Bukan perlombaan terakhir - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, February 19, 2018

Bukan perlombaan terakhir

Musa dididik dengan pemahaman tanpa kontradiksi. Khidir dididik dengan dilema-dilema. Mereka yg hanya melawan musuh di depannya saja, akan berbeda dengan mereka yg menghadapi musuh dari depan dan belakangnya. Jenius itu melihat semesta dalam satu sudut pandang. Orang normal melihat semesta dari satu sudut pandang. Jenius itu tidak normal._Jon Q_


 "Kau boleh saja telah memiliki pemahaman moral dan iman tertinggi," kata gurunya si Jon. Kami berkunjung malam itu. "Kau tak peduli surga, tak takut neraka, tak hirau pahala atau dosa, bekerja keras tapi menutup mata dari upah, tak peduli esok kau makan atau tidak, hidupkah atau akan dimatikan, tapi tetap saja dunia akan menemukan sisi lemahmu. Sisi lemah yg ketika kau diserang di sebelah itu, kau tak bisa apa-apa selain tabah,"

Lagi-lagi dia dihadapkan pada dilema simalakama. Seperti analogi pelari maraton tanpa juara. Ia lari kencang sepenuh hati. Tapi ketika ia sampai finish, juri berteriak tak ada juara. Tapi ketika orang lain yg mencapai finish, ia mendapat piala. Tapi untungnya itu bukan perlombaan terakhir. Manusia senang dengan keputusasaan. Mudah menyerah sedang perlombaan lain telah menunggu persis setelah finish pertama.

Harus apa? Seorang jenius melihat semesta dalam bola matanya. Seorang biasa mempersempit semesta sebesar bola matanya.

Khidir menegakan bangunan yg hendak roboh. Musa bertanya, "Buat apa kau menegakan bangunan yg hendak roboh itu?" dan melanjutkan. "Kau bisa mendapatkan imbalan karena telah melakukan itu,"

 Pertama tentang tujuan. Ada orang-orang tertentu yg hidupnya dituntun Tuhan. Hendak ke barat atau timur ia tak punya keinginan. Orang dengan keimanan dangkal akan menganggapnya tenggelam dalam kesombongan. Belagu. Sok. Kurang ajar. Kedua tentang imbalan. Ada orang-orang tertentu yg hidupnya dihajar habis-habisan oleh dunia. Seakan ia tak boleh senang, tak boleh merayakan apapun. Seperti Khidir, ia melakukan apa yg bukan keinginannya, dan tak harus ada imbalan untuk sebuah kebaikan. Imbalan macam apa yg dinikmati oleh tangan? Khidir tangan Tuhan, ia tak berhak mendapat imbalan karena yg mengunyah makanan itu bukan tangan, tapi mulut (kepala).

"Jangan jatuhkan dirimu lagi," kata sang guru. "Kepasrahanmu telah begitu tinggi. Kau takut apalagi? Kau merasa dekat dengan Tuhan, sedang diuji rasa takut saja kau lupa, bahwa Tuhan-lah yg seharusnya kau ingat. Bukan rasa takut yg sengaja Ia lemparkan padamu,"

Bacaan selanjutnya

 Kaum la ya'lamun                                                                         Qutiba alaykumul qital

No comments:

Post a Comment