Basecamp Rujak Ngaji - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, February 28, 2018

Basecamp Rujak Ngaji

Jadi tukang becak atau tukang angon sapi, jika berilmu itu sudah lebih dari cukup. Orang berpengetahuan bukan mereka yg memiliki banyak gelar, dari dalam atau luar negeri, bukan yg bertahta tinggi, tapi mereka yg tak pernah berhenti belajar._Jon Q_

Jam 11 malam Minggu menjelang tengah malam, gerombolan si Jon dan kawan-kawan berkumpul di Basecamp Rujak Ngaji. Rujak, dari bahasa jawa, 'pan turu dejak', mau tidur diajak : mengaji. Bukan sebatas mengaji tadarus atau pemahaman ilmu fiqh, tapi lebih sering perbincangan ke wilayah-wilayah anti-mainstream, di luar trend, melewati batas zaman.

"Aku ada titipan pertanyaan nih Bang Jon," kata Li yg baru masuk kuliah. "Dari teman perempuan, bagaimana caranya melupakan seseorang yg kita cinta tanpa rasa sakit," hampir semua anggota BRN (singkatan tempat itu) tertawa. Memang anggota BRN mayoritas sudah berkeluarga. Jadi tak terpenjara lagi dalam wilayah 'cinta utopis' masa muda.

"Operasi usus buntu, cabut gigi, suntik cacar, sakit gak?" tanya Jon. Yg ditanya mengangguk. "Tapi kenapa kita mau, kan sakit?" begini cara si Jon menuntun logika generasi muda. Hanya saja, lebih banyak dari mereka yg tak sabar. Ingin cepat-cepat paham, tapi yg masuk malah emosi. Bukannya meneruskan pertemuan belajar itu, tapi sebaliknya, meninggalkan.

"Melepaskan apa yg kita suka memang berat," kata Beth yg duduk di samping Bon. Mereka duduk memutar, membentuk lingkaran. "Persoalannya bukan susah atau gampang, tapi semakin ingin cepat lupa, semakin lama prosesnya,"

"Seperti masuknya pemahaman berarti, ya," gumam Li membenarkan.

 "Tapi ngomong-ngomong, jarang benar kita bahas masalah trending topik ya, Jon," kata Bon memutus perbincangan tentang cinta.

"Misalnya Pilkada DKI, begitu maksudmu, Bon?" Dul memancing tema baru.

"Yaaah, apa kek, pilkada, batas wilayah yg rawan, sekte Islam, atau lainnya," jelas Bon.

"Si Jon mana mau bicara politik," Beth menyergah. "Dia sih sudah zuhud," tawanya terkekeh.

 Jon ikut terkekeh.

"Tapi sebenarnya kau bisa, Jon, semisal kampanye pada ribuan 'misionaris Warteg' di Jakarta agar memilih Anies-Uno, misalnya," tambah Dul. Jon memang peduli pada pendidikan negeri ini.

Jon semakin terkekeh.

 Tum, sahabat Li yg cenderung berpikir dalam diamnya penasaran. "Ketawa saja kau bang?"

"Hehe," tawa kecil Jon sebelum berceloteh lagi. "Aku ini siapa? Wong punya warteg juga enggak kok," katanya. "Orang kecil terlalu berat memperbincangkan orang-orang besar,"

"Dan lebih baik kita fokus saja pada perbincangan remeh seperti tadi?" Bon memotong.

"Memangnya diri kita ini nggak remeh? Kita ini siapa di hadapan dunia? Sebesar apa kita? Wong memikirkan hutang bulanan saja kita bingung kok," Jon mulai serius. "Zuhud ndasmu. Aku masih suka uang, suka bareng istri, suka senang-senang, cuma adanya ngaji ini kan kita belajar untuk membuktikan kita tak lupa untuk belajar, menjaga jarak dari yg kita suka, lebih memilih ngaji begini daripada tidur nyaman malam ini,"

#ngaji                      #diskusi                   #forum                 #belajar

Bacaan selanjutnya

Menang pertempuran kalah perangnya                                  Berhala ka'bah yang melarikan diri

No comments:

Post a Comment