Kaum La Ya'lamun - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, February 8, 2018

Kaum La Ya'lamun

Tulisan kedua dari pencarian 'Man arofa nafsah, faqod arofa robbah,'.

Musa di perintahkan agar jangan mengikuti kaum yang tidak mengerti. Ia menghadapi Fir'aun, ayah tirinya sang penguasa hidup mati budak-budaknya. Selalu saja, 'musuh' yang harus ditaklukan dengan cinta adalah seseorang terdekat dengan kita.

Kaum 'La ya'lamun', kata qur'an. Siapa mereka?

Ada orang yang tak tahu bahwa ia tak tahu. Ada orang yang tahu, bahwa ia tak tahu. Dan ada orang yang tahu bahwa ia tahu. Tahu, mengerti, memahami, mengenal, 'arofa'.

Tahu itu dengan indera, mengerti, memahami dengan akal, dan kenal selalu dengan menggunakan hati. Maka Tuhan menciptakan manusia bukan untuk saling mengetahui sebagai prioritasnya. Tapi untuk saling mengenal, li ta'arrofu. Karena mengenal tak harus tahu, orang buta yang baik akan tetap menjadi teman bicara yang nyaman tanpa ia tahu ia sedang bicara dengan siapa, seperti apa wujudnya, dsb. Seseorang tak perlu tahu apa agama, nama, ras, suku, atau label semacamnya untuk saling tolong menolong. Kayfa la tanshoruwn? Mengapa manusia tak saling tolong menolong? Karena mereka tak saling mengenal, karena kita meninggalkan hati kita di shaf belakang dan merasa akal saja mampu untuk mencintai segala hal, menjadi rahmatan lil alamin.

Kaum 'la ya'lamun', kaum yang tak mengetahui. Karena pengetahuan itu proses, tak akan sampai pada satu ujung kebenaran, tak satupun manusia mampu sampai pada 'Yang Benar' selain nabi dan rasul.

Maka zaman ini dipenuhi orang-orang dalam golongan itu. Kaum la ya'lamun. Kaum yang tak mau menggali lagi, mencari, mendaur-ulang pengetahuannya, asumsi-asumsinya, kaum yang merasa apa yang diucapkannya selalu final, selalu mutlak, dan berujung saling tuduh dan benci antar sesama makhluk Tuhan. Seorang ustadz atau kyai bisa sangat sayang pada kucing atau domba peliharaannya, tapi kasar dan geram pada manusia yang memang diberikan hak untuk salah. Tapi bagaimana jika diingatkan tak mau berubah? Jadilah penguasa, pejabat, lalu ubahlah itu. Itupun jika derajat kepejabatanmu itu tak akan menjadikanmu lupa bahwa dulu kau sangat militan dalam kemungkaran. Atau, fama hilil kafirina amhilhum ruwaida. Siapa yang mengira tak ada catatan yang menulis di tiap sisi kanan kiri kita? Matematika atau fisika tak bisa memastikan bahwa di atas hukum manusia tak ada hukum lain yang lebih adil. Tapi kita, aku, adalah kaum la ya'lamun. Kita tak mengerti bahwa itu ada.

Bacaan selanjutnya

'Ngonjoki' Tuhan                                                                                  Seorang Gelandangan

No comments:

Post a Comment