Cerita tentang ketundukan total - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Tuesday, March 6, 2018

Cerita tentang ketundukan total

Barangkali yg disebut hidup itu ketika manusia dapat merasakan derita. Karena kedamaian milik mereka yg telah mati. Tapi jika kehidupan setelah mati itu tidak ada, maka hidup ini tak masuk akal. Siapa yg menghukum manusia-manusia jahat jika dunia dapat mereka beli? Apa yg didapatkan nabi, dan para pengikutnya yg tunduk, termasuk ketundukan mengikutinya dalam pengorbanan untuk orang lain, jika tak ada akhirat?_Jon Q_

Suatu saat Beth pernah berkata tentang hidup Jon yg ramai petualangan. Tentang tunangan si Jon, yg sebaiknya belajar untuk terus lebih kuat. Karena berbeda dengan kehidupan pemuda seumuran pada umumnya, hidup Jon penuh hentakan-hentakan. 'Pertarungan', dilema-dilema besar yg bukan tentang dirinya, tapi tentang hak hidup banyak orang.

Pernah si Jon dalam sholat-sholatnya bertanya, seakan pada junjungannya, sang nabi, "Pada siapa umatmu yg disini engkau titipkan, wahai kekasih Tuhan? Jangan engkau lihat aku, betapa rapuh aku memikirkan diri sendiri saja,"

Lalu seperti janji si Jon pada kekasihnya, malam ini ia bercerita.

 "Kemarin ada reses partai anu, partainya kakak-kakakku dulu," Jon mulai berkisah. "Tentu aku tak dapat undangan. Siapa aku? Tapi di antara petinggi mereka memperhitungkan aku. Dua forum pencerdasan mereka sering memanggilku untuk berceloteh tentang ilmu. Awalnya, aku tak berpikir aku akan 'ditarik' mereka setelah mengasingkan kakakku dalam pergaulan mereka,"

Joan mendengarkan. Raut wajah Jon benar-benar menunjukan kecemasannya.

 "Di satu sisi, aku tak mungkin menolak datang ketika mereka membutuhkan sedikit pemahaman yg Tuhan titipkan padaku. Tapi di sisi lain, aku benar-benar kesal dengan ulah sebagian petinggi mereka. Selanjutnya, ada individu-individu tertentu dalam partai itu yg pernah menjadi donatur sekolahku. Ini mesti pelan-pelan ku jalani,"

"Selama itu adalah jalan pendidikan, aku akan melangkah di sana. Bukan tentang golongan atau ketenaran di tengah masyarakat, ini tentang pencerdasan. Tapi jika sudah menyangkut golongan, dengan tegas aku tak mau beriringan. Apapun alasannya. Tapi ini beresiko pada sekolah itu. Bisa jadi individu-individu tertentu, kader golongan itu, berhenti peduli pada 'rakyatku' di sekolah itu. Bisa jadi aku yg sering bersama mereka akan terfitnah kembali, bahwa aku juga bersama mereka. Mengingat masyarakat sekolah itu sungguh benci pada golongan itu."

"Tapi apakah aku akan berhenti mendidik? Tentu tidak akan. Aku akan terus jalan. Ini tentang ketundukan total pada nabi kita, pada Tuhan. Tentang pencerahan, penciptaan budaya tandingan, tentang lahirnya generasi pembeda, tanpa harus aku melupakanmu. Yg seperti itu, berat ataukah mudah?"

Bacaan selanjutnya

Cerita tentang keterlepasan                                                                             Perpisahan   

No comments:

Post a Comment