Menyekutukan Tuhan dengan khusyu - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, January 12, 2018

Menyekutukan Tuhan dengan khusyu

Tuhan, aku yakin tiada yg mampu menghalangi pertolongan-Mu ketika itu datang. Tapi jikapun Engkau membiarkanku dalam ujian hidup ini, aku yakin, segala apa yg Engkau takdirkan adalah kebaikan. Dan bertahannya aku dalam ujian itu, adalah pertolongan-Mu jua._Jon Q_








Berapa kali gurunya si Jon itu memberi nasehat tentang seorang suami yg baik. Nasehat-nasehat yg tak seharusnya ia dengar lebih dulu, karena saat-saat itu, ia lulus SMA pun belum. Dan ternyata dalam kehidupan nyata ia belajar itu. Tentang suami-suami yg tak mampu tegar, yg tak mampu selalu mengimami, mengerti naik turunnya kesadaran istri. Tidak yg kaya ataupun berkuasa, mencari seorang suami yg begitu tenang, sederhana, tak nampak alim tapi sebenarnya berilmu, tak banyak bicara omong kosong, susah sekali menemukannya.

Tentang kedamaian, Jon belajar dari pencuri yg meminta berlian pada seorang biksu.

 Ada seorang biksu yg mengajarkan Dharma ke manapun ia singgah. Di suatu pinggiran hutan, ia beristirahat dan mengambil bekal makanan di tasnya. Tak sengaja seorang pencuri melihat ada sebuah berlian di tas biksu itu. Ia ikuti biksu itu sampai di suatu persimpangan, ia menghadang.

 "Berlian itu," kata pencuri. "Serahkan padaku,"

"Em, kau menginginkannya?" biksu itu mengeluarkan berliannya.

"Ya,"

"Ini, ambillah,"

Sang pencuri tanpa ragu mengambil dan lari. Saat ia yakin si biksu tak mengikutinya, ia mengintip si biksu yg sedang duduk bersilah meditasi dengan wajah yg damai.

"Berlian ini aku kembalikan," kata sang pencuri di hadapan si biksu.

"Dan ajari aku mendapatkan kedamaian sepertimu yg dengan mudah memberikan berlian ini padaku,"

Bicara seringkali lebih mudah daripada melakukannya. Manusia memimpikan dunia, tapi setelah dunia tergenggam, ia bertanya mengapa apa yg dimilikinya tak mampu membeli ketenangan. Manusia mencari jalan mendamaikan jiwanya. Ada yg yakin dengan harta ia bisa, dengan berkuasa, wanita. Atau melalui jalan ilmu, atau jalan spiritualitas. Kata-kata dan tindakan luar diri mampu sejenak menenangkan, tapi letak kedamaian tak berada di sana. Alih-alih mencari sumber kedamaian, orang beriman mengatakan itu sebagai Tuhan, manusia menciptakan apa yg tak dapat ia temukan. Memilih tenggelam dalam keputusasaan, dan merasa cukup dengan kedamaian yg ia rasakan berhenti pada Tuhan yg ia kira sebenarnya.

 "Tuhan, aku datang," kata si Jon di hadapan-Nya.

"Tengoklah aku, Tuhan. Lihatlah aku yg telah lelah sampai di hadapan-Mu," tapi ia sadar, rasa sakit terdalam bukan ketika manusia paham bahwa yg selama ini ia anggap Tuhan ternyata bukan Tuhan. Melainkan saat kesadaran terdalam mengatakan, bahwa manusia sendirian berada di dunia ini. Ketika ia berada di hadapan-Nya, tak ada lagi perbedaan manusia dengan Tuhannya.

No comments:

Post a Comment