Uang adalah sampah (2) - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, February 18, 2018

Uang adalah sampah (2)

Jumat 2 Februari 2018

Ada pelajaran yg tak kita pelajari sejak SD dalam disiplin ilmu IPS atau ekonomi. Sangat penting, tapi tak diajarkan satupun guru ekonomi kita, karena mereka pengajar, bukan bisnismen. Tentang aset dan liabilitas (kewajiban). Aku akan jelaskan pelan-pelan, bagaimana orang-orang kaya, dimanapun berada mereka yang membuat aturan untuk sesamanya. Dan orang miskin tak akan kaya jika tak menggunakan cara mereka.

Apa itu aset? Segala sesuatu yang menjadikan uang masuk ke kantong kita (Robert Kyosaki). Lawannya adalah liabilitas, segala sesuatu yang menjadikan uang kita dikeluarkan. Motor kita, aset atau bukan? Jika itu membuat uang datang, maka itu aset. Jika hanya membuat uang habis, maka itu liabilitas. Dan perhitungan antara besar kecil aset dan liabilitas itulah yang disebut neraca. Batu kerikil di luar rumah kita, aset atau bukan? Umumnya bukan, disebut barang non ekonomis, tak berharga. Nah, kemampuan mengubah barang non ekonomis menjadi ekonomis, menjadi barang yang memiliki nilai jual, atau berharga, itu disebut sebagai ilmu ekonomi. Berpikir bagaimana caranya hal-hal remeh seperti batu kali, kayu pohon, daun-daun kering, sampah, menjadi barang ekonomis itulah keahlian orang-orang kaya. Jika kita bisa, maka kita sangat mungkin menjadi kaya. Tapi sebentar, ada yang perlu kita pahami tentang kekayaan.

Miskin itu baik, kata Caknun. Kaya itu boleh, yg penting jangan bermewahan. Orang kaya tidak mencari kekayaan, orang yang mencari kekayaan adalah orang miskin. Jadi, ketika kita bekerja diniatkan menjadi kaya, maka sesungguhnya kita miskin. Meskipun kenyataannya memang kita miskin, setidaknya tidak seperti itu. Hidup di dunia kok mencari dunia. Hidup di dunia mencari akhirat, lewatnya dunia.

Bagaimana cara 'menanam' sampah bernama uang? Sebagian menyebut berternak uang. Banyak hal. Investasi, perusahaan dunia maya, yang ketika itu menghasilkan, tinggal wariskan saja ke anak agar dilanjutkan. Aku katakan ke siswa-siswaku, tahun ini aku buka empat kemudahan kerja buat mereka. Pertama aku buat lembaga les privat bonus mengaji, ojek siswa sekolah dasar, Networking atai cari dollar dari internet, dan terakhir reseller tanpa beli. Akan aku ajarkan semuanya, gratis untuk mereka. Perusahaannya buat kamu dan anak-anak kita, ilmunya aku sebarkan untuk sebanyak-banyaknya manusia.

Tadi sore aku main ke kakak perempuan yg ditinggal suaminya wafat. Aku instalkan software komputer. Pas diinstal di laptop almarhum, aku seakan disapa beliau (almarhum) merasai nikmatnya berada di sana, tapi memang sementara aku mesti hidup disini lebih dulu. Saat aki merasai itu, dunia sana, kok dunia ini benar-benar tak ada harganya ya. Serasa remeh, tak bernilai. Aku pikir, banyak orang berlomba-lomba dalam harta, sedangkan itu, harta yg banyak itu, saat kita merasai kehidupan disana, sedikit saja, semua itu tak ada nikmatnya sama sekali.


Bacaan selanjutnya

Uang adalah sampah 1                                                       Menjaga rasa hambar pada dunia

No comments:

Post a Comment