Kyai dan ustadz di kampung kami - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, February 10, 2018

Kyai dan ustadz di kampung kami

Dzalika mablaghuhum minal ilmi. Tiap orang umumnya memiliki keahlian masing-masing. Kal an'am, seperti hewan, ikan jangan disuruh berlari, kucing tak bisa menyelam, kambing tak bisa memanjat pohon. Semuanya sempurna dalam ukurannya masing-masing._Jon Q_

"Saya ikut pengajian di masjid desa tetangga," cerita Lee mengawali diskusi forum BRN. "Kyai fulan kok malah berceramah tentang tema keluarga sakinah, ya?"

"Lah, memang ada masalah?" Dul menyela.

 "Ya gak sih, cuma heran kenapa nggak mengajarkan yang lebih 'tinggi', gitu,"

"Lebih tinggi bagaimana?" Bon ikutan.

 "Ya, misal tentang kalam (filsafat), atau mantiq (logika), gitu?"

Dul dan Bon tertawa.

"Lha gimana sih? Kok malah ketawa?" Lee keheranan.

"Mas Bon dan Mas Dul meremehkan kyai itu, ya?" bela Tum.

"Shuutt, jelek sangka itu namanya," sanggah Bon. "Kamu perlu keliling masjid kalau begitu, Lee. Agar lebih tahu, kyai dan ustadz di kampung kita nggak se-lebay yang di tipi-tipi atau bicara hal-hal tak umum seperti yang kamu contohkan tadi,"

"Kalam dan mantiq? Tak umum, maksudnya?" kejar Tum.

"Ya, dua hal itu bukan konsumsi ummat biasa. Nggak 'nyentuh' kehidupan dunia, dan jarang ada yang bisa memahaminya dengan sesuai," jelas Bon.

"Kamu kenal ustadz falan? Beliau mengajar fiqh sunnah, ustadz taeun, mengajar qurotul u'yun, beliau ustadz-ustadz besar di kampung kita, tapi mengajarkan hal-hal sederhana," tambah Dul.

"Lagipula, kalian belajar hal-hal tak umum bersama kami, tak boleh kalian umbar di luar forum ini," Beth menegaskan. "Belajar kalam, mantiq, nahwu, tafsir, ilmu sosial dan eksak, kalian belum boleh mengumbar se-inginnya kalian di luar sana,"

"Lho bukannya ilmu itu harus disampaikan? Buat apa kita belajar kalau tidak diamalkan?" bantah Tum.

 "Ada prosesnya," lanjut Beth. "Awalnya kita menata, merapikan pikiran kita lebih dulu. Lalu mengamalkan, menjalaninya untuk diri kita sendiri, baru kita berikan, sampaikan pada orang lain."

"Seperti kyai dan ustadz kita, Tum," tambah Dul. "Mereka memahamkan yang mudah-mudah dulu, bertahap, bertingkat,"

"Tapi kenapa di sini kita boleh sebebas-bebasnya bertanya? Dari yang sepele sampai yang rumit?" Lee ikutan.

"Karena batasan tadi," jawab Beth.

"Kalian boleh bicara bebas, tapi di luar ini banyak-banyaklah diam dan mengamati, memikirkan, merenungkan," "Kalian tahu kenapa orang NU tak mau mengikuti imam sholat yang tak mengucap bismillah dalam alfatihah sholatnya?" Bon tiba-tiba memotong.

 Tum dan Lee menggeleng.

"Itu bukan egosentrisme, itu bukan masalah aliran atau golongan agama," jelas Bon. "Imam itu pemimpin, tak boleh hanya menyimpan pemahaman untuk dirinya sendiri. Makmum umumnya paham bahwa alfatihah itu basmalahnya dilantangkan, dan ketika tanpa pemahaman basmalah yang dilirihkan itu imam tetap memimpin makmum dalam keawamannya, itu dzalim, kejam. Pemimpin yang tak membagi pemahamannya, pemimpin yang membiarkan ummatnya awam, adalah pemimpin kejam,"

"Ooo.. Maksudnya ke arah sana ya," gumam Lee.

"Kalian tahu pemahaman-pemahaman yang seperti itu dari siapa?"

 Tum dan Lee menggeleng lagi.

"Ya dari mereka, kyai dan ustadz itu,"

"Lembut sekali ajarannya, ya," kali ini Tum yang menggumam.

"Lebih penting lagi, kenapa kalian tak boleh bicara sebebas di sini di luar sana," Bon menambahkan. "Banyak orang-orang yang merasa lapar ilmu tapi tak mau bertatap muka seperti ini,"

"Bukan karena kita pelit atau membatasi, Lee, Tum," Dul melanjutkan. "Ini tentang silaturahim, dialog bersama, bertatap muka, dari ini kita bukan hanya menggali pemahaman, tetapi juga mencipta ulang akhlak kita, sopan santun kita mencari ilmu. Bukan dengan mengirim sms, WA, BBM, atau media sosial lainnya sedangkan jarak kita berdekatan. Kami, termasuk si Jon - apalagi, kan tak punya BBM, apalagi media sosial yang nge-trend. Kita senang bermuwajahah seperti ini,"

 Bacaan selanjutnya

Ustadz juga manusia                                                                     Kaum La Ya'lamun

No comments:

Post a Comment