Salafi liberal, ateis sholehah, dan wahabi nahdliyin - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, January 11, 2018

Salafi liberal, ateis sholehah, dan wahabi nahdliyin

Latarkabuna thobaqon an thobaq. Segala sesuatu bertahap, bertingkat, mengapa seseorang merasa puas dengan apa yang diketahuinya saat ini? Apa yg tak basi di dunia ini selain hal-hal abstrak? Menyelamlah, permukaan hanya untuk anak-anak._Jon Q_
Kali ini di BRN Jon di-request buat bercerita apa saja pengalaman yg ia dapatkan selama kemarin menjemput istri di kota tempat kuliahnya dulu. Serasa jadi siswa remaja lagi, disuruh mengarang cerita setelah liburan oleh guru sekolahnya. "Kemarin aku bertemu dengan seorang sahabat yang mengenalku empat tahun lewat dunia maya, tapi baru pertama kali itu kita bertatap muka," Jon mulai bercerita. "Dia bersama teman kampusnya, nampak benar semangat pencarian diri, penggalian ilmu, sayang sekali kami hanya bisa berdiskusi 2-3 jam saat itu," Lalu Jon juga bercerita tentang komentar seorang pembaca tulisannya di dunia maya, tentang Jon yang seakan tak mau menjadi kaya, sedang ia memiliki sekolah anak-anak marjinal yang sangat membutuhkan bantuan. "Kenapa tidak jadi kaya saja?" kata teman Jon itu. "Kalau kau kaya 'kan uangmu bisa untuk membantu sekolahmu sendiri?" Lalu Jon menuntun logika sahabatnya itu, "Lebih banyak orang kaya atau orang miskin di negeri ini?" "Jelas miskin," kata sahabat Jon. "Mungkin 65% miskin dan 35% kaya," "Saya ikut yang mana?" tanya Jon. Dia diam. "65% itu, berapa orang yang punya sekolah marjinal yang tidak menguntungkan dirinya sendiri?" "Se-, sedikit," "Nah, saya yang ikut kategori miskin itu, tak harus menunggu jadi kaya buat memenej sekolah marjinal. Dan saya bukan orang yang mau menerima kekayaan dari kaum seperti itu," Ia tertawa sendiri. Merasa konyol. Cerita lanjut ke kisah tiga sahabat Jon yang menjadi 'kaum ghuroba', orang-orang yang diasingkan kelompoknya. Pertama kisah Hood, si salafi liberal. Pemuda salafi pemilik toko obat herbal, dan yang menjadikannya diasingkan adalah, ia juga menternak katak sweeke dan tokek yang kata sebagian pemuka agama terhukumi haram. "Ana gak makan duit dari penjualan kodok sama tokek Jon," kata Hood. "Ma'isyah (penghidupan) ana dari obat herbal dan cengkeh yang ana jual buat resep makanan sweeke. Sedangkan duit kodok sama tokek ana sedekahin ke panti asuhan dan relawan anak jalanan. Perkara haram itu amrina (urusanku). Yang penting mereka (anak-anak) makan, punya mainan, dsb," si Jon yang mendengar ini berkaca-kaca matanya. Benar-benar nyata pepatah orang 'gila' akan dikumpulkan dengan sesamanya. Kisah kedua si perempuan ateis sholehah. Tak kalah hebat dengan sahabat Jon si Salafi liberal. "Sholehah itu yang 'ngasih' (sebutan itu) temen-temen gue," kata perempuan berjilbab lebar itu. "Amanu wa amilusholihat, gue masih mencari Tuhan, keimanan diletakan pertama, tapi yang mesti dilakukan kan amal baik dulu ke sesama manusia." anjir! "Perempuan Islam beriman itu muslimah, kalau keimanannya kuat disebut mukminat, sholehah gak kudu pamer kemusliman atau kemukminan kan?" kata perempuan aktivis lingkungan dan anggota tim SAR itu. "Yang pasti gue gak berhenti buat nyari Tuhan. Gue gak cukup puas sama dongeng-dongeg tentang Tuhan dari lisan para pemuka agama. Gua gak mau 'makanan' bekas mulut orang lain, meski itu ustadz atau kyai," Yang tak kalah konyol kisah sahabat Jon si wahabi nahdliyin. Penampilannya arab sangat. Kening hitam, baju jubah, celana cingkrang, jenggot tebal. Pas di suruh mengimami sholat shubuh, yang sebagian jamaah sudah berburuk sangka, setelah rukuk ternyata ia qunut. Pas tahlilan, orang kaget yang membagikan 'wedang' (minuman), menyambut tamu, merapikan tikar dan karpet, ya dia itu. Orang menganggap dia syiah, mata-mata, orang gila, dsb. Tapi dia adalah sahabat Jon. "Pemahaman, kesadaran kita bertahap, bertingkat," kata Jon. "Jangan terperangkap hanya di permukaan persoalan saja, itu derajat anak kecil, balita. Kita membenci syiah, kita juga membenci zionis, tapi syiah ternyata juga sangat benci pada zionis. Itukan seperti romantisme iblis dan Tuhan. Di hadapan manusia dan semesta mereka bertengkar, tapi dalam keheneningan yang hanya manusia-manusia tertentu mampu menembusnya, Tuhan dan iblis saling cinta, saking besar cinta iblis pada Tuhan ia rela menjadi iblis, makhluk yg tak boleh bertaubat, dan mutlak masuk neraka. Karena jika cinta, maka akan selalu rela,"

No comments:

Post a Comment