Sandalnya Nabi Adam - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Friday, February 9, 2018

Sandalnya Nabi Adam

Dua hari menjelang empat bulan usia Alfa. Setiap aku melihat wajahnya yg aku jadikan latar belakang hp, seringkali aku menyesal merasa belum mampu menjadi ayah yg baik. Atau, jangankan untuk menjadi ayahmu, menjadi seorang ayah pun aku belum pantas. Setidaknya, itu kata sebagian orang. Apa alasannya? Lihat penampilanku, tubuh, pakaian, wajah blo'on, gerak tubuh, bicara, di hadapan sebagian orang aku ini bocah gembel yg jangankan menjadi ayah, menikahpun mereka kira belum, atau bahkan tidak. Tapi, pikiranku selalu berontak. Sejenak aku setuju dengan penilaian orang, tapi selanjutnya setelah sejenak itu pikiranku selalu melawan. Ini yang membuat banyak orang-orang dewasa di sekitarku menganggapku belagu, keras kepala, goblok. Dan tulisan ini pun, akan menjelaskan tentang pikiran.

Tuhan bilang, sebagai manusia kita jangan seperti nenek moyang kita, Adam dan Hawa yang tergoda oleh setan lalu diusir dari surga. Dari awalnya penuh kenikmatan dan berpakaian sutra emas, menjadi penuh derita dan menutupi aurat dengan dedaunan. Sau-atuhuma, aurat mereka terlihat setelah 'mencicipi' pohon terlarang (ini akan aku jelaskan nanti di esai bersambung berjudul 'perkenalkan aku iblis') . Wa thofiqo yakhshifani alaihima, dan menutupi aurat mereka yg kini terbuka. Min waroqil jannah, dengan daun-daun surga. Mereka menutupi aurat, pakaian sutra emas mereka terambil dan telanjang. Mereka menjadikan dedaunan sebagai pakaian, namun kaki mereka tetap telanjang. Kapankah Nabi Adam mulai pakai sandal setelah auratnya ditutupi pakai daun?

Ashar lalu aku terkulai lemas dalam sholatku. Merasa hina, tak memiliki apapun yang mampu aku banggakan di hadapan-Nya. Ibadahku kacau, kerjaku malas, cinta untuk keluarga belum penuh, dan aku miskin. Para penyembah patung agaknya lebih baik, karena mereka mampu memberi sesaji pada patung-patungnya. Mungkin itu yang menjadikan Tuhan mereka senang dan tetap memberi kekayaan pada mereka. Tapi untuk Tuhanku, apa yg akan aku persembahkan? Ibadahku tak ada harganya, karena Dia berbuat baik bukan karena kita rajin ibadah. Tapi karena Dia Jaiz, rahman, memang 'dari sononya' maha pengasih. Ilmuku, ya ampun. Ilmu apa yg aku banggakan di hadapan-Nya? Justru Dia-lah yg berkehendak memberi kita sedikit ilmu-Nya. Lalu apa? Dan ashr itu pun Tuhan 'mengusap' pikiranku.

Di hadapan-Nya, manusia harus tanpa apa-apa, 'telanjang', tanpa penutup tanpa terompah (sandal). Adam menutupi auratnya karena ia tak diterima di hadapan-Nya lagi. Tubuhnya telanjang, juga kakinya. Jasad harus ditutupi dengan alasan kesehatan dan moral, sedangkan telapak kaki justru harus tetap telanjang agar tetap terjaga dalam kesehatannya. Tapi kini terbalik, orang-orang saling memamerkan 'bungkus kaki', sedang seharusnya itu tetap terbuka agar terjaga kesehatan raganya. Apa hubungan telapak kaki dengan kesehatan raga? Itu seperti pertanyaan dari dalam diri, "Mengapa jiwa yang tersiksa (sedih), tapi yang harus menanggung beban adalah mata (dengan menangis)? Pikiran, jawabannya pikiran.

Pikiranku 'bangun', bahwa selama setahun ke belakang aku terlalu takut dan mengejar keinginan. Jiwa kita berada di tengah-tengah antara ketakutan di belakang kita dan rasa ingin di depannya. Jiwa kita lari kesana-kemari, karena dikejar rasa takut dan mengejar keinginan. Hasil akhirnya hanyalah lelah. Karena pikiran seharusnya sadar, ia memiliki jasad yang tidak bisa bergerak secepat pikiran ketika membayangkan meraih sesuatu. Jasad memiliki sistematika gerak yang sangat berbeda dengan jiwa. Jika jiwa mampu mencapai apa yang diinginkan dalam sekejap di dalam pikiran (meraih keinginan tapi hanya dalam pikiran), jasad tak mampu melakukan itu. Dan jasad juga harus sadar, ia memiliki pikiran yang mudah tergoda oleh setan. Apa itu setan? Adalah jalan yang telah dibuat oleh iblis (jin primordial) di dalam tubuh manusia. Ketika Adam masih dalam bentuk tanah, belum ditiupkan ruh, Jin (iblis) mengejeknya dengan keluar masuk dari mulut ke anus Adam. Dia membuat jalan agar keturunannya dapat menggoda manusia lewat jalan itu. Nah, jalan itulah yang kini disebut 'setan'. Jalan yang digunakan Jin yang mampu memasuki jasad dan bersembunyi di 'jalan' itu, lalu melempar keinginan ke dalam pikiran. Jadi alurnya begini, Jin masuk ke 'setan' (jalan godaan), melemparkan keinginan ke dalam pikiran, dan ketika pikiran tergoda, maka pikiran akan bergerak kesana kemari dihimpit rasa takut di belakangnya, dan keinginan di depannya. Pikiran ditipu, jasad kelelahan, karena mengikuti pikiran yang tak tahu kodrat jasad. Bersambung.

Umah, 21 Januari 2018

Bacaan selanjutnya

Muda sang nabi                                                                                 Kasyafah

No comments:

Post a Comment