Nuansa Jabal Uhud - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, February 4, 2018

Nuansa Jabal Uhud

Jabal uhud menjadi antitesis (timbal balik) dari perang Badar. Pasukan yang bergembira mengira musuh telah kalah hanya karena jumlah, hanya karena lawan seakan terpukul mundur, lalu semuanya menjadi nyaris hancur. Mujahid menjadi syuhada, dan sang nabi pun terpukul sampai gerahamnya patah. Kemenangan adalah proses terus menerus dalam berjuang, tidak ada titik final. Hidup mulia, atau mati sebagai syuhada._Jon Q_



"Tapi, Jon," Beth memotong uraian hikmah yang lebih seperti rentetatan peluru kopasus pada pikiran mereka. "Kau mungkin lebih paham dari kami, kau mungkin lebih prihatin tentang negeri ini daripada kami, tapi apakah tak bisa pelan-pelan saja?"

"Setuju, Beth," Bon mendukung. "Kenapa kau ini? Apa tak bisa kita belajar seperti biasa, pelan-pelan saja?"

 "Mungkin benar kami tak memiliki disiplin berpikir sepertimu, Jon," Dul menambah. "Tapi apakah tak bisa seperti biasa, bertahap, pelan-pelan, bijak lah. Tak semua anak muda mengalami pengalaman batin sepertimu. Kau ini emosi apa lapar?"

"Lapar, Dul. Yakin sung," Jon menelan makanannya. "Dinung (minum) dulu ya Jahe-nya,"

Mereka tertawa tertahan melihat ekspresi bloon si Jon. Seperti anak kecil yang mudah berkelahi mudah bermain, tak ada emosi yang menempel di hatinya terlalu lama.

"Tapi setidaknya, bukankah sangat baik, kalau kita pernah berada dalam gelombang sejarah yang baru tercipta?" Tum memulai lagi.

"Jika itu kebaikan, mengapa kita tak mengikutinya, kalau itu bukan kebaikan, mengapa para ulama mengikutinya?" Lee menguatkan.

"Kalau bukan putih, maka hitam, begitu ya?"

Mereka terhenyak, teringat diskusi-diskusi sebelumnya tentang spektrum dan lima wujud zat.

"Anggap kita ikut dalam jamaah jihad kemarin," Jon mulai menanggapi. "Apa yang kita lakukan setelah pulang jihad dari sana? Mencari uang, rekayasa jabatan, keamanan finansial, hutang? Mana semangat jihad kemanusiaan dan tauhid yang sebesar kemarin? Kita pulang, memikirkan diri sendiri lagi, mementingkan hidup diri kita sendiri lagi? Apa kita kira setelah sholat kita boleh tak mengingat Allah? Apakah setelah pulang berjihad lalu ke-istiqomah-an semangat itu tak diteruskan dalam kehidupan sehari-hari?"

"Kau ini setuju atau menolak sih, Jon?" tanya Dul.

"Di depanmu ada anak-anak remaja yang sedang meraba-raba pemikirannya. Kau malah mengajarkan kebencian," Bon menambahkan.

"Aku tak sedang dalam posisi itu, anggap saja aku munafik, pengecut," Jon membalas. "Aku dalam kondisi bertanya, meragukan, dan di awal aku bilang, anggap kita mengikuti itu. Kalian salah besar kalau menganggap apa yang aku ucapkan selalu benar, tak bisa salah, atau final. Kita belajar agar terus menggali, mengecek kembali apa yang telah kita bahas sebelumnya."

"Siapa yang kita ikuti? Siapa yang mengimami perjuangan hidup kita secara menyeluruh?" Jon melanjutkan. "Ulama? Kyai? Habib? Kita tak mengikuti orang, yang kita ikuti saat ini adalah sifat. Kebaikan mereka, bukan orangnya. Karena satu-satunya orang yang wajib kita ikuti, baik sebagai manusia, sebagai hamba Tuhan, atau sebagai pribadi, hanya rasulullah. Kita mengikuti ia yang hidup segaris derita dengan rasul. Bisa kaya, tapi memilih miskin. Bisa pamer tapi memilih tersembunyi, bisa merajai tapi memilih derajat rakyat. Yang sering kelaparan, menangis dalam sujudnya, dan tak memiliki kemewahan apapun baik itu sandang, pangan, atau papan-nya. Dan kita berkumpul rutin seperti ini agar Allah berkenan kita bangun jalan menuju rasul lewat ilmu dan ngaji,"

"Mas Jon menyindir kemarin yang pakai lamborghini, ya?" Lee menggoda. Nampaknya semangatnya berjihad sudah terjawab.

 "Aku tak peduli," jawab Jon cuek. "Kalau memang merasa kaya, aku sangat berharap ada hartawan muslim yang membeli sawah-sawah yang dijadikan perumahan itu. Sawah dan lahan kosong menjadi bidikan para taipan, dan petani kita tak bisa apa-apa. Mereka menanam padi, jagung, kedelai, pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Tapi ternyata bapak kita di atas sana malah impor beras, tepung, kedelai, bagaimana ini? Aksi kemarin kan, Masya Allah, 7,4 juta orang. Berapa orang yang berjuang dalam pendidikan, agar sistem pendidikan kita tak membodohi? Berapa yang berjihad dalam wilayah bisnis, yang bisa bersaing dengan para makelar tiongkok?"

"Kau ini seperti benci sekali dengan cina, Jon?" Beth memotong. "Kau bilang sendiri, jangan mengajarkan kebencian, kan?"

"Aku sedang menjelaskan kondisi saat ini, bray," Jon menyanggah. "Jumlah kita seperti bernuansa jabal uhud. Kita terkena euforia ledakan massa, dan mengira telah menang, sedang mereka yang kita takuti dengan jumlah yang banyak itu, diam-diam telah membidik tepat di atas kepala kita,"

"Mengapa Tuhan tak menolong kita, mas?" Lee menelikung ke tema teologi.

Bacaan selanjutnya

Dua jalan                                                                                     Hak-hak sisi gelap


No comments:

Post a Comment