Dialog tentang rasa - Sambil ngopi ☕

Pilihan Bacaan

Saturday, March 31, 2018

Dialog tentang rasa

"Aku rasa, diskusi tentang ini telah selesai, Beth," kata Jon. "Aku tak mungkin melanggar prinsipku. Seorang pria ternilai dari prinsip hidupnya,"
"Mengapa kau tak mencoba mengungkapkannya kembali? Bisa jadi kali ini ia baru menyadari seberapa berharganya kau," Beth menanggapi. "Lalu aku harus melanggar prinsip hidupku? Mengapa ia tak mengatakannya jika menginginkanku?" "Mungkin ia malu,"
"Lho bukankah itu bukti, rasa malunya lebih besar daripada keinginannya memilikiku? Hiduplah bersama rasa malumu," "Sepertimu yg terpenjara prinsip bodohmu itu, ya?" Beth tertawa. "Aku telah mengungkapkannya, aku datang, tapi ia menutup pintu hatinya. Mengapa aku harus mengetuk pintu itu lagi jika pintu-pintu yg lain sedang menunggu?" "Tapi, Jon, sampai saat ini kau belum memasuki satu pintu pun. Kau tak sadar?" "Lho, mengapa aku yg harus mendatangi pintu jika aku adalah rumahnya?" "Sombong benar kau ini," Beth mendesah. "Kau tahu rumah apa yg sedang ku bangun, sampai-sampai tak sempat memikirkan pintunya?" "Apa?" "Tentang masa depan banyak orang, tempat berlindung banyak manusia, tempat dimana orang dapat menyebutnya surga," "Mungkin benar kau tak cocok hidup di sini, Jon," kata Beth. "Kau terlalu tinggi. Kau tak membumi,"

#konsultasipsikisgratis

Bacaan selanjutnya

Pure loving It's oke, bya-bye

No comments:

Post a Comment