Cerita tentang ketegaran - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, March 3, 2018

Cerita tentang ketegaran

Seseorang disebut gagal, karena ia pernah berhasil. Jika ia belum pernah berhasil, maka ia tak bisa disebut gagal. Orang lain boleh menyebutmu gagal, bodoh, pemalas, buruk, tapi jangan katakan itu oleh dirimu sendiri._Jon Q_

Jon diminta memberi motivasi pada siswa-siswa salah satu SMA di kota tetangga. Mereka adalah para siswa yg akan lulus tahun ini. Di tengah lapangan upacara, Jon berkhotbah.

 "Tiga tahun kalian sekolah di sini," Jon mengawali. "Keluar masuk sekolah ini. Tapi pernahkah kalian memikirkan dari apa genteng-genteng di atas bangunan kelas kalian? Dari apa? Tanah liat, ok. Di mana tanah liat itu berada? Di bawah? Ok. Kita menginjak-injak mereka tiap saat tanpa kita sadari,"

"Genteng dari tanah liat yg dulu berada di bawah, sekarang berada di atas, kalian pernah merenungkan itu? Dulu rendah, sekarang tinggi. Dulu tak bisa apa-apa, sekarang ahli. Apa hubungannya dengan kita?"

 "Manusia tercipta dari apa? Min sholsholin kal fakhkhor, dari tanah liat yg diberi bentuk. Genteng dari tanah liat, manusia juga dari tanah. Apakah manusia bisa meraih mimpi yg tinggi? Kalian pernah memikirkan itu? Aku kisahkan sebuah cerita nyata,"

"Ada seorang sarjana, S1, pulang ke kampungnya. Dia lulus, tapi tak ikut wisuda. Kenapa? Karena dia miskin. Kecerdasan tak bisa diukur hanya dengan memakai toga dan jubah. Dia mis...? Kin. Oke. Dia sarjana, S1, kerja apa ketika ia pulang ke kampung halamannya? Dia jadi tukang angon sapi. Mencari rumput dengan becak, memandikan sapi, membersihkan kotoran mereka pagi dan menjelang petang. Dia sarjana S1!"

 "Apa dia punya kekasih? Tak ada yg mau lelaki miskin yg tiap sore bau tlephong (kotoran sapi), pulang dengan tubuh yg lelah. Apa kata orang-orang? Sarjana kok jadi tukang sapi? Sarjana kok mbecak? Sarjana kok Madesu? Mana ilmunya?"

"Dia marah? Tidak. Mau marah pada siapa? Orang-orang? Mengapa orang lain harus mengendalikan hidupnya? Mengapa ia harus hidup dengan penilaian orang lain?"

"Tiga tahun ia terhina, tapi selalu merasa bahagia. Ia sudah tak menginginkan apa-apa lagi. Lalu di awal tahun tanggung jawab besar datang. Ia jadi kepala sekolah SD, ia jadi guru SMK, ia jadi pembicara di forum-forum ilmia, majlis ta'lim, seminar. Siapa dia, kalian tahu? Dia adalah orang yg sedang berbicara di depan kalian,"

"Jangan pernah menyerah. Lihat genteng-genteng itu? Dulu mereka di bawah, mereka diinjak-injak, dibakar. Dan kini mereka di atas. Kita? Mungkin saat ini kita berada di bawah, tapi jika kita terus bekerja keras, sangat mungkin mimpi-mimpi kita tercapai,"

Bacaan selanjutnya

Cerita tentang keterlepasan                                                               Tentang kerendahan hati 

No comments:

Post a Comment