Tuhanku berhala - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, February 6, 2018

Tuhanku berhala

Lebih baik mana, berhenti berdoa dalam arti meminta, lalu berusaha keras dengan tetap yakin bahwa Tuhan itu adil, atau berdoa meminta yang pada akhirnya sama kita juga tetap bekerja? Di sana ada 'gengsi', sekalipun itu pada Tuhan. Serasa, mengapa aku harus meminta jika aku bisa berusaha? Toh doa itu bukan memaksa Tuhan yang sekali doa apa yang kita inginkan terkabul. Yang lebih 'gengsi' lagi, mengapa aku harus meminta pada sesuatu yang tak sanggup segera mengabulkannya. Segera. Ya ampun. Begitu banyak yang bisa kita dapatkan dalam kesabaran, jika kita paham.




Tapi, tentang kerja keras saja kita cuma bisa 'merasa' telah bekerja keras. Kita tak tahu ukuran kerja keras. Apa dengan kerja kelelahan, atau perpaduan antara otot dan otak (kerja cerdas) atau apa. Kita hanya bisa percaya diri, kita mampu berusaha keras, yang ujungnya kita 'menyerah' juga dan berdoa pada Tuhan. Seakan menyamakan-Nya dengan para berhala yang diberikan sesaji pada pagi dan menjelang petang.

Seringkali aku tergoda untuk terus kembali bertanya, pada siapakah doaku ini mengalir? Jika pada-Nya, mengapa kita harus mengucapkan sedangkan Ia bahkan sebelum kita berpikir akan minta itu pun Dia sudah tahu? Siapa yg kita maksud Tuhan dalam setiap doa kita? Apakah 'Allah' di atas langit sana? Nyatanya, di langit manapun, Tuhan tidak ada. Malaikat, bahkan arsy dan kursy juga tak tahu dimana Allah. Ataukah Dzat yang dekat dengan kita dan selalu meliputi kita? Jadi Tuhan mampu kita rasakan dengan diri yang 'ini'? Jika begitu, maka Tuhan terjangkau oleh diri. Bukankah Tuhan yang sebenarnya tak bisa dijangkau selain oleh diri-Nya sendiri? Atau Dzat yang tak bisa kita bayangkan sama sekali? Kalau tak bisa kita bayangkan sama sekali, kita hanya berbekal iman bahwa Dia ada, lalu siapakah yang kita anggap Allah dalam setiap doa kita? Darimana kita bisa memastikannya?

Umah, 22 Januari 2018

Bacaan selanjutnya

Berhala Kabah yang melarikan diri                                         Allah-nya nggak ada...?

No comments:

Post a Comment