Satu Jiwa Dua Hati - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, February 8, 2018

Satu Jiwa Dua Hati

Minggu, 28 Januari 2018

Aku minta izin ke emak, buat kerja 'pocokan' (nyuci piring) di cafe atau hotel di malam hari. Dari jam lima sore sampai jam dua belas malam. Aku mengajar sampai jam 4 sore, di malam hari aku masih punya waktu untuk kerja lagi. Sedangkan persiapan mengajar bisa aku lakukan selepas subuh. Toh kamu dan jagoan kecil kita lagi di sana, aku tak ada kesibukan lain, selain hal-hal 'sepele' seperti menulis untuk mendidik banyak manusia tanpa ruang kelas. Tapi, emak menolak. Beliau khawatir dengan kesehatanku, hehe. Dan itu artinya aku mesti cari jalan lain untuk memenuhi kebutuhan kita. Seorang sarjana dan guru smk jadi buruh cuci piring? Selama itu halal, aku tak malu.

Selama ini aku berusaha keras agar hidup tak bergantung pada orangtua atau saudara. Tapi memasuki akhir tahun lalu dan awal tahun ini, aku tak menyangka Tuhan begitu mengasihiku, tamparan keras melayang pada kesadaranku. Tentang riba, aku tak boleh bersinggungan sedikitpun. Ya ampun, orang lain saja boleh, mengapa aku tidak? Terkadang aku pikir begitu, tapi tentu itu pikiran dangkal. Dia ingin melindungiku, melindungi kita, agar tak mencoba-coba melangkah keluar dari jalur-Nya. Insya Allah.

Tulisan kemarin aku bercerita tentang dicukupkannya cintaku padamu, dan hari ini, aku mendapat pengajaran lanjutan tentang itu. Kholaqokum min nafsin wahida, kita adalah satu jiwa dengan dua hati. Secara horizontal, salah satu tafsir ayat itu adalah tentang penyatuan jiwa kembali. Kita, tiap manusia-manusia yang berjodoh, adalah satu jiwa yang tercipta dengan masing-masing rasa (hati). Persoalan bahwa satu laki-laki dikodratkan dengan 4 wanita, itu nanti. Ini tentang kita terlebih dahulu.

Sebelum jiwaku meluncur pada jabang bayi yang kelak dinamai dengan namaku sekarang, aku berkali-kali merengek pada Tuhan agar segera dilahirkan. Seperti setiap manusia pada umumnya, meminta pada Tuhan agar dilahirkan ke dunia. Sebelum aku memasuki jasadku, aku diambil kesaksiannya.

Alastu bi robbikum? Tanya Tuhan.
Qolu bala, syahidna. Sungguh, benar. Aku bersaksi.

Sebelum aku turun, jiwaku terbagi entah berapa yang salah satunya adalah kamu. Aku berharap jiwaku hanya terbagi dua, satu adalah aku dan engkaulah bagian lain satu-satunya. Terlebih lagi ketika aku 'qiyamah' (tersadarkan), bahwa aku bukanlah jasad ini, seperti itu juga kamu, dan anak kita. Bukan jasad itu, kita adalah yang ada di dalamnya, yang sama sekali kita belum tahu siapakah kita sebenarnya. Tapi, setidaknya, kita syukuri lebih dulu kebersatuan kita. Tentang dialog jiwa dengan Tuhan ketika di 'wilayah' atas sana, insya allah pada tulisan selanjutnya akan ku bahas.

Bacaan selanjutnya

Menikah itu... biasa saja                                                               Menuju Episode Baru I

No comments:

Post a Comment