Man ulil amri min kum - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, February 6, 2018

Man ulil amri min kum

Seorang pemimpin harus hidup lebih menderita dari yang dipimpinnya. Jika tak mau lebih menderita, jangan jadi pemimpin. Menganggap mereka yang dipimpin sebagai wujud lain dari dirinya. Ia tak boleh menyakiti dirinya dalam wujud yang lain itu. Tapi wujud yang lain itu sangat boleh melukainya : membencinya, memprasangkainya, menghinanya, mendendamnya._Jon Q_

 "Si Jon jangan-jangan ke Bandung buat ikut aksi 212 di Jakarta, Beth," sangka si Bon.

 "Wah, sialan. Kita ditinggal begini saja?" sambung Dul.

"Bener, Mas?" tanya Tum pada Beth.

 "Kita ini sudah bersama Jon beberapa tahun ini," Beth mulai membuka suara. "Daripada kalian curiga tanpa bukti begitu, mending diam. Lagipula, Jon pernah bilang, dia bukan pemimpin kita dan kita bukan pengikutnya. Kalaupun dia pergi 'jihad' (berjuang) sendiri ke sana tanpa kita, kan memang harus ada yang tetap 'menjaga ilmu'. Agar ketika para pejuang mati, ilmunya tetap hidup,"

"Tapi kalau aku perhatikan," Lee melanjutkan. "Kenapa Mas Jon nampak acuh tak acuh pada dunia ini ya? Serasa gak niat hidup, gak ada greget buat ambisi apa.... gitu,"

"Dulu aku pernah diskusikan itu dengannya waktu awal-awal bertemu," Beth menjelaskan. "Dia nampak terlalu lemah untuk menjadi seorang anak muda. Tapi dugaanku salah, aku diterangkannya tentang 'fase pesimistik terbalik,"

"Apa itu Beth?" tanya Bon. "Aku kok belum dijelaskan yang itu sama si Jon ya?"

"Mungkin terkesan pelit si Jon itu kalau menjelaskan hal-hal yang beginian," lanjut Beth. "Karena kebanyakan orang cuma semangat di awalnya saja. Setelah dijelaskan, mereka menyerah, kalah, dan seakan penjelasan si Jon itu percuma,"

"Dia mengutip Jhon Stuart Mill, seorang tokoh berkebangsaan Inggris yang mengalami 'keruntuhan mental. Mungkin tiap orang besar mengalami ini, termasuk Soe Hok Gie, yang wafat di Semeru sana."

"Fase pesimistik terbalik itu ketika hidup tak berasa lagi, tak enak lagi, tak ada yang membuatmu bergairah lagi, tak ada yang menyenangkan lagi, kita bisa tertawa atau menangis atau bermain, tapi tak membuat hati kita bergairah lagi. Tak berhasrat apa-apa lagi. Orang tersebut terlihat sangat lemah, lelah, menyerah dalam hidup, tapi sebenarnya ada energi 'lompat katak' (tersimpan) yang begitu besar yang siap menyelesaikan banyak persoalan dunia,"

"Mas Jon pernah mengalami itu, Mas?" tanya Tum.

"Katanya sih iya,"

"Gila, hidup tak berasa apa-apa? Bayanginnya saja aku tak kuat," kata Lee.

"Yang aku perhatikan," Beth melanjutkan. "Dia seperti kita, yang sedang sangat rindu bertemu pemimpin yang bisa bergerilya atau berhadap-hadapan langsung melawan musuh yang sedang bergerombol merampok negeri ini,"

"Siapa, Mas?"

"Siapa apanya?"

 "Pemimpin itu?"

"Ya itu yang sedang kami cari,"

"Yang merampok?" kejar Tum.

"Jalan-jalan desa diperbaiki, ternyata itu bukan untuk pribumi. Tapi persiapan datangnya kaum imigran tiongkok ke sini. Operator seluler mau diserang bersamaan, karena sebentar lagi bukan handphone cina yang berserakan, tapi juga operator jaringan, pulsa, teknologi, dan kita dijadikan konsumen pemberi banyak untung, atau paling tinggi jadi pelayan-pelayan mereka. Pertambangan kita mulai dimasuki mereka, karyawan dari sana, import apa saja dengan imbalan hutang luar negeri, sistem politik, pendidikan, media massa, kita semua sudah berada dalam genggaman mereka."

"Itu kenapa mereka mengira, hanya dengan berkumpul pada 212, dan meminta pada 'bapak', semua sistem itu akan diperbaikinya?" Tum tak puas.

"Mereka berharap 'sang bapak' akan menyelamatkan ibu pertiwi nusantara ini yang sedang diperkosa dan dirampok?" Lee ikut baper.

"Dan kenapa si Jon tak muncul-muncul dalam keadaan begini? Kita akan ikut serta dalam gelombang 212 atau tetap pengecut menganggap diri netral?"

"Man ulil amri min kum?" tanya Beth.

Siapa pemimpin kalian? Ulama? Yang mana? Atau sekedar si Jon yang sesat itu? Siapa yang akan kalian ikuti?

Bacaan selanjutnya

Nuansa Jabal Uhud                                                               Ungkapan cinta semesta    

No comments:

Post a Comment