Imam dan makmum yang setara - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, February 9, 2018

Imam dan makmum yang setara

Iman tanpa ilmu buta, ilmu tanpa iman lumpuh._Einstein_

"Jadi panjenengan semua diam-diam juga aktif berpolitik sekalipun alam lingkup kecil?" Lee melemparkan pertanyaan lanjutan tentang diskusi aksi massa hari lalu.

"Politik itu harus, Lee." jawab Dul mewakili orang-orang dewasa di forum BRN. "Dalam penilaian yang subjektif, orang menganggap si Jon itu apolitik, apatis, atau lari dari pertarungan kesejahteraan orang banyak dan memilih hidup sufistik. Padahal, di luar pemahaman orang atau bahkan teman-temannya di kota, dia orang yang tak bisa melepaskan diri dari medan tempur kesejahteraan orang banyak - politik,"

Jon sedang ke kamar kecil, jadi mereka asyik membicarakannya dengan enak - bebas.

"Kita belajar banyak dari dia," tambah Bon. "Di balik sifat santai-nya, dia 'berjudi' besar-besaran dengan kehidupan demi kesejahteraan orang-orang yang oleh Tuhan diamanahkan padanya. Dalam penampilannya yang nggak trendi, gembel, di antara kita berenam dialah yang punya jalan terdekat dengan pemerintah kota, dan sekaligus kementerian agama kota."

"Awalnya kita juga nggak percaya, nggak peduli, mana ada anak muda yang antara iman, ilmu, dan akal-nya nyaris berjalan seimbang." tambah Beth yang lebih dulu berdiskusi hal-hal berat beberapa tahun lalu saat awal-awal kenal dengan Jon. "Aku tahu - dia juga pernah bilang sendiri, wawasan dia masih sangat sempit, perenungannya dangkal, ketika dia membandingkannya dengan teman-temannya di kota besar, di ibu kota Jawa Barat sana. Tapi aku belum pernah bertemu seseorang yang tetap tenang - dan konyol - dalam pertempuran politiknya. Kabar terbaru, seorang ustadz sepuh yang dulu memimpin penghancuran sekolah yang sedang dipimpinnya, mengulurkan tangan ingin salaman lebih dulu saat mereka dalam satu majlis pengajian. Doanya mungkin terkabul, meng-Umar-kan mereka."

"Maksudnya mendoakan mereka seperti Umar yang akhirnya membela sang nabi?" kejar Lee.

"Betul,"

"Kami semua berpolitik, kami merumuskan bersama, menyentuh yang terdekat, terus menerus mengevaluasi diri, lewat forum seperti ini," kata Bon.

"Dengan Mas Jon sebagai imamnya?" potong Tum.

"Bukan, bukan begitu," lanjut Bon. "Jon orang yang malas menjadi pemimpin, dia tak mau dibesar-besarkan, di-imam-kan, diunggulkan, sekalipun di antara kita khususnya dan di masyarakat umumnya, dia cukup pantas untuk itu. Kesetaraan yang dia inginkan, tak ada yang lebih tinggi atau rendah,"

"Tapi bukannya seorang imam itu harus ada, Mas?" kejar Tum. "Semisal aksi kemarin, aku dan Lee juga akan berangkat kalau Mas Jon ikut berangkat. Kami dicerdaskan di sini, kami nggak cuma ikut-ikutan apalagi didasari emosi atau kebencian,"

"Memang konsep kepemimpinan si Jon agak aneh," Beth melanjutkan penjelasan itu. "Selama kami belajar bersamanya, dia tak mau mendominasi sekalipun mampu. Konsep imam menurutnya adalah kesatuan iman dan ilmu dalam jiwa. Maksudnya, tanpa imam pun kita paham dengan apa yang akan dilakukan. Betul kata kamu, Tum. Kita nggak sekedar ikut-ikutan. Konsep imam menurut Jon, seperti guru intelektualnya di Jogja sana, adalah penyambung, penghubung, antara ilmu dan iman kita kepada Tuhan. Kita belajar sekuat tenaga agar tidak menomorsatukan keinginan, sekalipun itu atas nama Tuhan, dalam melakukan apapun,"

"Berat benar," Lee melenguh.

"Aksi kemarin 'hitung-hitungannya' kurang," tambah Dul. "Jon itu sarjana sejarah, dia memang cacat matematika, tapi dia paling paham di antara kita tentang 'hembusan' hukum alam yang bisa kita usahakan,"

Lee dan Tum berpikir keras. Ucapan si Dul seakan diucapkan si Jon yang senang menggunakan pengibaratan.

"Kita menganggap menolong agama Allah, dan Allah juga akan mnolong kita. Bagaimana jika tuntutan mereka gagal? Yang penting mereka sudah berusaha? Ini tentang klaim, kita mengklaim Tuhan bersama kita tapi tak membalas pertolongan kita yang sungguh-sungguh itu? Hitung-hitungan, dalam hal ini adalah konsolidasi aksi, harus sangat matang, dan kalau itu dihiasi iman, seperti aksi kemarin yang sungguh indah - pada awalnya, akan sempurna,'

"Itu alasan mengapa Mas Jon seakan absurd tentang aksi kemarin?" Tum tak merasa puas.


Bacaan selanjutnya

Qutiba alaykumul qital                                                   Menang pertempuran kalah perangnya 

No comments:

Post a Comment