan pilih kasih, memberi pada si A, menahan rejeki pada si B, sedang mereka sama-sama berdoa, beribadah, itu tak logis. Bukankah keimanan segaris lurus dengan logika yg jernih? Malaikat menyampaikan catatan kita (surah al ma'arij), 1000 tahun dalam ukuran sehari. Tapi menyampaikan pada siapa, jika mereka juga tak tahu Tuhan dimana? Kita hanya memiliki jiwa kita, tak ada yg mengatakan kita telah benar. Karena malaikat hanya menyampaikan itu pada nabi dan rasul,"

Sang guru mengambil mushaf qur'an. Dia berkata setengah berteriak. "Baca!" kata sang guru. "Baca mana saja yg kau ingin baca!" Jon menurut. Bukan karena takut. Mereka berdua sudah sejiwa, sesat ataupun terlihat marah, sebenarnya itu ekses dari cinta mereka.

"Alif laam... Mim.." Jon membaca.

"Apa yg dilakukan ayat itu?" tanya sang guru.

Jon berpikir keras. Dilakukan? Ayat-ayat itu mengatakan, qul, qola, mengatakan. Apa yg dilakukan? "Apa yg dilakukan ayat itu?!" kata sang guru setengah berteriak.

Tiba-tiba seakan ada guncangan besar dalam pola pikir si Jon. Ada nuansa aneh, dahsyat, yg mengubah kesadarannya.

 "Ayat mutasyabih tak ada yg tahu maknanya selain Allah dan rasulnya," kata sang guru. "Itu pemahaman dasar, bahwa penjelasan secerdas apapun manusia, tak ada yg sampai pada kebenaran. Yg benar-benar tahu hanyalah Allah dan rasulnya,"

 "Kau mungkin telah melampaui kehendak di tingkatan pertama. Tak berhasrat pada dunia, harta, ketenaran, kecantikan rupa, materi yg melimpah, tapi tetap bekerja keras dengan sungguh-sungguh," lanjut sang guru. "Ketidakberharapanmu pada Tuhan palsu, jangan membuatmu berhendi disitu. Naiklah. Teruslah mendaki pada kehendak di tinkatan kedua. Kau tidak berpikir, tidak berucap, tidak bergerak, selain kebutuhan yg memintamu untuk melakukan itu. Kau boleh berkeinginan, tapi tiap keinginan akan diiringi setan. Kau tahu bedanya keinginan dirimu dan setan?"

 Jon menggelengkan kepala. Ia menatap gurunya fokus.

"Ia (setan) memberimu angan-angan. Kau berfantasi, kau berlebihan, dan itu membuatmu melupakan, menjauh dari kesadaranmu pada Tuhan."

 "Anggap aku belum memahami apa yg guru sampaikan," kata Jon. "Hidup sesuai kebutuhan, menomorduakan keinginan bahkan keinginan untuk berpikir, itu berarti memperkecil kesempatan setan untuk menggoda,"

Sang guru mengangguk.

"Itu yg menjadikan kita benar-benar mengikuti jalan para nabi dan rasulullah?" tanya Jon lagi. "Bagaimana mungkin manusia bisa sesadar itu, bahkan mencegah pikiran untuk ingin memikirkan sesuatu?"

Sang guru tersenyum.

No comments:

Post a Comment