Di manakah 'cah angon' itu? - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, February 6, 2018

Di manakah 'cah angon' itu?

Dia seseorang yang kehidupan memilihnya untuk menjalani hidup yang tak sesederhana yang orang lihat dari permukaannya. Tidak seperti kita yang kewalahan memimpin diri sendiri saja. Kita makmum-makmum kerdil yang merasa pantas menjadi imam. Siapa yang kita pimpin? Berapa banyak? Memimpin apanya? Pikiran? Hati? Materi? Urusan perut?_Jon Q_


"Kakak kandung Jon dan iparnya juga berangkat, Mas," kata Lee yang melihat orang berbondong-bondong dari kampungnya menuju 'medan jihad'. "Apa kita tak ikut serta dalam jamaah perjuangan itu?"

 "Pertanyaanmu buat siapa?" tanya Bon.

"Kalian lah?"

 "Kami bukan pemimpin kalian," Dul melanjutkan.

"Dari awal di forum ini tak ada yang didaulat menjadi pemimpin. Kalian merdeka bukan hanya untuk berasumsi dengan dasar apapun dan juga bertindak. Kami tak akan mengikat kalian," "Apakah duduk seperti ini membahas banyak hal, mematangkan nalar, lebih baik daripada bergabung berjuang ke sana?" tanya Tum.

"Kenapa kalian tiba-tiba seperti orang-orang tua yang ketakutan dan tak bisa apa-apa?" serang Lee.

"Apakah ini yang diajarkan Mas Jon? Apa ini yang diinginkannya, hanya diam menonton dan tak turut dalam jamaah itu?"

 Suara knalpot motor butut si Jon terdengar. Dengan menyangking keresek hitam, Jon menghampiri mereka.

"Kenapa wajah kalian seram begitu?" ucap Jon setelah salam.

Yang ditanya diam. Saling pandang.

"Kenapa gak ikut jamaah di Istiqlal sana?" suara Tum agak merengek. "Kami setengah kecewa menjadi pemuda yang tak bisa berbuat apa-apa untuk bangsa ini."

"Apa yang jelek dari aksi itu, Mas? Kalau itu adalah kebaikan, kenapa kita tak ikut serta?"

Jon memandangi tiga sahabatnya dengan wajah selidik.

"Dari tadi kalian bahas itu?" tanya Jon.

Mereka semua mengangguk, Tum dan Lee menghela nafas panjang.

Jon membuka keresek itu, ada gorengan dan jahe susu.

"Sambil nyemil, rek..." Jon mencoba bercanda.

"Serius, Mas. Kita tak lapar makanan, kita lapar pemahaman." kata Tum.

Tempe goreng si Jon berhenti dikunyah. Seperti lidah yang keluar dari mulut. Konyol.

'Glek..'

"Apa alasan kita duduk di majlis ini?" Jon mulai menyerang balik. "Kenapa kalian memilih ke sini, sedang kalian punya pilihan, mungkin tidur nyaman di kamar, kongkow di pinggir jalan, jalan-jalan bareng pacar, atau apapun, mengapa kalian memilih ke sini? Apa yang kami miliki sehingga kalian lebih tertarik ke sini daripada tetap dalam kenyamanan kalian di rumah? Dan kita seperti ini bukan tiap bulan atau momentum, ada aksi atau tak ada aksi di jakarta sana kita tetap begini. Kalian belum paham?"

"Siapa yang peduli dengan kalian? Siapa yang peduli dengan 250 juta rakyat bangsa ini? Siapa yang anak-anak muda seperti kalian ini ikuti? Siapa yang harus kalian teladani? Ustadz? Kyai? Ulama? Kenapa kalian ke sini bukan ke sana? Apa kalian berada di sini tapi pikiran, hati, cinta kalian berada di sana? Kalian diam-diam mengkhianati pikiran, hati, dan cinta kami pada kalian di sini?"

"Mana 'cah angon' itu yang akan memimpin kita semua? Dari jutaan orang itu adakah 'cah angon' itu? Adakah 'anak gembel' di sana yang diberikan Tuhan jalan hidup berat yang tak dia inginkan? Siapa di sana yang bertampang 'cah angon'? Siapa di sana yang menggembala, yang memimpin sesuatu yang lebih berat dari kehidupannya dan tak punya apa-apa, dan 'berjubah' cah angon?"

Dan Jon terus menggebu-nggebu seakan sedang berorasi di tengah-tengah jutaan jamah aksi sana.

Bacaan selanjutnya

Ungkapan cinta semesta                                                    Man ulil amri minkum      

No comments:

Post a Comment