Dialog jiwa - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Sunday, March 25, 2018

Dialog jiwa

Kau tahu yg paling menyakitkan ketika sakaratul maut? Ada dua perasaan yg bertarung di dalam diri. Di satu sisi, ada perasaan bahagia yg tak dapat terungkapkan kau akan pulang. Di sisi lain, ada perasaan sakit dari 'sisi dalam sana', kau akan melepaskan semua kenikmatan berada di dunia. Semua kesenangan berhenti, kau tak berada di dunia lagi. Dan rasa sakit itu semakin sakit, atau menjadi sangat sakit, ketika hasrat (keinginan) akan dunia menguasai jiwa._ Jon Q_
"Seperti kau yg telah menghapus nomor telepon teman, atau pertemanan di media sosial, lalu tak peduli lagi," kata jiwa 'di sana'. "Semua akan terlupa. Samar-samar ingat, 'ah, iya, aku pernah mengalami itu..' tapi tak menjadi hal penting lagi. Tak menjadi sesuatu yg 'tinggi' lagi. Atau lebih kasarnya, itu nyaris sebuah kesia-siaan,"

 "Lalu apa yg kau lakukan 'di sana'? Apakah benar Tuhan bicara padamu?"

 "Di sini aku hidup, seperti kau di sana. Makan, minum, tanpa buang air, tanpa sendawa. Aku dilayani amal baikku, dan diganggu amal burukku, melanjutkan hidup, perjalanan yg sungguh sangat panjang," kata jiwa 'di sana'.

"Tentu, malaikat nampak di depan 'mataku', dan suara Tuhan sangat jelas daripada ketika di dunia yg samar-samar terdengar dari dalam jiwa,"

 "Bagaimana dengan mereka yg baik saat di dunia? Yg buruk?"

 "Yg menentukan balasan semuanya adalah Tuhan. Bisa jadi yg kita anggap amal kebaikan saat di dunia, adalah amal keburukan dalam pandangan-Nya. Kau akan melihat, baik dan buruk di dunia bisa saja bertolak belakang dengan disini. Semakin besar keburukan yg dilakukan, semakin besar ia terganggu oleh dirinya sendiri dalam perjalanan,"

 "Bagaimana dengan agama? Apakah semua mendapat kedamaian?"

 Ia tersenyum.

 "Mereka yg muslim, mengikuti cahaya terang di kejauhan depan sana. Kami menganggap itu sang nabi." Ia tak menjawab lagi.

 "Bagaimana dengan nabi yg lain? Apakah benar selain Islam tak mendapat kedamaian?"

 "Semua bergantung pada kebaikan dan keburukan, apapun keyakinannya. Hanya saja, cahaya-cahaya yg di depan mereka, mungkin nabi-nabi mereka, semua mengikuti cahaya besar yg kami anggap sebagai sang nabi tadi,"

 "Siapakah yg paling sial?"

 "Ia yg saat di dunia tak paham mana kebaikan dan keburukan, lalu menikmati kesenangan, mati dengan keburukan begitu besar, lalu meratapi dunia yg ditinggalkan, meski ia paham ternyata dunia adalah sesuatu yg nyaris seperti sampah,"

 "Yg paling beruntung?"

 "Mereka yg saat hidup telah mendapatkan kedamaian, belajar memenuhi kebaikan meski mengorbankan kesenangan diri. Mereka diganggu keburukan, tapi tak merasa terganggu. Bahkan, keburukan seringkali merasa kesal dan menyerah untuk mengganggu. Mereka berjalan dalam kedamaian,"

#konsultasipsikisgratis

Bacaan selanjutnya

Menjaga rasa hambar pada dunia Sang pencari

No comments:

Post a Comment