Mendaki tinggi - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, February 26, 2018

Mendaki tinggi

Tidak ada jumlah ibadah yg akan menjadikan Tuhan lebih mencintaimu daripada orang lain (Deepak Chopra). Manusia hanya akan mendapatkan rasa sakit jika memaksakan diri, membenturkan kesalehannya dengan apa yg menimpa pada dirinya. Ujian hidup, tak bisa tidak, menuntut akal semakin tinggi mendaki pemahaman._Jon Q_

Di perkampungan yg sangat kental tradisi tasawufnya, terlepas lurus atau menyimpang, banyak sekali orang-orang yg menggantungkan diri pada dzikir atau wirid dalam jumlah tertentu. Dzikir ini dengan jumlah sekian agar dagangan laris, dzikir itu dengan jumlah sekian agar enteng jodoh, bikin rumah, atau bahkan mematikan hidup orang. Benar salah bukan fokus tulisan ini. Memang banyak orang yg, entah iman kuat atau lemah, bergantung pada hal-hal begitu. Berhasil atau gagal, itupun relatif. Yg pasti kegagalan, bukan cuma untuk ahli wirid, semua orang merasa tertekan. Kegagalan biasanya terlihat berwajah buruk.

Semua agama menyembah Tuhan yg Esa. Apapun agama itu. Tapi mengapa ada yg menyembah patung, gambar, arca? Para pemuka agama mereka menganggap, patung dkk. itu menjadi 'sarana fokus' menuju Tuhan yg Esa. Menjadi wasilah, tawasul, jalan, untuk mencapai Tuhan, bagi mereka yg awam. Mereka yg mampu fokus tanpa itu, berada pada tahapan keimanan yg kuat.

Dulu, pertama kali ungkapan 'berhentilah berharap bahkan pada Tuhan', seorang sahabat mencoba menyangkal. Ia pernah hidup di pesantren, pemikiran yg diungkapkan itu terasa menyesatkan.

"Berharap itu boleh, yg tidak boleh itu pamrih," katanya.

Dalam ungkapan itu tak termaksud larangan atau kebolehan berharap pada Tuhan. Harap atau pamrih, itu manusiawi. Tapi ungkapan itu adalah tahapan tertinggi. Dzikir atau ibadah apapun, mengapa harus diharapkan kemudahan atau surga hanya untuk melakukannya? Kemudahan dari ibadah atau dzikir atau kebaikan apapun adalah konsekuensi, akibat, imbalan. Dan jika itu tak terasa mendapatkannya, mengapa harus merasa dibenci atau tak dianggap oleh Tuhan? Tanpa keberharapan itu pendakian tertinggi, bahwa tanpa imbalanpun seseorang akan tetap beribadah, berbuat baik.

Jika dibenturkan ibadah dengan ujian hidup, maka Tuhan seakan kejam. Nabi Ayub tersiksa penyakit parah puluhan tahun, dia nabi. Nabi Sulaiman kaya, memiliki 'sulthon' (kekuasaan) yg membuatnya mampu mengendalikan angin, jin, dan berbahasa binatang, ia beristri lebih dari 40, tapi tak memiliki anak, dia nabi. Jika kemudahan dapat dibeli dengan dzikir dan ibadah, di mana tes-nya? Di mana ujiannya? Di mana perjuangannya? Pemuka agama akan berkata, dzikir dengan jumlah tertentu itu juga perjuangan. Mungkin benar. Tapi bagaimana dengan mereka yg beribadah biasa saja tapi dagangannya lancar, punya banyak anak, enteng jodoh? Pemuka agama mungkin akan berkata lagi, itu ujian. Benar, itu ujian. Lalu untuk apa beribadah dikhususkan, jika Tuhan nampaknya acak memberi kasih-Nya? Ia rajin ibadah tapi belum beristri, miskin, terhina. Tapi yg lain ibadahnya biasa saja dan hidup sejahtera : dengan istri, anak, dan harta. Lalu mengapa ibadah itu harus terbesit keberharapan?

Bacaan selanjutnya

Pendakian                                                                                    Turunan yang lebih tinggi

No comments:

Post a Comment