Qutiba alaykumul qital - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, February 6, 2018

Qutiba alaykumul qital

Perang, jihad, atau perjuangan sekecil apapun, wajarnya tak boleh terburu-buru 'mengangkat pedang'. Ada hal-hal yang memang tak perlu lama-lama berpikir untuk bertindak menyelesaikannya. Tapi, musyawarah itu selalu menjadi jalan terbaik, meski tak jarang berakhir adu kekuatan sebagai kesepakatannya._Jon Q_





"Absurd?" Jon menyela dari belakang mereka. "Alasannya?"

"Iya, mereka yang datang ke sana adalah orang-orang suci, para ustadz dan kyai," lanjut Tum menyembunyikan rasa kaget melihat kemunculan si Jon. "Apakah tidak mungkin kita berada dalam golongan kafir atau munafik seperti yang mereka katakan?"

Jon tersenyum. Ia merapikan diri untuk duduk kembali.

"Anggap kita memang munafik atau kafir," Beth bicara sebelum sempat Jon mengucapkan kata. "Siapa yang memfatwanya dan apa hukuman lahiriah dari fatwa itu?"

"Hukuman lahiriyah?" kali ini Lee yang gagal paham.

"Ya. Coba Jon, ente yang jelaskan kisah tiga orang munafik di perang badar atau uhud yang memilih tak mau berangkat berjihad," kata Beth.

-_-'

"Ada kisahnya di surah at taubah kalau nggak salah," Jon mulai mendongeng. "Tiga orang yang difatwakan rasul sebagai orang munafik dan tak boleh berkomunikasi dengan mereka selama 40 hari, sekalipun itu di masjid."

"O, yang takut mati karena istrinya cantik dan kaya, ya?" potong Tum.

"Intinya, mereka takut mati dan menggoda yang lainnya agar tak ikut perang," Jon melanjutkan. "Perang melawan orang-orang kafir menjadi satu keharusan, karena orang-orang muslim lemah yang dikhawatirkan berubah keyakinan jika kita tak memeranginya. Ada banyak pertimbangan sebelum kita perang, meski tak benar juga jika kita, seperti kata kamu tadi, menjadi blunder atau absurd tak jelas tindakannya,"

"Pertimbangan agama harus dijaga karena ada ummat yang lemah di dalamnya, bukan karena agama itu sendiri. Mengatasnamakan Tuhan, membawa ayat-ayat qur'an, tak menjadi ukuran itu benar. Karena jika begitu, perang antara Ali ibn Abi Thalib dan Aisyah ra. atau antar sesama muslim yang lain menjadi benar."

"Ayat 'qutiba alaykumul qital', diterjemahkan 'Diwajibkan atas kamu berperang'. Dan ternyata kita tahu, perang itu ada ilmunya, ada strateginya, ada pemetaannya, ada persiapan-persiapan kejadian tak terduga dan lain-lain. Lebih jelas lagi, aku bukan imam siapapun kecuali istriku. Aku bukan pemimpin siapapun, karena aku juga seorang makmum yang bersama makmum yang lain saling menengok ke belakang menunggu seorang imam pilihan Tuhan,"


Bacaan selanjutnya

Dimanakah cah angon itu                                                     Man ulil amri minkum

No comments:

Post a Comment