Dua Jalan - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, February 4, 2018

Dua Jalan

Maka tempuhlah jalan kesesatan dan jalan ketakwaan._Asy Syam : 8_

 "Ada baiknya kita ganti tema," Bon mengusulkan. "Dari perbincangan yan super rumit seperti tadi ke hal ringan misal yang ditanyakan Lee tadi," Bon mengambil gorengan tempe di depannya.

"Halah, bilang saja kau ini gagal paham, kan," serang Dul bercanda. "Dari tadi kita berjihad keras mencerna apa yang dijelaskan si Jon?" Mereka tertawa.

"Tapi bisa jadi, pertanyaan Lee itu justru lebih Rumit, Bon," sanggah Beth. "Itukan bisa masuk teologi,"

Glek.

"Maksudmu, apa yang menurut kita baik belum tentu benar-benar baik buat kita?" Bon membalas. Asa antakrohu syai'aw wa huwa khoirul lakum.

Beth terkekeh.

"Asem," Bon melenguh. "Memang BRN dapurnya masakan-masakan berasa berat buat pikiran, duh,"

Suara tawa rendah terdengar lagi.

"Apakah tidak ada orang-orang muslim yang super kaya, yang sebanding dengan 'sembilan naga' di belakang bapak kita di sana, Mas?" Tum melanjutkan.

"Ya, maksudku mengarah ke sana," Lee membenarkan. "Tidak adakah tangan-tangan Tuhan yang kekuatan uangnya sebanding dengan mereka? Dan dengan itu rasanya Tuhan sudah cukup menunjukan pertolongannya pada kita,"

"Karena kita tak bisa mengharapkan negeri ini diluluh-lantakan seperti kaum-kaum yang terdahulu untuk membersihkan kerumitan bangsa ini?"

Pertanyaan demi pertanyaan hanya memunculkan pertanyaan yang baru. Mereka, kaum tua dengan cermat mendengarkan betapa dua anak muda di depan mereka cukup kuat untuk usia mereka memikirkan persoalan bangsa ini.

"Tuhan menolong kita, Lee, pasti," Dul mengawali. "Tanpa kita tahu bagaimana Dia akan menolong kita,"

Krik. Krik. Krik.

"Tuhan pasti menolong kita," Bon mengulangi kata-kata Dul. "Tanpa kita tahu bagaimana Dia menolong kita? Ma-, maksudnya???" Bon gagal paham.

"Ya-, ya, aku ya gak tahu, pokoknya gitu,"

Hahaha.

 "Biar gak serius banget, ya, Dul?" Beth membela.

Mesra sekali perbincangan kehidupan di BRN itu.

"Orang-orang yang pertama masuk Islam," Jon mulai bercerita. "Adalah orang-orang dari golongan teraniaya, tertindas, miskin, kaum budak dan sepantarnya. Orang-orang kaya dan para penguasa suku atau bani setelah mereka. Ada niatan, bahwa masuk Islam akan membuat mereka beruntung, kaum al muflihun, atau bahkan lebih beruntung, maka mereka tertarik memeluknya,"

"Fa alhamaha fujuuroha wa taqwaha. Tuhan bilang, tempuhlah jalan kesesatan dan ketaqwaan, ayatnya gak bilang 'fa alhamaha fujuuroha aw taqwaha, kesesatan atau ketakwaan. Bahwa setelah menjadi muslim pun, kecenderungan kita tersesat masih ada, bahkan besar. Bagi aku sendiri, merasa Islam menjadikan hidupku secara duniawi beruntung, adalah kesesatan,"

"Keberuntungan ini bisa berwujud apapun, klaim kebenaran, golongan paling benar, paling suci, kutip ayat atau hadts, pakai hukum atau syariat Islam untuk bisnis, training motivasi, dan lain-lain. Dan kekayaan para hartawan muslim akan tetap kalah dengan mereka yang total berjudi dengan dunia,"

"Akan tetap kalah dengan mereka yang total berjudi dengan dunia? Maksudnya, Mas?" tanya Tum.

"Bukankah kita punya qur'an, Mas? Mereka tak punya qur'an, tapi kok bisa menang? Apa memang hanya di dunia saja?" tambah Lee.

"Mereka mengambil taruhan-taruhan besar, dan tak peduli dengan dosa," Jon melanjutkan. "Dan memang sebaiknya begitu, politik atau bisnis jangan takut dengan dosa, apalagi jelas, takut kok ke dosa, maksudnya, jika mereka yang tak mendasarkan hidupnya pada qur'an tak peduli sekalipun yang berhutang pada mereka menggadaikan jiwa, muslim hartawan memiliki misi lebih berat, yaitu terus membina, mendidik orang-orang yang ingin melebarkan sayap bisnisnya tapi bermental miskin, manja, tak tahan banting."

"Umat nasrani saja punya 'etika protestan' kok, hidup se-kaya-kayanya, tapi menjalaninya se-sederhana mungkin." lanjut Jon. "Itu mengapa aku katakan, hartawan muslim bangsa ini sulit menyaingi mereka yang total berjudi dengan dunia, kita menganggap qur'an memaksa kita untuk jangan berbuat dosa, salah, atau tersesat. Betul kita tak boleh maksiat, kemungkaran, keji, ada batas-batas yang jelas dan tak boleh dilanggar. Tapi kenyataannya, bank saja kita tak bisa lepas dari sistem konvensional mereka,"

"Riba maksudnya, Mas?" Tum menambah porsi pertanyaanya lagi.

Bacaan selanjutnya

Hak-hak sisi gelap                                                               Nuansa Jabal Uhud                        

No comments:

Post a Comment