Malam yang enggan menjadi pagi - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, February 9, 2018

Malam yang enggan menjadi pagi

Alasan mengapa begitu banyak kesalahan berpikir terus terwariskan bukan hanya karena tidak adanya orang-orang yang tahan untuk menyelidikinya. Tetapi juga raa malas yang mengakar, yang menjelma seakan benar, lalu akal membela, dan jadilah jiwa kita seperti malam yang menolak datangnya pagi._Jon Q_

"Apa perbedaan jin dan setan?" Joan melanjutkan.

"Jin, seperti malaikat dan manusia, ada wujudnya," dialog itu semakin mendalam. "Setan dari kata sya-tho-na, artinya penggoda. Dia bukan wujud, bukan dzat, seperti tingkatan dzat yang kita bahas tadi (tulisan sebelumnya), iblis dan setan itu sifat, yang berada dalam diri jin dan manusia. Ada jin yang kesetanan, ada juga manusia yang kesetanan, minal jinnati wa nas,"

"Jin kesetanan?"

"Jin kafir," lanjut Jon. "Kamu masih ingat dengan diskusi kita tentang kembaran kita yang berada di kepala kita?"

Joan mengangguk.

"Saat kita sholat, atau yang paling jelas, saat kita naik motor, biasanya ada yang mengajak kita bicara, membayangkan sesuatu, mengorek-ngorek ingatan yang telah terpendam dari dalam kepala kita. Siapa dia? Dia adalah kembaran kita. Carl Jung (psikolog Jerman) menyebutnya 'kabut ilusi'. Dan semua kembaran kita adalah kafir. Kenapa? Apa tandanya?"

Joan menggeleng. Berpikir keras.

"Dia mengajak kita untuk melupakan Tuhan, untuk merenungkan alam, untuk mendekatkan diri pada Diri Kita yang lebih besar."

"Bagaimana cara untuk mengalahkannya?" tanya Joan.

"Tak bisa dikalahkan. Tapi sebentar, aku penjelasan tentang ini belum selesai," kata Jon. "Mengapa kembaran kita semangat sekali menggoda kita? Darimana energi yang ia dapatkan untuk hidup? Mengapa kembaran Nabi Muhammad tak bisa berkutik?"

Joan menyimak dengan menyenderkan kepalanya di bahu Jon.

"Mengapa dia menggoda kita? Karena dia termasuk jin yang kesetanan. Darimana energi hidup yang ia dapatkan? Dari tiap hembus, sekecil apapun keinginan kita. Mengapa kembaran sang nabi menjadi 'linglung'? Karena beliau telah sempurna menundukan hasratnya,"

"Jin tercipta dari api tanpa asap, mim marijim min naar, atau asumsi kita tadi, plasma," Jon melanjutkan. "Tiap yang menjadikanmu terasa panas, kebencian, dendam, marah, prasangka buruk, itu tanda kembaran kita telah berhasil menggoda kita, kita memilih untuk mendengarkannya daripada akal sehat kita,"

"Bagaimana membedakan suara kembaran kita dengan akal sehat kita?" tanya Joan.

"Itu tadi, jika keputusan kita dipengaruhi pikiran negatif, maka itu bukan dari akal sehat kita. Jika kita menutup pikiran, merasa sudah benar, dan orang lain salah, bahwa memperluas wawasan itu bikin capek, itu ulah kembaran kita,"

"Paham, paham," ucap Joan. "Sekarang jelaskan jin yang mewujud, ya?" rayu Joan.

"Maksudnya penampakan?"

"Iya, iyaa,"

"Bagi jin-jin yang kuat, mereka memiliki kemampuan untuk mengumpulkan energi yang diserap dari manusia. Dari energi itu, mereka membuat semacam 'wadah', yang menjadikan mereka bia memasuki wadah itu dan masuk ke dimensi empat ini - dunia,"

"Dari mana kamu tahu?" tanya Joan.

"Hukum kekekalan energi, Newton," Jon melanjutkan. "Dan jika kita punya ilmunya, kita bisa menyerap energi yang jin kumpulkan itu menjadi milik kita,"

"Lho, buat apa? Kamu tahu darimana?"

"Dari kisah Nabi Sulaiman. Dia punya prajurit jin yang bisa menyelam dan ahli bangunan, itu ilmunya beliau,"

"Yakin?"

"Baru asumsi sih," Jon nyengir. Joan mencubit perut Jon.

"Dasar tukang mengkhayal. Ayuk, lanjut Isya dulu,"


Bacaan selanjutnya

Wujud zat kelima                                                                            Tuhan tak harus ada       

No comments:

Post a Comment