Orang-orang yg menelan neraka - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, January 22, 2018

Orang-orang yg menelan neraka

Jangan pernah berkenalan dengan orang-orang yg 'telah selesai' hidupnya untuk diri sendiri. Ia tak punya keinginan lagi. Hidupnya atas dasar keinginan di luar dirinya yg lebih tinggi. Orang modern mengatakan mereka tak bebas, karena tak memiliki kuasa atas diri mereka sendiri. Tapi sebaliknya, mereka orang-orang yg telah dibebaskan. Dihadapkan pada pilihan, dan tertuntun memilih yg benar meski berat._Jon Q_




Dialog antara Jon dan kekasihnya, Joan.
"Kau tahu mengapa Tuhan memberiku kesempatan berkali-kali untuk gagal?" tanya Jon. Joan menggeleng.

"Tebak saja," Jon meminta.

"Tak mau," kata Joan. "Memangnya apa?"

"Mereka orang-orang yg mungkin tak akan kuat berjalan bersamaku, dan menolak dikuatkan, menjadi perempuan-perempuan kuat," Jon mulai memahamkan. Saat-saat seperti ini yg Joan, atau mungkin semua perempuan yg dekat dengan Jon, tunggu-tunggu. Philosophy of Jon. "Karena itu saat kau datang, aku berangkat, menyambutmu. Tapi apapun yg kita lakukan, tak satupun yg dapat kita pastikan di dunia ini. Kita berusaha keras, tapi tak mampu apa-apa selain dengan kehendak-Nya. Karena itu kata-kata kita bersandar pada 'insya allah'. Aku sudah bilang, hidupku untuk diriku sendiri 'sudah selesai'. Begitu banyak manusia yg terlahir memilih hidup untuk dirinya sendiri. Tapi sepertinya tidak denganku. Sama seperti orang lain, aku bekerja keras, aku berikhtiar, tapi tanpa keinginan,"

 Sepintas terdengar aneh hidup Jon ini. Seperti yg dikatakan Gandhi, seorang 'yogi', akan merasakan sama dalam kesenangan ataupun kesedihan, panas atau dingin, itu sama. Seperti Buddha yg mencapai 'mokhsa' dalam pertapaannya. Bertarung dengan ujian terberat, melawan hasrat yg ada dalam dirinya, hingga tertundukan. Bagai apa yg dipadamkan, namun cahayanya tetap menyala. Seperti Muhammad yg berwisata menuju neraka dan surga saat mi'rajnya. Surga ia genggam, neraka ia telan. Dan orang-orang yg belajar sekuat hati mengikutinya, tertakdir melewati derita dengan tetap tertawa. Belajar mematikan rasa, panasnya kepedihan, agar neraka yg ia telan terasa biasa saja. Tapi tentu saja, Jon lebih layak disebut si gila yg pandai meracau, daripada sebagai pengikut mereka, orang-orang suci.

No comments:

Post a Comment