Aku kira esok Senin - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, February 10, 2018

Aku kira esok Senin

Mestinya ini ku tulis kemarin hari Sabtu. Mulai Januari ini, seminggu aku liburnya dua hari,  Sabtu-Minggu. Dan oleh sahabatku di SMK, dia sebagai wakil kepala bagian pengajaran, aku diberi kesempatan di hari Senin tidak ada jam mengajar. Jadi sebenarnya seminggu aku liburnya tiga hari, Sabtu sampai Senin. Dulu aku pernah bercerita padanya, meminta izin barangkali sebulan satu kali di hari Senin aku izin. Biar bisa lebih lama di Bandung, tiga hari, bertemu dengan keluarga,  istri dan anakku. Memang ada rencana lain, menemani sahabat-sahabat muda di UPI untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Tapi itu bagaimana kondisi, kalau mereka ingin saja.

Seharusnya aku tulis ini kemarin,  Sabtu. Siang harinya aku mau nyicil skripsi, dan sekaligus persiapan media belajar anak-anak yang les privat. Em, malamnya senior di Bandung minta blognya di upgrade. Tapi gara-gara kecapaian, aku tidur selepas maghrib, lalu karena masih dalam proses penyembuhan (jiwa), aku bangun di esok harinya. Payah.

Kemarin Jumat aku mengajarkan siswa tentang kekuatan jiwa saat berdoa. Orang-orang yang jiwanya lemah, ingin doa-doanya cepat terkabul. Sebaliknya, mereka yang berjiwa kuat, akan selalu tabah menunggu (atau yang lebih kuat), keras kepala berusaha tanpa henti sampai doanya itu terwujud. Orang-orang yang pikirannya ling-lung oleh dunia, mereka bekerja untuk mencari uang, harta, kekayaan. Dalam level yang lebih rendah, yaitu anak-anak sekolah, mereka sekolah/kuliah hanya mencari ijasah dan belajar mencari nilai. Mereka muda, berteknologi smartphone, tapi ketinggalan informasi. Bahwa di Jakarta dan Bandung sana, banyak perusahaan atau lembaga yang menerima seseorang tanpa ijasah, melainkan skill atau keahlian. Dan nilai? Apa manfaatnya ketika kita telah lulus dari sekolah?

Kerja yang mencari uang, harta, akan menjadikan perenungan kita menjadi buta. Bahwa kita keluar rumah itu untuk uang, harta, atau ukuran kebendaan lainnya. Lalu sebaiknya bagaimana? Naiklah ke tingkatan yang lebih tinggi, bekerja mencari rejeki, misalnya. Karena rejeki bukan hanya uang. Karena uang hanya satu bagian kecil dari rizki Tuhan, rejeki yang telah disediakan untuk manusia. Teman baru, ilmu baru, pengalaman baru, sampai sekedar senyuman dari orang lain atau sekedar secangkir kopi yang diberikan teman adalah rejeki yang harus kita syukuri.

Atau yang lebih tinggi, bekerja mencari ridho Tuhan, kerelaan Tuhan. Bekerja keras tanpa keinginan tanpa hasrat. Tapi yang ini aku ceritakan nanti ya. Salam cinta untukmu,  istriku, dan Alfa, jagoan kita yang sedang tumbuh.

Umah, 20 Januari 2018

Bacaan selanjutnya

Apa saja                                                                                   Pesan dari seorang mahasiswa tua 

No comments:

Post a Comment