Di kedalaman jiwa - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, February 27, 2018

Di kedalaman jiwa

Suatu kedalaman yg ketika segala sesuatu jatuh ke dalamnya, tak ada suara apapun di sana._Jon Q_

Yg pertama diciptakan Tuhan adalah qalam, pena. Ia diperintahkan untuk menulis. Dan dia pun bertanya, apa yg harus ia tulis. Seperti ketika sang nabi diperintahkan membaca, ketika wahyu pertama kali turun, sedang ia tak mampu membaca.

Ma ana bi qari'?

Pena menulis, dan sang utusan membaca. Ia membaca apa yg ia tulis sendiri.

Dalam qalam, ada lauh al mahfudz, lembaran yg terjaga. Di atas arsy, di sisi kursiy. Di sisi arsy ada sidrah al muntaha, ruang pertemuan antara sang nabi dengan Tuhan secara langsung. Malaikat jibril tak mampu menemaninya, karena cahaya qalam, adalah cahaya pertama, yaitu cahaya muhammad. Sedang jibril adalah cahaya kedua, seperti cahaya yg memancar dari dalam jiwa Isa, Yesus. Maka dalam kitabnya, Yohanes pasal 5 ayat 30, Ia berkata : Masih banyak yg harus aku sampaikan padamu. Tapi kalian belum mampu untuk menerimanya. Tapi ketika ruh kebenaran telah datang, dia akan menjelaskan semuanya. Dia akan memuliakanku... Isa mengerti, melihat, dia bukanlah yg akan menyempurnakan.

Ketika Tuhan berfirman akan menjadikan seorang khalifah di bumi, ketika para malaikat dan Iblis, Jin yg kesalihannya menyetarai malaikat, berdialog dengan Tuhan, mereka tidak sedang berbincang dengan Tuhan yg sebenarnya. Tapi mereka berdialog dengan qalam, yg tiap kalimatnya tertulis di dalamnya, yg diajarkan Tuhan pada Jibril, agar ia menyampaikannya kelak pada cahaya qalam yg menjelma. Lalu di manakah Tuhan, jika malaikat dan iblis di suatu waktu itu ternyata berbincang dengan qalam, bukan Tuhan?

 Anni fa inni qariyb...

Tak ada yg tahu di mana Ia kecuali rasulullah yg pernah secara langsung bertemu dengan-Nya. Arsy, kursiy, para malaikat, tak ada yg tahu di mana Dia.

Suatu kedalaman yg ketika segala sesuatu memasukinya, tak ada suara apapun di dalamnya. Qalam, tanpa suara menulisnya.

Bacaan selanjutnya

Di permukaan dan di kedalaman                                                  Mengejar pemikiran Tuhan       

No comments:

Post a Comment