Aku bukan yang ini - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, February 7, 2018

Aku bukan yang ini

Dua hari ini aku sholat subuh berjamaah di mushola. Setelah sekitar setahun lebih menerima siksa (pasca TBC) yang meruntuhkan nyaris semua karakter kuat yg aku miliki. Subuh tadi, aku diizinkan-Nya menaiki tangga (ma'arij) yg lebih tinggi. Dan tentang rasaku padamu, kini sempurna. Aku tak akan melarang-larangmu lagi, tak akan marah, curiga, bahkan sekalipun engkau misalnya enggan melayani seorang suami selayaknya, aku sudah merasa dicukupkan. Tapi semua kewajiban, aku pastikan tetap terus aku penuhi. Cinta ini tak akan berubah, berkurang, atau bahkan berpindah. Dunia dan semua isinya, subuh tadi, mendekatiku dan ingin memasuki rumahku (jiwa) dan aku menutup rapat-rapat pintunya. Sebagai manusia aku takut miskin, tapi aku lebih takut ketika nenek-nenek mabuk (wujud dunia) itu memelukku. Aku akan bekerja keras dalam hidup ini, mungkin juga berkecukupan harta, tapi tak mau dipeluk olehnya. Cukup kamu saja yg memelukku. Hasbunallah.

Subuh tadi aku disadarkan, tentang diri yang terbagi-bagi. Bahwa aku yg sebenarnya bukanlah yang ini. Aku yg ini hanyalah seonggok tubuh, yg dari kecil aku kira sebagai aku. Sialnya, justru karena terbiasa dari lahir kita menganggap kita adalah yang ini (jasad), kita tak punya pengetahuan sedikitpun tentang kita yang 'itu'. Kita nyaris tak punya referensi darimana kita akan memulai pencarian siapa diri kita yang itu. Mata membaca tulisan ini, tapi sebenarnya yang sedang menggerakan mata untuk membaca adalah diri kita yang di dalam. Mata, tubuh, jasad, hanyalah boneka yang kita gerakkan dari dalam.

Aku baca surat al a'raf 172, tentang kesaksian manusia sebelum ia memasuki jasad dalam wujud bayi. Di sana ada dialog antara kita dengan Tuhan. Di sana ada jawaban bahwa kita-lah yang sebenarnya meminta pada Tuhan untuk dihidupkan ke dunia. Dan sebagai 'jaminan' agar manusia yang terus menerus memaksa Tuhan untuk dilahirkan, maka Tuhan meminta persaksiannya. Alastu bi robbikum? Qolu, syahidna, bala. Agar ketika hari disadarkannya kita (qiyamah), bahwa diri kita bukanlah jasad, melainkan yg ada di dalamnya, kita tak menyalahkan Tuhan. Bahwa kita tersesat di dunia karena memang ada peran Tuhan di sana. Sebaliknya, mengapa kita diminta persaksiannya, karena Tuhan tahu, ketika kita dimasukan ke dalam jasad, maka pengetahuan kita di alam 'sana', mengendap dan harus mulai mencari pelan-pelan siapa diri kita melalui qur'an. Dan ini yang paling menakutkan. Siapa diri kita? Bagaimana karakter kita? Jika jasad menua, bagaimana dengan diriku yang di dalamnya (jiwa) bukankah jiwa tak terpengaruh dimensi waktu? Bagaimana aku memandang hidup ini dari sudut pandang aku yang di dalam? Oh, ini akan sangat melelahkan.

Umah, 25 Januari 2018

Bacaan selanjutnya

Meledak                                                                                         Sungguh, Aku ini Tuhan

No comments:

Post a Comment