Turunan yang lebih tinggi - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, February 10, 2018

Turunan yang lebih tinggi

Manusia tak boleh dibanding-bandingkan. Perbandingan itu termasuk matematika, angka, bukan untuk manusia. Kambing saja tak akan ada yang diciptakan sama persis, apalagi manusia. Semua diciptakan sesuai kemampuannya sendiri-sendiri._Jon Q_

Untungnya, si Jon itu bocah kampung, wong ndeso, dan tak punya teman-teman populer. Jadi tiap omongannya teranggap omong kosong, ngawur, sesat, atau kalau ada yang agak bagus, orang mengira dia kopi-paste, ngutip punya orang, gak orisinil. Hanya teman-teman sesama pengangguran dan Madebu alias masa depan abu-abu seperti di BRN saja yang entah mengapa masih mau berasyik ria menggali keilmuan bersamanya, meski sangat mungkin itu ngarang dan menyesatkan.

"Tapi ada 'kan, mas, seorang anak yang lebih hebat dari ayahnya?" tanya Tum di forum diskusi BRN. "Turunan yang justru lebih tinggi," anak muda yang baru lulus SMA ini sudah mulai sok bermajas seperti si Jon.

"Tidak bisa dikatakan lebih hebat, Tum," Bon menyela. "Karena tiap manusia diciptakan unik, dengan kemampuannya masing-masing."

 "Setuju," Dul sepakat. "Kelinci tak bisa dibandingkan dengan kucing sekalipun larinya sama-sama kencang,"

"Tapi 'kan anak kelinci yang lebih cepat larinya daripada induknya, apa gak bisa disebut lebih hebat?" Lee membela.

"Em...." Bon ingin menjawab tapi nampak berpikir dulu. "Baiknya kita cari kelinci dulu,"

"Lah buat apa, Bon?" Beth sedikit kaget. Kenapa tema diskusi malah melebar. "Kelinci percobaan maksudnya?"

Mereka tertawa. Menertawakan kekonyolan diri sendiri. "Tapi memang tidak ada manusia yang benar-benar diciptakan sama," Beth menambahkan. "Menurutmu, Jon?"

"Iya... begitu," jawab Jon.

"Wez, kayak gitu tok?" Dul yang mengharap Jon bakal bicara banyak agak kecewa.

"Lah ya memang betul apa yang dijelaskan tadi,"

"Ya kan se-enggaknya tambahin lah," Bon melanjutkan. "Katanya ini forum berpikir, biasanya kau ini malah yang memberikan term-term yang bikin kita mikir keras,"

Mereka tertawa lagi. Membayangkan kalau si Jon mulai melemparkan penjelasan-penjelasan bak penyair yang tak bisa 'ditelan' langsung kata-katanya.

"Tidak ada anak yang lebih hebat dari ayahnya," Jon akhirnya mulai berkhotbah. "Seorang anak yang merasa lebih baik dari ayahnya, perasaan itulah justru yang menjadikannya tidak lebih baik dari ayahnya,"

"Kalau term kelinci tadi bagaimana," Lee memulai lagi.

Mereka tertawa. Kenapa balik ke kelinci lagi?

"Itu analogi Lee, Tum," kata Jon. "Kalau kita perhatikan dengan cermat, jangankan manusia, hewan pun tak ada yang diciptakan sama persis. Bentuknya, fisiologisnya, bobotnya, jumlah bulu atau rambutnya, dan seterusnya,"

"Jadi memang perbandingan adalah konsep yang kurang tepat untuk manusia, ya?" tanya Tum yang dari tadi nampak fokus.

"Itu konsep matematika, angka, atau kebendaan," lanjut Jon. "Manusia memang materi, tapi tidak hanya itu."

"Bagaimana konsep perbandingan yang Tuhan katakan dalam Qur'an, Jon?" Beth menyambung. "Langit, bumi, laut, gunung, bintang, dan lain-lain?"

"Itu perbedaan, kita diminta merenungkan perbedaan, bukan perbandingan," Jon melanjutkan. "Justru iblislah yang menggunakan term perbandingan, bukan Tuhan,"

"O, ketika membandingkan api dan tanah ya?" Bon menambahkan.

 Jon mengangguk.

"Bahwa manusia itu diciptakan spesial, dengan misi sendiri-sendiri tapi satu tujuan," Jon meneruskan. "Tapi dunia ini memecahkan, membuyarkan, gagal fokus, pada tujuan besar itu. Anak tak bisa lebih besar dari ayahnya, murid tak bisa lebih hebat dari gurunya, Soekarno tak bisa lebih besar dari Ahmad Hasan, karena tanpa ayah dan guru tersebut kebesarannya belum tentu ada. Dan yang lebih penting, kebesaran jiwa seseorang lahir dari kerendahan hatinya, bukan pada apa yang dinilai orang lain dari diri seseorang tersebut,"

Bacaan selanjutnya

Imam dan makmum yang                                                                        Dirobotkan

No comments:

Post a Comment