Aku kan selalu menantang-Mu, Tuhan - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Monday, March 5, 2018

Aku kan selalu menantang-Mu, Tuhan

Kau bisa kalah, tapi kau tak boleh kalah. Kau boleh kalah bertarung, tapi kau harus memenangkan perangnya. Terkadang, kekuatan adalah tentang seberapa sanggup kita menahan banyaknya luka. Seberapa mampu kita tetap tertawa menahan panah dan sayatan pedang._Jon Q_

"Kau tahu donat?" tanya Jon padaku. "Kenapa berlubang di tengahnya?"

"Kau sendiri yg menjelaskan padaku," sanggahku. "Pertanyaan seperti itu bernada ratapan kesedihan. Tapi, oke, oke, seberapa cerdas aku tak pernah melampauimu. Kenapa menurutmu?"

 "Tentang kekosongan," Jon menjawab sendiri. Persis dialog dengan orang sakit jiwa. "Ketika hubunganmu dengan Tuhan seakan tak berjejak, tak ada jawaban, dan mengandalkan manusia pun kita tahu itu utopia,"

"Dilema, maksudmu?" aku menanggapi.

"Lebih,"

"Apa satu makna dari pertanyaanmu tadi?" tanyaku balik. "Menantang Tuhan. Jika kita cenderung dalam kebaikan, aku tahu kita tak boleh merasa suci, orang baik bukan yg tak pernah salah, tapi yg segera memperbaiki diri. Kita cenderung dalam kebaikan, kita taat, kita berkorban," Jon mulai berkhotbah. "Aladzina yu'minuna bil ghaibi wa yuqimunasholah wa mima rozaqna, kita beriman, kita sholat, kita membagi rezeki, bukan cuma materi, tapi juga rezeki waktu, tenaga, pikiran, dan ternyata Tuhan tak memberi jawaban, lepaskan semua harapan pada-Nya,"

"Belajar ikhlas maksudmu? Mokhsa?"

"Ya,"

 "Tapi, bukankah keikhlasan adalah yg 'diinginkan' Tuhan?"

 "Iya,"

 "Lah terus?" aku kebingungan.

"Kita merangkak dengan iman kita yg lumpuh terluka menuju derajat kemurnian : ikhlas. Kita mengira itu yg diinginkan Tuhan. Dan ketika kita telah sampai pada puncak derajat itu, kita tahu 'di sana' tak ada siapa-siapa. Di sana hanya ada Dia, satu-satunya yg ada,"

Bacaan selanjutnya

 'Ngonjoki' Tuhan                                                                                  Tuhanku berhala 

No comments:

Post a Comment