Rahbaniyah - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Wednesday, February 7, 2018

Rahbaniyah

Pembelajaran paling berat adalah mendamaikan diri sendiri. Dari keinginan, dari apa yang kita suka, dari apa yang menurut banyak orang nge-trend, populer, atau apapun yang membuatmu merasa senang. Hanya anak kecil, yang hidupnya terus menerus terpenjara dalam senang dan sedih, saat senang tertawa, saat sedih menangis. Belajarlah seperti orang-orang yang telah ke surga, la khoufi wa la yahzan. Tidak ada rasa takut dan kesedihan lagi pada diri mereka._Jon Q_

 "Dulu, sebagian teman kuliah dan organisasi juga menganggapku homo, rahib (orang yang melakukan rahbaniyah / tidak menikah)," kata Jon pada istrinya! Mereka sedang membahas tentang kondisi kejiwaan orang-orang yang menyimpang kecenderungan seksualnya. "Aku dekat dengan banyak wanita - cantik, tapi masa iya jaman segini ada laki-laki di dekat banyak wanita tanpa ada hasrat apa-apa?"

Bahwa si Jon aneh, irasional, dia mengakui itu. Mungkin menurut orang yang fanatik, Jon itu munafik. Mana ada di jaman ini orang waras yang tak suka wanita, uang, ketenaran, jabatan? Mereka terburu-buru menyimpulkan, bahwa Jon juga menyukai itu, menginginkan itu, tapi pembelajaran yang ia dapatkan dari Tuhannya begitu ketat. Apa saja kemewahan yang ada di dekatnya, ia tak boleh berada di dalamnya. Itu mungkin kenapa ia gagal berkali-kali tentang cinta, karena mendatangi wanita-wanita yang bernilai terlalu tinggi di hadapan dunia. Si Jon 'dipaksa' agar melepaskan kemewahan tapi tak boleh meninggalkannya.

"Secara umum, para penyuka sesama jenis dikarenakan terlalu sering disakiti, atau kemungkinan kedua, terlalu banyak berzina sampai ia ingin mencoba dengan sesuatu 'yang lain', yaitu sesama jenisnya," Jon melanjutkan. "Tapi ada kasus lain, jarang terjadi tapi ada. Yaitu seseorang yang agamis, rajin sholat dan puasa saat ramadan, tapi gagal mendalami agamanya secara filosofis dan teologis, sampai ia diam-diam enggan menikah dan lebih aktif dalam organisasi penyuka sesama jenis,"

Bacaan selanjutnya

Dirobotkan                                                                                     Kasyafah

No comments:

Post a Comment