Membenci kebencian - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, February 4, 2018

Membenci kebencian

Biarlah kebencian dan segala keburukan sifat tetap ada di dunia ini, tapi jangan biarkan mereka memasuki hatimu. Aku biarkan setan mengalir di dalam darahku, tapi tak akan ku biarkan ia memasuki hati, karena dalam hatiku sudah dan hanya ada cinta._Jon Q_




"Kenapa akhir-akhir ini masyarakat lebih mudah benci dan terpengaruh, Mas?" Tum menambahkan pertanyaan Lee, mengapa Islam yang merupakan cinta untuk seluruh alam, tapi ummatnya tak mampu mengontrol rasa benci.

"Aku juga masih memikirkan itu," jawab Jon. "Jawaban memuaskan untuk diriku sendiri belum terjawab. Mengapa ya, kebencian masyarakat akhir-akhir ini begitu dahsyat,"

"Mungkin itu karena bapak-bapak kita yang di atas, Jon," kata Dul. "Mereka menyelenggarakan skenario politik kebencian, kerancuan, kebijakan-kebijakan yang membahayakan tanah air,"

"Tapi memang harus kan, membenci yang Islam benci," Bon menambahkan. "Ayatnya sudah jelas kok, kafir, musyrik, sifat-sifat iblis dan dajjal harus kita perangi,"

"Apa yang dimaksud kafir, Mas Bon?" tanya Tum.

"Lho, mereka yang menuhankan selain Allah itu kafir, mereka yang Islam tapi mendukung yang bukan Islam itu munafik,"

Jon terkekeh.

"Kenapa ketawa, Mas?" Lee keheranan.

"Kalau ikut merayakan Natal, misalnya, itu bagaimana, Bon?" Beth ikut memancing.

"Siapa yang mengikuti suatu golongan, dia termasuk dalam golongan itu," Bon mengutip hadits - dhoif. "Sudah jelas kok, 25 Desember itu bukan kelahiran Isa. Ikut merayakannya adalah bentuk kekafiran kecil, tapi kecil atau besar tetap saja kafir,"

 Jon tertawa, kali ini agak keras. Diikuti Beth, mereka tertawa terbatuk-batuk.

 "Kalian aneh," gumam Dul.

"Menurutmu, sebagai sejarawan bagaimana, Jon, menyikapi Natal?" tanya Beth setelah berhenti tertawa.

"Sebagai sejarawan aku berdiri di tengah-tengah, netral," kata Jon. "Betul, ulama itu penerus para rasul, tapi mereka bukan nabi atau bahkan rasul yang gak bisa salah. Yang kita ikuti bukan orangnya, tapi ajarannya apakah segaris lurus pada rasul atau tidak. Itupun baiknya sesuaikan konteksnya. Ada kyai atau habib yang mengutip ayat tentang orang kafir, dan seterusnya, lalu di dalam qur'an memang begitu. Tapi konteksnya kita lihat dulu, misal pakai pengibaratan, kucing suka ikan, tapi apa ia kucing mau menyelam ke sungi atau laut? Apalagi di laut ada Anjing laut, kucing kan takut anjing," Jon terkekeh.

 "Sebagai sejarawan, aku katakan tanggal 25 bukan kelahiran Nabi Isa, tapi kata siapa aku tak merayakannya? 'Kebetulan' saja tahun ini jatuh di hari Minggu, kalau di hari kerja, kita semua merayakannya. Lho apa? Libur nasional. Hanya mengormati? Sebagaimana ketika kita membiarkan kemungkaran berarti kita mendukungnya, menghormati itu juga kita merayakannya secara tidak langsung. Kalau bukan hari raya kita, kenapa kita meliburkan diri? Sebagaimana kita merayakan kelahiran Nabi Muhammad, kalaupun tanggal kelahiran Nabi Isa kita tahu, Insya Allah kita juga merayakannya,"

Bon terdiam.

"Tapi, Mas, aku gak setuju," kata Tum. "Kalau begitu, nanti kita tak bisa membedakan, mana orang-orang yang setia dengan ajaran Islam, dan mana yang senang mencari keuntungan. Islam ikut, agama lain juga ikut,"

"Lha terus?" tanya Beth.

 "Apakah memang tak boleh membenci keburukan, memeranginya, menjadi Islam 'murni' atau kaffah? Kalau begitu, kenapa rasul dulu harus perang berkali-kali?" lanjut Tum.

"Yang lebih penting lagi, membenci kebencian," kata Jon. "Kita mencintai keburukan, dengan cara menjauhinya, menjauhi sifatnya, bukan orangnya. Buang 'bajunya', bersihkan orangnya. Perangnya rasul tanpa kebencian, juga para sahabat, masih ingat kisah Ali ra, yang akan membunuh seorang kafir yang meludahinya, lalu ia tak jadi membunuh?"

Mereka mengangguk.

"Kita sudah bahas kemarin (catatan sebelumnya), Islam dibela bukan karena Islamnya, tapi karena ada orang-orang lemah yang teraniaya di dalamnya, maka rasul perang, melindungi agar orang-orang lemah itu tak terbawa mereka, lawannya. Kita menjadi pembenci, pendendam, dan sebagainya karena kita kehilangan sosok pemimpin, sang imam, dan menjadikan kita para jamaah ribut sendiri, saling tuduh, saling benci, saling dendam, di dalam masjid kecil. Sedang di luar sana, para musuh merajai tiap sisi-sisi bumi kita, Indonesia, masjid (tempat sujud) yang lebih besar yang seharusnya kita fokus membentengi itu,"

Bacaan selanjutnya

Perpisahan                                                                                     Mari Berjatuh cinta lagi

No comments:

Post a Comment