Priyayi ethic - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, February 27, 2018

Priyayi ethic

Tiap orang dapat menganggap dirinya sedang bahagia. Aku pun punya definisi. Orang bahagia tak punya ambisi. Ia bermimpi, tapi bekerja keras tanpa keinginan diri. Hidup di luar batas nilai umum kebanyakan orang. Karena nilai akhirnya akan ditinggalkan tak berguna bahkan untuk membeli makan._Jon Q_

Bahwa banyak orang menganggap Jon aneh, benar. Tak taat pada sebagian aturan, betul. Sulit diatur, ia juga tak menyangkal. Sakarepe dewek, mungkin juga benar. Karena jaman sekarang tiap orang merasa menjadi Tuhan. Tiap perintah atau bahkan saran harus dilaksanakan. Tiap orang merasa sanggup menjadi pemimpin, sedang memimpin mata sendiri untuk berkedip dengan sadar atau mengantuk pun tak bisa.

Namanya etika priyayi, priyayi ethic. Mental penguasa, merasa punya kendali pada apapun, siapapun. Hidup dalam penilaian orang lain. Tak mau mencari lebih banyak, lebih dalam, bahwa di atas aturan ada alasan, di atas alasan ada ilmu, di atas ilmu ada cinta, dan di atas semua itu adalah Tuhan yg menyelimuti tahapan-tahapan itu.

Etika priyayi diwariskan, diajarkan penjajah pada golongan ningrat jaman dulu. Anak wedana, bupati, tak boleh main dengan anak babu, apalagi rakyat. Baju pun begitu, tak boleh menyerupai anak budak apalagi rakyat. Ini alasan, bahwa priyayi memang harus nampak terhormat. Hidup dalam penilaian manusia. Kehormatan yg diberikan manusia.

 Di atasnya ada ilmu. Bahwa seekor kambing tetap kambing meski memakai gamis dan sorban. Terlebih kambing itu jenggotan. Jati diri manusia tidak berada pada pakaiannya. Meski juga sebaiknya sewajarnya, seadanya.

 Di atasnya lagi ada cinta. Siapa yg kau cintai? Rasul, raja, presiden, penguasa, jabatan, atau apa? Cinta yg membuat orang tak lagi terkurung batas-batas, label-label, gelar, pangkat, keturunan, dan yg berkaitan dengan tema ini, penilaian orang.

Dalam cerita ini, si Jon, ia belajar agar mencintai nabi dan Tuhannya melebihi segalanya. Hidup di luar batas kekinian, aneh, misterius, sakarepe dewek, tapi juga tak membenci siapa saja yg menilainya jelek. Ia tak taat pada etika priyayi, yg menjadikan keluarga kakeknya yg lurah itu, sebal. Juwet, gregetan, ada keponakan yg disindir tak mempan, diejek tertawa, tapi sekali bicara mempermalukan keluarga besarnya yg menjunjung etika priyayi itu.

"Kamu itu guru, kepala sekolah, bajunya yg layak!" kata sedulurnya.

 "Yak guru atau kepala itu di sekolah, yak wajib pakai baju dinas. Di rumah yak aku bocah biasa. Kaos suwek, sendal jepit beda warna," jawab Jon sakarepe dewek.

#guru #pendidik #priyayi #cinta
Bacaan selanjutnya

 Lelaki purba                                                                                       Muda tuanya mentalitas             

2 comments:

  1. Mental penjajah yg selalu ingin menguasai dan merasa paling benar...

    ReplyDelete
  2. Namanya naluri berkuasa. Ini salah satu tanda sakit jiwa, bahwa manusia memikili kuasa pada manusia lainnya. Semoga kita terhindar.. 😊☕

    ReplyDelete