Seorang gelandangan - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Thursday, February 8, 2018

Seorang gelandangan

Katanya, hidup ini sekedar sejenak datang, lalu pergi meninggalkan apa yang manusia usahakan. Seperti seorang gelandangan, ke timur dan ke barat ia tak punya alasan, mengapa ia harus merasa memiliki apa saja yang dipunyai. Ia kebingungan._Jon Q_

 Selepas magrib, menjadi agenda harian Jon bersama istrinya melakukan diskusi. Tentang apapun, dan kali ini, karena ia dan istrinya tak mengawali rumah tangga dengan pacaran, ia pelan-pelan 'mengenalkan' dirinya lebih banyak.

 "Pada perempuan yang tak begitu aku kenal," Jon mengawali. "Aku sangat pemalu. Tapi beda lagi kalau diniatkan dakwah, pada wanita-wanita penghibur, wanita-wanita tuna susila, bukan rasa malu yang berada 'di depan pikiranku'. Tapi rasa kasihan, kesedihan,"

"Tapi kau sering bicara di depan orang banyak, dan tak jarang pula 'kan, para pendengar kebanyakan adalah perempuan?" tanya Joan.

"Aku tak melihat 'keperempuanan' mereka," jawab Jon. "Aku melihat mereka sebagai manusia yang sama-sama lapar akan pemahaman. Pria atau wanita, aku tak melihat itu,"

"Tapi kadang kau sok akrab dengan perempuan yang mengenalmu, sedang kau sendiri tak mengenal mereka?"

Jon terkekeh.

"Itu wujud cinta," kata Jon. "Bahwa mengenal itu dengan hati, bukan dengan pengetahuan. Kita gak usah tahu namanya, bagaimana dia, selama dia baik, kita sebaiknya juga lebih baik dari dia,"

"Cinta pada perempuan itu?" tanya Joan.

"Bukan, tapi sesama manusia," jelas Jon. "Karena aku tahu persis bagaimana rasanya menjadi 'gelandangan', tak dianggap, diacuhkan, ketika kita merasa tak punya hak apa-apa meminta kepedulian orang-orang, bahkan teman-teman kita." si Jon paham betul rasanya 'menggelandang'. Dan memang cocok dengan bentuk fisiologis tubuhnya yang kerempeng dan wajahnya yang Madesu.

"Kemarin saja waktu aku mengirim motor ke rumah teman, dia membeli motor itu, aku pulang jalan kaki," lanjut Jon. "Di kota sendiri, di kampung kelahiran sendiri, merasa menjadi seorang gelandangan. Ingin menghubungi siapa, teman, saudara, aku merasa tak punya hak untuk mengganggu kenyamanan mereka. Merasa benar-benar tak punya apa-apa, bahkan hak untuk meminta tolong,"

Terdengar berlebihan. Tapi mungkin itu sisi gelap si Jon di samping beribu-ribu sisi gelapnya yang lain.

Perenungannya tak pernah mau berhenti meski hanya sejenak. Merasa benar apa yang ia baca dalam kitab sucinya, tiap manusia diperjalankan, sirru fil ardli. Seperti bayi yang berawal telanjang, dan berakhir pun sama : apa yang tergenggam di hadapan Tuhan? Terus menerus merasa tak memiliki perjuangan apapun, selain urusan perut sendiri. Tak memiliki apapun, bahkan waktu. Karena seorang gelandangan harus siap ditinggalkan, diusir, tak dianggap, pun jika dibutuhkan tak memiliki hak untuk meminta balasan. Seorang gelandangan yang tak memiliki apa-apa, bahkan sekedar waktu dan tempat merebahkan badan sejenak.

 Bacaan selanjutnya

Pemulung                                                                    Seorang gelandangan di pagi 17 Agustus             

No comments:

Post a Comment