Siapa di antara kita yg merasa sehat? - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, February 18, 2018

Siapa di antara kita yg merasa sehat?

Seorang pendidik pernah sebal pada siswanya sampai-sampai dia menyebut siswa itu sakit jiwa. Siapa di antara kita yg merasa sehat? Anda, kamu, kau, kita? Sebagian besar pasien RSJ juga akan menjawab sama ketika diberikan pertanyaan itu._Jon Q_

Dale Carnegie menulis cerita, salah satu kebutuhan mendasar menurut Abraham Maslow, tentang seorang perempuan sakit jiwa. Ia ditinggal kekasihnya, bermimpi tiap malam melahirkan bayi laki-laki tampan hasil menikahnya dengan pangeran Inggris. Tiap pagi ia menceritakan dengan bahagia pada dokternya.

"Dokter, dokter, im glad last night was borned my baby handsome boy," ucapnya berulang-ulang. Sang dokter ditanya mengapa tak menyembuhkan sakit jiwanya, tapi justru memberi fasilitas pada perempuan itu, termasuk rasa peduli dan PENGAKUAN.

"Aku tak tahu," kata sang dokter. "Dia bahagia dalam dunianya, dan dalam dunia kita ia hanyalah perempuan yg menyedihkan karena ditinggal kekasihnya. Apakah aku harus mengambil kebahagiaannya?"

Anda, saudara pembaca, merasa sehatkah? Anda tahu qolbun salim? Hati yg tanpa kebencian pada apapun, tanpa amarah, tanpa dendam, tanpa harap, tanpa rasa takut, hanya ada cinta yg adil. Apa itu cinta yg adil? Mencintai manusia dengan menyayanginya, mencintai setan dengan tak mengikutinya tanpa membencinya. Tak mengikuti seseorang tak berarti harus membencinya kan?

 Seorang teman pernah merasa bingung, saat saya mengizinkan pemabuk, homo, banci, pezina, bergabung dalam lingkaran diskusi pencerahan. Kami belajar bersama. Jika mereka adalah orang sakit, dan saya adalah dokternya, dimana ada dokter yg hanya menerima pasien yg sehat saja? Konsekuensinya, tentu, sebagian teman menganggap saya homo, pezina, morfinis, atau paling tidak penganut 'rahbaniyah' (orang yg tak akan menikah). Mereka mencoba mengukur kedalaman yg untuk melihatnya saja takut jatuh.

 Kita belajar agar memiliki cinta yg adil. Cinta yg ditempatkan sesuai ruang dan waktunya, tanpa kebencian, tanpa amarah. Oke, oke, pembaca mungkin benci pada pemerintah, golongan anu atau itu, kaum LGBTQ, pada israel, yahudi, zionis, amerika, atau mungkin isis atau syi'ah, yg sangat mungkin itu semua jauh dari tempat hidup kita. Saya ceritakan satu kisah yg saya alami.

Anda punya sekolah? Anda punya jamaah masyarakat kaum lemah? Anda mengurusi anak-anak bermasalah? Yg semuanya jelas lebih dekat dari amerika, dkk, yg anda benci itu?

 Saya punya beberapa saudara, mereka ustadz, yg semangat sekali menggempur sekolah, masyarakat, dan anak-anak kami. Lebaran ini, saya kunjungi mereka, saya sholat ied bersama mereka, saya cium tangan mereka saat salam-salaman. Ibarat pukulan, saya dipukul babak belur oleh fitnah, ejekan, ghibah mereka. Tapi saya yg datangi mereka, saya cium tangan mereka. Pernah baca kisah Umar ibn Khottob sebelum berislam? Rasul berdoa agar Tuhan memberi hidayah pada salah satu di antara Umar atau Abu Jahal, dua orang perkasa yg memusuhi nabi. Dan kita tahu kisah kelanjutannya.

Entah apa yg terjadi dengan bangsa ini. Kita mengatasnamakan kebenaran untuk membenci, memarahi, mencaci, mengutuk, sedang rasul malah mencontohkan mendoakan orang yg membenci kita. Jika itu di dekat kita, ubahlah. Jika kita warga sekolah, pikirkanlah dimana tempat kita dan siapa kita. Jika kita di pabrik, pikirkanlah pabrik, dimana tempat kita dan siapa kita. Itu cinta yg adil, sesuai ruang dan waktu.

Jangan seperti seseorang yg senang berteriak-teriak menganggap dirinya sehat, sedang sebenarnya ia dalam pengobatan sakit jiwa.

Bacaan selanjutnya

Tentang kesabaran yang besar                                                Aku sudah sembuh (waras)

No comments:

Post a Comment