Ungkapan cinta semesta - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, February 6, 2018

Ungkapan cinta semesta

Semesta memiliki cara masing-masing dalam mengungkapkan cintanya. Sebagian terlihat menyenangkan, sebagian lagi mungkin kita membencinya. Kucing mengeong, anjing mengguguk, burung berkicau, selama tidak menghancurkan, mengapa kita merasa terganggu?_Jon Q_

"Tapi, apa bukti atau tandanya, Mas," Tum tak merasa puas. "Seseorang berilmu, atau memiliki pemahaman yang kita harus belajar darinya?"

"Apa ukuran seseorang berilmu?" tambah Lee.

"Tak ada manusia yang benar-benar memiliki ilmu, Tum," jawab Bon. "Ilmu milik Allah, manusia tak ada yang memilikinya kecuali para nabi dan rasul,"

"Lah terus apa yang kita pelajari selama ini kalau bukan ilmu?" kejar Tum.

"Sekedar pengetahuan, dugaan-dugaan, asumsi-asumsi atau pernyataan yang harus terus menerus di cek ulang kebenarannya," lanjut Bon.

"Karena itulah kita adakan forum kecil begini," Beth menambahkan. "Kita tak tahu Allah akan menitipkan sedikit ilmunya dari kemesraan pemahaman yang kita gali di sini atau tidak, tapi kita mengharapkan itu,"

"Lagipula, Tum, Kita tak harus belajar pada orang yang katanya berilmu," Dul ikut nimbrung. "Pada kyai, ustadz, sarjana, profesor dan gelar keduniaan lain. Karena tiap manusia atau bahkan apapun di semesta ini memiliki sesuatu yang bisa kita pelajari,"

 "Bagaimana caranya 'mencuri' ilmu pada orang yang tak berilmu?" tanya Lee.

"Jika tiap orang atau bahkan semesta ini memiliki sesuatu yang bisa kita pelajari," tambah Tum. "Apa bukti dari kita agar diri kita paham kita telah atau sedang mengambil pelajaran dari itu semua?"

"Apa kalian pikir kami ini orang-orang berilmu?" tanya Beth balik. "Apakah si Jon yang banyak bicara itu termasuk orang yang berilmu? Seperti cara kalian belajar di sini, begitu pula kita belajar pada orang lain,"

"Tiap orang adalah guru sekaligus siswa sekolah kehidupan, Gandhi," Lee mengutip kata.

"Apa yang kami pahami, dari diskusi selama ini dengan si Jon," kata Dul. "Setidaknya ada dua bukti seseorang berilmu. Bukti nyata adalah karya cipta, buku, kitab, atau apapun. Kedua bukti sifat, yaitu tercipta ulangnya akhlak atau moral yang lebih baik,"

"Itu juga yang akan terjadi pada kami jika terus mencari ilmu?" tanya Tum lagi. "Ilmu gak kita cari, Tum," kata Bon.

"Ilmu diturunkan, dari Tuhan pada jiwa-jiwa yang suci,"

"Jadi, harus berilmu dulu baru berjiwa suci atau sucikan jiwa dulu agar Tuhan berkenan menurunkan ilmu?"

Bon, Dul, Beth saling pandang. Hampir-hampir mereka kewalahan. Si Jon belum tampak, masih diperjalanan. Entah perjalanan apa atau ke mana.

"Dua-duanya." Jawab Beth.

"Bagaimana kita tahu kita berjiwa suci? Bagaimana mengukurnya?"

"Akhlak," jawab Dul gantian.

"Kalau ilmu gak dicari, maka Allah yang kita cari?" tanya Lee.

"Kenapa kita mencari-Nya? Bukankah Dia bilang sendiri, anni fa inni qoriyb, Dia dekat?" Bon kali ini.

"Lalu apa yang kita cari?"

"Dalam tema ini," kali ini Bon menjawab. "Kita mencari diri kita sendiri,"

"Dan itu sebenarnya yang paling rumit," tambah Beth.

"Bagaimana jika kita tersesat?" Tum tak puas.

"Maka kita pakai ungkapan cinta si Jon pada Tuhannya : Allah memahami tiap kita yang mengungkapkan cinta dengan cara yang berbeda. Tak apa kau tersesat selama yang terus kau sebut dan panggil adalah Aku dalam apapun pemahamanmu, manusia,"

Di mana si Jon? Apakah sedang persiapan aksi dua Desember nanti?

Bacaan selanjutnya

 Menggoda setan                                                                       Man ulil amri minkum 

No comments:

Post a Comment