Dirobotkan - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, February 7, 2018

Dirobotkan

Ada kekuatan besar yang membuat bangsa ini tak boleh bangkit, tetap dijajah, terus bahagia dalam kebodohannya. Tapi memang menuntut perubahan pada orang-orang awam hanya akan membuatmu kecewa. Seperti memaksa para kambing untuk berkicau indah._Jon Q_

Tum yang dari tadi diam saja, berpikir keras mencerna apa saja yang dijelaskan si Jon akhirnya bertanya.

"Kalau kita, generasi muda bangsa ini memang disengaja agar tetap bodoh," katanya. "Dibuktikan sekolah-sekolah mengajarkan apa yang pada akhirnya dilupakan, apakah pemerintah atau setidaknya para profesor pendidikan bangsa ini tak menyadarinya, Mas?"

"Nah iya, aku ya mau tanya itu sebenarnya," Lee meramaikan suasana.

"Sebenarnya dari jaman Ki Hajar Dewantara itu juga sudah terjadi," kata Beth sebelum Jon bicara.

"Penjajahan akal, Mas?" tanya Tum.

"Iya," jawab Beth. "Bangsa ini mengangkat Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan bangsa, kita angkat orangnya, tapi kita injak-injak ide dan pemikirannya."

"Injak-injak? Maksudnya?" Lee memotong.

"Kamu dengarkan dulu, Lee." ucap Bon. "Penjelasannya lumayan rumit dan mungkin bagi kalian yang masih muda ini terdengar aneh,"

Aneh?

"Ya," kata Beth. "Kita memuji beliau tapi mengubur ide dan pemikirannya. Apa buktinya? Beliau mendirikan lembaga pendidikan bernama 'Taman Siswa', dari jenjang TK sampai perguruan tinggi. Beliau bikin Taman Siswa, lalu kenapa sekarang kok namanya sekolah? Lebih enak mana pergi ke sekolah atau ke taman?"

Tum dan Lee yang baru saja lulus beberapa bulan yang lalu sangat paham bagaimana rasanya sekolah.

"Bahkan, Taman Siswa itu konsepnya ditiru oleh Rabindranath Tagore, tokoh besar dari India," Bon menambahkan. "Di India ide beliau dipakai, di bangsa sendiri diinjak dilupakan,"

"Jadi, struktur pelajaran yang ada di sekolah-sekolah bangsa kita ini juga program, agar kita tetap bodoh?" tanya Tum lagi.

Jon tertawa satire.

"Dulu, jaman nabi Musa, Fir'aun memerintahkan membunuh semua bayi laki-laki," Jon mengawali seperti biasanya, cerita yang semakin membuat orang penasaran, arahnya ini kemana dan apa.

"Aku berdoa, semoga kalian berdua ini (Lee dan Tum) adalah bayi-bayi laki-laki yang tak ikut serta dibunuh oleh Fir'aun-Fir'aun bogel masa kini," lanjut Jon.

Maksudnya? Air muka Tum dan Lee menyiratkan mereka sedang berpikir keras.

"Bangsa ini sedang dihancurkan, ditidurkan, atau setidaknya dibuat lupa dengan dirinya sendiri. Pemerintah, apalagi para profesor, mereka paham pendidikan di bangsa ini 'lucu'. Tidak mencerdaskan, membebani, membuat generasi muda pelan-pelan jadi robot sesuai program 'kekuatan besar' yang sedang menghancurkan kita,"

"Orang-orang ahli teknologi tak dianggap di negeri ini. Habibie 'diasingkan', anak-anak negeri yang sukses di negara lain kemudian pulang ingin membangun bangsa, tapi ternyata ditipu oknum pejabat. Sampai ada ahli otomotif penemu mobil listrik yang copy right-nya (hak paten) tak mau diserahkan pada pejabat tertentu, yang diperkarakan, dicari-cari kesalahannya, lalu dipenjara,"

"Kenapa kita tak menyadari bahwa kita (para pelajar) ini sedang dibodohi, Mas?" potong Tum.

"Kita sedang diubah jadi robot, itu programnya,"

"Darimana kita tahu kita dalam program perobotan itu?"

"Pertama, kita dijauhkan dari qur'an. Kita bingung mau belajar qur'an dengan sudut pandang tafsir yang masuk akal ke siapa. Gelar boleh profesor, tapi tak bisa mengaji itu memalukan. Sedangkan qur'an adalah kitab (buku) alam semesta. Kedua, kita dijauhkan dari sejarah negeri kita sendiri. Belajar sejarah membuat kalian enek, bete, jenuh. Pulau Sipadan Ligitan katanya memiliki kandungan minyak bumi untuk lebih dari 50 tahun ke depan. Kini menjadi milik tetangga. Kenapa? Kita menyepelekan sejarah dua pulau itu."

"Sekolah atau kampus umumnya mengajarkan menghafal tanpa mengajak, menuntun kita untuk berpikir, merenung, dan bukan salah guru atau dosen, ini program. Siapa yang berada di dalamnya tapi tak taat, akan disingkirkan. Terakhir, kita digoda harta benda dan jabatan. Kita mencari nilai, ijasah, hanya untuk bekerja, kebaikan gaji atau pangkat, tanpa pemahaman yang terus mengarah pada Tuhan. Kita dirobotkan,"


Bacaan selanjutnya

Aku bukan yang ini                                                                 Pelajaran hidup paling berharga

No comments:

Post a Comment